Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 105


Rama merasakan amarah membakar dirinya dan mulai menguasai akal sehatnya, lalu terlintas hal gila dibenaknya. Jika dengan cara baik-baik dia tidak bisa mendapatkan gadis itu, maka dia akan melakukan hal ekstrim untuk membuat Bunga tidak bisa pergi darinya. Obsesinya sudah benar-benar membutakan mata hatinya.


Rama membelokkan mobilnya keluar dari jalur yang seharusnya dilalui. Bunga melihat keluar jendela dan dia merasa ini bukan jalan menuju ke tokonya.


"Kak kita mau kemana? Ini bukan arah jalan pulang?" tanya Bunga sembari melihat sekeliling.


"Oh ini, aku harus ke suatu tempat karena ada keperluan mendesak dan tidak bisa di tunda, kamu tidak keberatan kan kalau ikut dulu sebentar? Setelah selesai aku akan langsung mengantarmu."


"Tentu saja, aku tidak keberatan kok." Bunga tersenyum tulus pada Rama.


"Ini minumlah, aku membelikan jus jeruk kesukaanmu, kamu tadi tidak sempat minum di cafe kan?" Rama menyodorkan sebotol jus kepada Bunga.


"Terimakasih Kak." Bunga menerima botol jus jeruk itu dan meminumnya. Lama kelamaan Bunga merasa kepalanya pening dan matanya berkunang-kunang.


"Kak, kenapa ya kepalaku kok pusing?" Bunga memegangi kepalanya.


"Mungkin kamu ngantuk, jadi lebih baik kamu tidur saja, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan."


"Sepertinya benar, aku akan tidur sebentar."


"Tidurlah." Rama tersenyum menyeringai menakutkan dan mengerikan, sebenarnya apa yang sedang dipikirkannya sekarang ini?


Jus jeruk yang diberikannya pada Bunga sudah dicampur dengan obat tidur. Dia memasukkannya saat Bunga pergi sebentar ke toilet sebelum naik ke dalam mobil.


Rama membawa mobilnya ke tempat yang sepi agak jauh dari pusat kota dan mobilnya berhenti di sebuah rumah tua. Dia membopong Bunga dan kemudian masuk ke dalam rumah itu yang disambut oleh seorang pelayan wanita yang sudah tua.


"Mbok, kamarku sudah disiapkan?"


"Sudah Den, kalau sudah tidak ada keperluan lain mbok mau pulang kerumah, besok pagi Mbok akan kembali."


"Pulanglah. Dan untuk besok tidak usah datang dulu, aku sedang tidak ingin diganggu. Saat pulang jangan lupa mengunci pintu depan dan pintu gerbang."


Wanita tua itu melihat ke arah gadis yang terlelap di pangkuan Rama, sebenarnya siapa gadis cantik ini pikirnya? Ini adalah pertama kalinya Rama membawa wanita ke villa lama keluarganya ini, tapi dia tidak mau ikut campur terlalu dalam urusan tuan mudanya.


Rama membaringkan Bunga di tempat tidurnya kemudian ikut berbaring bersisihan, disentuhnya wajah Bunga dan kelembutan kulit gadis itu langsung menggoda dirinya.


"Maaf harus melakukan ini, aku tidak ingin kalau kamu sampai kembali pada Bang Sastra, setelah semua yang kulakukan untukmu aku tidak rela untuk membiarkanmu lepas dariku."


*****


Sementara itu Bu Marni mulai khawatir. Sudah hampir jam sebelas malam tapi Bunga masih belum pulang juga, dia sudah menghubungi ponsel Bunga berkali-kali namun masih tetap tidak di angkat. Bu Marni juga mencoba menghubungi Rama tetapi nomornya tidak aktif, sepertinya ponselnya di matikan.


Ia kemudian mencoba menghubungi dokter Nadine, tetapi tidak diangkat. Nadine yang sudah tertidur tidak menyadari ponselnya menyala karena menggunakan mode silent di ponselnya.


Bu Marni semakin panik, lalu ia teringat nomor Sastra. Sastra pernah memberikan nomor kontak padanya ketika sehabis dipukuli Devi, ia bilang siapa tahu ada keadaan darurat Bu Marni bisa menghubunginya.


Akhirnya Bu Marni memutuskan mencoba menghubungi Sastra dan beruntung panggilannya diangkat.


"Hallo." Terdengar suara Sastra yang parau seperti habis menangis.


"Nak Sastra, ini Ibunya Bunga, maaf malam- malam mengganggu."


Sastra langsung tersadar saat Bu Marni menghubunginya, padahal barusan dia sudah menghabiskan beberapa gelas wine.


"Ada apa Tante?"


"Begini Nak. Tadi Bunga pergi untuk makan malam dengan dokter Rama, tetapi hingga sekarang Bunga masih belum kembali. Bunga tidak mengangkat ponselnya dan nomor Dokter Rama tidak bisa dihubungi, Ibu khawatir mereka mengalami kecelakaan." Bu Marni terisak.


Sastra langsung tersentak dan bangun dari duduknya. "Tante tenang dulu ya, saya akan mencarinya sekarang juga."


Sastra langsung menghubungi semua orang-orangnya yang ada Banjarmasin untuk langsung melakukan pencarian, informasi yang didapat dari bodyguardnya bahwa mobil Rama sudah meninggalkan cafe sejak jam sembilan. Para bodyguard tidak mengikuti mobil Rama karena biasanya juga Rama langsung mengantar Bunga pulang.