Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 34


Bunga mendapat telepon dari ibunya bahwa bapaknya mengalami kecelakaan. Motor yang dikendarainya tertabrak truk pasir, motornya ringsek dan pak Wahyu dalam keadaan kritis.


"Bapak Sas... Bapak." lalu tangisnya pecah seketika.


"Bapakmu kenapa?"


"Bapak kecelakaan. Aku... aku ingin pulang sekarang," jawabnya terbata karena menahan tangis.


"Oke, kita berangkat sekarang."


Mereka berdua berangkat saat itu juga, sepanjang perjalanan Bunga tak henti-hentinya menangis. Sastra berusaha tetap tenang mengemudikan mobilnya karena jika dia ikut panik maka takut akan membahayakan mereka berdua.


Setelah sampai di tempat tujuan, Sastra langsung melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit. Dia memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah disediakan dan Bunga langsung turun berlari masuk ke dalam Rumah Sakit, Sastra mengunci mobilnya dan langsung menyusul masuk.


Bunga mencari-cari keberadaan ibunya, dan matanya melihat si kembar sedang menangis memeluk ibunya, dia langsung menghambur menghampiri ibu dan adiknya.


"Ibu...."


"Bunga." Bu Marni langsung memeluk putrinya dan menumpahkan tangisnya disusul sikembar yang juga memeluk mereka.


"Bu bagaimana keadaan bapak?" Bunga bersuara setelah mengurai pelukan mereka.


"Ibu belum tahu, Ibu juga belum diperbolehkan melihat keadaan bapak. Tadi Ibu mendapat telepon dari polisi yang membawa bapakmu ke Rumah Sakit dan langsung mengabarimu saat itu juga." Bu Marni masih terlihat shock dengan wajah memucat.


"Tante, apa yang sebenarnya terjadi?" Sastra akhirnya ikut bertanya sambil menormalkan napasnya setelah berlarian menyusul Bunga.


"Polisi mengatakan pada kami bahwa bapak tertabrak truk pasir yang oleng hingga terpelanting dan terlempar jauh. Pengemudi truk itu meninggal di tempat karena setelah menabrak motor bapak truk itu tidak terkendali lalu menabrak pagar jembatan dan terjun ke sungai," tutur Deri dan Devi sambil terisak.


Kemudian ada beberapa Dokter yang datang menghampiri mereka.


"Saya Dok." Bunga langsung berdiri.


Bapak Wahyu mengalami pendarahan internal yang sangat parah, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan berkata lain. Mohon maaf yang sebesar-besarnya dan kami harap keluarga bisa menerima dengan tabah.


Bunga yang mendengarnya merosot ke lantai dengan air mata yang mengucur deras, sedangkan Bu Marni langsung pingsan saat itu juga. Deri dan Devi menangis meraung-raung saat mendengarnya dan panik melihat ibunya tak sadarkan diri.


Sastra yang melihat Bu Marni pingsan langsung memanggil perawat meminta pertolongan dan berusaha menenangkan si kembar agar bisa menjaga ibunya yang tengah pingsan. Sastra menghampiri Bunga yang sedang menangis sesenggukan lalu memeluknya berusaha menenangkannya.


"Sas aku... aku ingin melihat bapak sekarang hiks hiks?" ucapnya lirih di sela-sela Isak tangisnya.


"Kamu yakin?" Sastra meremas lembut bahu Bunga dan pertanyaannya di sambut anggukan oleh sang kekasih.


"Baiklah kita temui bapakmu sekarang, aku akan menemanimu." Sastra membantu Bunga untuk berdiri. Sebelum pergi Bunga menghampiri adik-adik-adiknya sebentar.


"Deri, Devi. Kakak mau melihat Bapak, kalian jaga Ibu ya. Setelah selesai nanti gantian Kakak yang menjaga Ibu dan kalian bisa melihat bapak." Bunga berpesan pada adiknya kemudian langsung menuju kamar jenazah.


Saat melihat pintu yang bertuliskan kamar jenazah Bunga merasa tubuhnya sudah tidak punya tenaga lagi untuk melangkah, tetapi dia harus kuat karena ibu dan adiknya membutuhkannya untuk tetap tegar.


Bunga dan Sastra melangkah masuk, perawat menunjukkan dimana jenazah pak Wahyu berada. Bunga membeku, tangannya bergetar hebat saat mencoba membuka kain putih yang menyelimuti tubuh bapaknya yang telah terbujur kaku.


Saat kain itu tersibak, terlihatlah wajah sang bapak. Tangisnya kembali pecah, Bunga memeluk tubuh yang sudah tidak bernyawa itu dan menangis meraung raung dengan pilu.


"Pak... kenapa Bapak pergi secepat ini... hiks hiks kenapa harus dengan cara seperti ini Pak. Bahkan aku belum sempat membahagiakan Bapak." Bunga terisak-isak menumpahkan segala kesedihan.


Sastra mengusap-usap lembut punggung Bunga yang sedang menangis dan membiarkannya meluapkan kesedihannya penuh pemakluman. Ia juga pernah kehilangan ibunya. Sosok yang sangat penting dalam hidupnya. Jadi sedikit banyak Sastra tahu bagaimana perasaan Bunga saat ini.