
Sastra juga sama terkejutnya, ia tidak menyangka ternyata istrinya bisa berubah sangat galak saat dirasa ada yang mengganggu miliknya. Sastra merasa senang dan bahagia saat Bunga bersikap begitu, dirinya merasa dicintai dan berarti.
Caroline memegangi pipinya yang tadi ditampar. Dia bangkit bermaksud menjambak rambut Bunga, tetapi belum juga tangannya sampai Bunga sudah meraih dan memelintir tangan wanita itu dengan teknik beladiri yang dipelajarinya akhir-akhir ini.
"Awww... sakit... awww... heh lepaskan tanganku j*lang!" Caroline berteriak dan menyentakkan tangannya berusaha melepaskan cekalan Bunga.
Bunga melepaskan cekalannya sambil mendorong tubuh Caroline hingga tersungkur ke lantai.
"Mengataiku j*lang? Apa tidak terbalik. Justru anda yang ****** Nona! Apa Anda tidak malu berusaha menggoda suami orang? apakah foto di dinding itu masih kurang jelas di mata Anda!" Bunga menunjuk pada foto pernikahannya yang berukuran sangat besar terpanjang di dinding ruangan kantor Sastra.
Belum sempat Caroline menjawab, para security beserta Tommy telah datang dan langsung menyeret Caroline keluar dari ruangan itu.
"Bawa dia keluar! Dan Ingat jangan biarkan dia masuk ke kantor ini lagi." Sastra memberi perintah.
"Baik Pak." Para security membungkuk dan membawa Caroline.
"Sas, kamu gak bisa giniin aku! Heh Satpam sialan, lepaskan tangan kotor kalian dariku! Aku bisa jalan sendiri, lepaskan!" Caroline berteriak dan membentak para security yang membawanya secara paksa untuk keluar dari sana.
Tommy yang masih berada dalam ruangan merasakan aura mencekam yang merebak dari istri bosnya. Dia bergidik ngeri melihat tatapan bunga, tatapannya ibarat bom yang siap meledak saat itu juga, untuk itu si sekertaris memilih segera undur diri dan pergi sana.
"Jika tidak ada hal lain lagi, saya akan kembali ke meja saya Pak." Tommy membungkuk memberi hormat yang dibalas anggukan oleh Sastra.
Setelah pintu tertutup tiba -tiba Bunga menyergap Sastra dan menciumnya dengan kasar membabi buta, ia bahkan mengigit bibir suaminya itu seakan ingin menghapus jejak bibir Caroline yang sempat menempel tadi.
Sastra terkejut namun ia membiarkan istrinya melakukan itu, ia mengerti saat ini Bunga sedang emosi karena terbakar cemburu.
Ia membawa istrinya kedalam dekapannya, Bunga memukuli punggung Sastra dan menangis dipelukannya. Diciumnya pelipis Bunga sekilas.
Tangan Bunga masih memukul mukul punggung suaminya sambil terisak. Setelah beberapa saat tangisnya mulai mereda, Sastra mengurai pelukannya dan diusapnya air mata istrinya.
"Siapa dia?" tanya Bunga penuh selidik.
"Namanya Caroline, dulu kami pernah satu kampus saat kuliah. Kami memang punya hubungan kerja karena dia salah satu pengacara dari tim lawyer perusahaanku, tapi aku tidak pernah punya hubungan spesial dengannya. Kamu bisa tanyakan pada Tommy ataupun Nadine jika kamu tidak percaya dengan ucapanku, Nadine juga mengenalnya karena kami kuliah bersama-sama waktu di Amerika," jelas Sastra dengan sabar menuturkan.
"Tapi kenapa tadi dia bisa berada dipangkuanmu!" Bunga masih berapi-api.
"Semua itu karena kegilaan dia sayang. Caroline selalu mengejarku sejak dulu tapi aku tidak pernah berminat padanya, apa kamu mau mengecek rekaman kamera CCTV? untuk melihat kejadian sebenarnya? kuharap kedepannya jika kamu tak sengaja bertemu dengannya, jangan terpengaruh ataupun termakan oleh kata-katanya."
"Kali ini aku akan memilih mempercayaimu, jangan pernah menyalah gunakan kepercayaan yang kuberikan padamu, karena jika kepercayaan sudah rusak maka akan susah untuk memperbaikinya."
"Untuk bisa bersamamu aku harus melalui jalan panjang yang berliku, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kepercayaanmu padaku." Sastra merapikan rambut Bunga yang acak-acakan.
"Lain kali jangan pernah membiarkan dirimu disentuh wanita manapun selain aku, entah itu disengaja ataupun tidak!" Bunga masih diliputi amarah yang meluap-luap.
"Siap laksanakan ratuku." Sastra mengecup kening Bunga. "Apa itu makan siangku?" Sastra menunjuk kotak makan yang tadi ditaruh Bunga di meja.
"Iya, makanlah, tadinya aku ingin makan bersamamu tapi karena wanita j"lang tadi selera makanku langsung hilang!"