
Bunga keluar dari ruangan praktek Nadine dan menyerahkan resep ke apotek yang berada dalam klinik, lalu dia duduk menunggu obatnya siap.
"Lia, kamu sendirian? mana Ibumu?" Seorang pria menyapa lalu duduk di samping Bunga, tapi tidak duduk terlalu dekat karena dia tahu kalau gadis ini mempunyai gangguan kecemasan terhadap laki-laki.
"Eh... selamat sore Dokter Rama, hari ini aku pergi sendiri kesini." Bunga menjawab dengan berusaha tetap tenang dan menekan rasa paniknya.
"Eits, bukankah aku sudah pernah bilang padamu jangan panggil aku Dokter karena kamu bukan pasienku. Panggil Kakak saja, Kak Rama," ucapnya dengan mengulas senyum yang mempesona menghiasi wajah tampannya.
"Iya deh, maaf Kak Rama."
"Nah gitu dong, kamu sudah bertemu kakakku?" tanya Rama.
Rama adalah adik Nadine, mereka sudah sering bertemu semenjak Nadine memutuskan untuk membantu Bunga. Rama juga dokter spesialis psikiatri, dia tahu semua hal yang terjadi pada Bunga dari Nadine, hanya saja karena Bunga mempunyai gangguan panik terhadap laki-laki jadi hanya Nadine yang bisa berkomunikasi secara mendalam dari hati ke hati dengan Bunga.
"Sudah, aku sedang menunggu obatku." Bunga menjalinkan jari jemarinya untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Kamu pulang naik apa?" Rama kembali bertanya.
"Naik angkutan umum."
"Apa kamu baik-baik saja naik angkutan umum?"
"Tadi saat kesini aku juga berangkat sendiri naik angkutan umum, memang tidak mudah, tetapi aku berhasil mengatasi kepanikanku,"
ucap gadis itu sambil tersenyum.
"Tapi ini sudah sore, bagaimana kalau ku antar pulang? kamu bisa duduk di kursi penumpang, aku hanya ingin memastikan kamu pulang dengan selamat." Rama mencoba meyakinkan.
Kemudian terlihat Nadine sedang berjalan menuju apotek dan melihat mereka berdua, Nadine menghampiri dan duduk di samping Rama. "Ram, kamu lagi apa disini? bukannya hari ini kamu ada jadwal praktek di Rumah Sakit Wira Medika?"
"Aku sudah selesai kak, dan langsung kesini karena ingin melihat seseorang," jawab Rama.
Nadine memicingkan matanya pada sang adik dan dia langsung tahu seseorang yang di maksud Rama. "Sudah ketemu sama orangnya?"
"Sudah, nih orangnya." Rama mengarahkan telunjuknya pada Bunga membuat Bunga sedikit tersipu.
"Dasar modus kamu, awas jangan macam-macam sama Lia!"
"Aku enggak macam-macam kok, cuma satu macam aja sama dia." Rama terkekeh.
"Ah aku punya ide, Lia bagaimana kalau kamu pulang diantar Rama saja? mengingat obrolan kita tadi, jika kamu ingin mengatasi gangguan panikmu maka kamu harus mencoba berdekatan dengan laki-laki." Nadine memberi saran.
Kemudian Nadine berpindah tempat duduk di samping Bunga dan mengenggam tangannya, "jangan takut, aku jamin kamu aman bersama Rama karena dia juga seorang dokter dengan bidang yang sama sepertiku. Obat terbaik untuk menyembuhkan trauma adalah menghadapi trauma itu sendiri," ucapnya meyakinkan Bunga.
Setelah apoteker menyerahkan obat, Bunga langsung mengikuti Rama ke tempat parkir. Rama membukakan pintu kursi penumpang lalu Bunga masuk, ia menutup pintunya dan menyusul masuk duduk di kursi depan.
"Aku akan jadi sopirmu hari ini, kemana tujuan Anda nona cantik?" goda Rama.
Bunga tertawa pelan, Rama memang selalu membawa aura yang ceria disekitarnya.
"Maaf, aku sudah tidak sopan, apa aku pindah saja ke depan?" Bunga merasa tidak enak pada Rama
Rama menoleh kebelakang. "Aku tidak keberatan jika kamu lebih nyaman seperti ini?"
"Bukankah aku harus mencoba? Aku harus berusaha lebih keras agar kembali normal."
"Kamu yakin?" tanya Rama kembali.
"Iya, aku ingin mencobanya," ucapnya penuh tekad dan semangat.
"Baiklah, tapi jika sudah terasa sangat menggangu segera beritahu aku."
Bunga mengangguk lalu membuka pintu dan berpindah duduk di kursi depan.
"Kita berangkat sekarang?"
"Tahun depan saja Kak!"
"Hahaha... ternyata kamu itu tukang lawak ya!" Rama segera melajukan mobilnya meninggalkan klinik.
Mobil Rama sudah sampai di depan toko kuenya Bunga, namun ia sedikit terkejut saat melihat gadis disampingnya itu agak pucat dengan peluh yang membasahi pelipisnya.
"Lia, kamu baik-baik saja?" Rama menatapnya khawatir.
"Aku baik-baik saja, aku rasa sedikit demi sedikit aku mulai bisa mengatasi kepanikanku," ucap gadis itu penuh keyakinan.
"Kamu ingin meminum obatmu?" Rama terlihat khawatir.
"Tidak, aku ingin mencoba untuk tidak tergantung pada obat penenangku lagi."
"Baiklah, tapi jangan terlalu memaksakan diri."
"Aku tahu." Bunga segera turun dan mengucapkan terimakasih.