
"Bunga ayo kita duduk, aku akan memeriksa kondisimu." Nadine membawa Bunga untuk duduk di sofa.
"Dokter panggil aku seperti biasanya saja, panggil aku Lia."
Nadine menatap gadis di depannya kemudian tersenyum hangat.
"Baiklah, Lia bagaimana kabarmu pagi ini?"
"Aku baik Dok."
"Aku ingin bertanya sesuatu yang sangat pribadi, apakah Sastra adalah pria yang selalu ada di hatimu?" Nadine bertanya dengan nada sepelan mungkin dan berhati-hati.
Lama Bunga terdiam, lalu ia mengangguk karena Nadine selalu bilang bahwa dia harus jujur pada sang dokter agar dapat membantunya kembali normal.
"Kamu masih mencintainya?"
Bunga kembali mengangguk.
"Tadi pagi saat kamu bangun dan melihatnya apakah gangguan panikmu datang lagi?" tanya Nadine kembali.
"Tidak."
"Apa kamu gelisah saat bersentuhan dengannya?"
"Sedikit," jawabnya tertunduk.
"Apa kamu merasa nyaman berdekatan dengannya?"
"Aku bingung Dokter, saat berdekatan dengan lelaki lain aku sering panik, gelisah dan kepercayaan diriku menurun drastis, tetapi saat berdekatan dengannya aku merasa aman dan nyaman. Hanya saja terkadang masih terasa sakit saat ingatan masa lalu itu datang kembali," paparnya.
"Syukurlah, sepertinya kondisimu pagi ini baik dan stabil. Cobalah untuk menelaah perasaanmu sendiri agar kamu tahu apa yang kamu inginkan, dan juga obat terbaik untuk trauma adalah dengan menghadapi penyebab masalah itu muncul, jika kamu terus lari itu hanya menyembuhkanmu untuk sementara saja."
"Jika kamu memang benar-benar ingin sembuh, cobalah perlahan-lahan saja. Aku tidak bisa berlama-lama di sini karena harus segera berangkat ke rumah sakit yang baru. Kubawakan pakaian ganti untukmu karena seseorang meminta untuk membawakannya. Sebelum pulang mandilah dulu di sini, lagipula ada bekas jejak liur yang mengering di wajahmu sekarang ini," goda Nadine.
"Yang benar Dokter?" Bunga spontan menyentuh wajahnya dan merona malu saat Nadine berkata begitu.
"Hahaha aku hanya bercanda, mandilah dulu segarkan dirimu."
Di dalam kamar mandi Sastra telah selesai membasuh diri dan mengganti bajunya, lalu membalut tangannya yang terluka dengan kain kasa dan bebat perban.
Bunga berdiri dan melangkah ke dekat kamar mandi bertepatan dengan Sastra yang keluar dari sana. Mereka terlihat canggung dan kikuk.
"Aku... aku mau mandi," ucap Bunga canggung.
Sastra hanya mengangguk dan berjalan menjauh dari pintu kamar mandi.
"Nad, hari ini aku tidak bisa menghadiri rapat direksi rumah sakit. Tidak mungkin aku hadir dengan wajah babak belur begini. Sudah kutugaskan Tommy untuk mewakiliku sementara, sebagai penanggung jawab aku percayakan semuanya padamu. Papaku juga akan hadir di sana, pastikan selalu mendampinginya hingga selesai."
"Oke bos ganteng, jangan khawatir. Semuanya pasti beres, obati lukamu dengan benar! Aku pergi."
"Hemm, hati-hati Nad."
Bunga mandi dengan cepat dan mengganti bajunya dengan pakaian yang dibawa Nadine. Ia keluar dari kamar mandi dan melihat Sastra sedang kesulitan mengobati luka di wajahnya karena tangan kanannya dibalut perban, Bunga dengan cepat bergerak mendekatinya, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti.
Bunga ingin sekali membantu mengobati luka Sastra, tetapi bukankah ia sendiri yang menolak untuk disentuh olehnya? Bunga dibuat gemas melihat Sastra mengobati lukanya asal asalan membuatnya semakin khawatir. Akhirnya Bunga mendekati Sastra dan duduk di sampingnya lalu mengambil cotton bud yang dipegang Sastra.
Sastra menatapnya. Bunga mengambil salep dan ditahan oleh Sastra.
"Aku bisa sendiri." Sastra hendak mengambil alih obat di tangan Bunga.
"Kamu diem aja deh, ngobatin luka di wajah itu harus baik dan benar supaya tidak menimbulkan bekas." Dengan serius Bunga mengoleskan obat di wajah tampan yang kini memar dengan luka di bagian bibir bekas gigitannya semalam, dan juga sudut bibir yang robek akibat perkelahiannya dengan Rama.