
Sastra sudah sampai di kantor pusat Prawira Grup dan langsung menuju ruangannya, ponselnya berbunyi dan ternyata ada pesan masuk dari ayahnya.
Nak, malam ini datanglah ke rumah. Kita makan malam bersama dan ada yang ingin Papa bicarakan.
Sastra langsung menyimpan ponselnya tanpa membalas pesan itu.
*****
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, tampak mobil Sastra memasuki gerbang rumah besar yang begitu luas bercat putih berpagar tinggi dengan pohon-pohon rindang yang terawat rapi disekelilingnya.
Rumah ini adalah rumah utama kediaman keluarga Prawira. Arya Prawira ayahnya Sastra tinggal sendiri di rumah besar ini dan hanya ditemani para pekerja yang mengurus rumah.
Pernikahannya dengan istri keduanya hanya bertahan tiga tahun dan setelah bercerai beliau memilih untuk fokus pada perusahaan. Di usianya yang sekarang ini ia lebih sering terjun dalam program-program kemanusiaan dan kepentingan masyarakat.
Sastra memarkirkan mobilnya tepat di pintu masuk dan langsung di sambut oleh Bik Isah.
"Den Sastra selamat datang di rumah. Silakan langsung ke ruang makan, tuan besar sudah menunggu." Bik Isah adalah pembantu yang paling dipercaya di rumah ini, ia sudah bekerja pada keluarga Prawira sejak Sastra masih di bangku sekolah dasar.
"Iya makasih Bik." Sastra segera menuju ruang makan.
Pak Arya tampak sudah duduk menunggu, dan saat melihat anak bungsunya sudah datang beliau langsung tersenyum dan menyapa. "Bagaimana kabarmu Nak?"
"Aku baik Pa," sahutnya.
"Duduklah, kita makan malam terlebih dahulu."
Sastra menarik kursi dan duduk bersebrangan dengan papanya. Setelah selesai makan malam mereka beralih ke ruang keluarga dan membicarakan masalah perusaahan, lalu Pak Arya mengalihkan topik pembicaraan.
"Sas, kapan kamu akan pulang lagi ke rumah ini Nak? Papa sudah tua, tinggal sendiri di rumah besar ini terasa sepi dan kakakmu lebih memilih tinggal di Singapura karena tidak ingin berjauhan dengan suaminya." Pak Arya menatap putra Bungsunya, sorot matanya memancarkan kesepian.
Sastra menghela napasnya berat. "Papa pasti tahu betul apa alasanku. Entah kapan aku bisa tinggal di sini lagi, mungkin nanti." Hening sejenak.
"Papa minta maaf Nak, maafkan papa." Terlihat guratan kesedihan di wajahnya yang sudah tidak muda lagi.
"Ini sudah malam, aku pamit. Papa jaga kesehatan." Sastra berdiri dari duduknya.
"Sas, Pulanglah kemari kapanpun kamu ingin pulang Nak, Papa dan rumah ini merindukanmu." Pak Arya menatap putranya sendu.
Sastra hanya mengangguk tipis dan langsung beranjak pergi.
*****
Sastra yang saat itu masih remaja begitu terluka ketika mengetahui papanya yang dia banggakan menghianati mamanya yang tengah sakit. Setelah kejadian itu penyakit yang diderita mamanya bertambah parah hingga kemudian mengembuskan napas terakhirnya. Di saat Sastra sangat membutuhkan figur seorang ayah, papanya tidak mempedulikannya dan lebih memilih memperhatikan selingkuhannya.
Akibatnya setelah dewasa, Sastra tidak pernah punya niatan untuk menikah ataupun memiliki anak. Baginya keduanya adalah hal yang sia-sia. Dalam ingatan nya terpatri kenangan buruk di masa lalu, kenangan tentang mamanya yang dikhianati dan dirinya yang diabaikan. Sehingga baginya untuk apa menikah jika ikatan itu ada hanya untuk di khianati? Dan untuk apa seorang anak di lahirkan jika anak itu malah tersakiti?
Seiring waktu berlalu, mungkin rasa marah Sastra terhadap papanya sudah tidak sebesar dulu dan juga di rumah itu begitu banyak kenangan manis bersama sang mama. Hanya saja setiap kali Sastra ingat bahwa istri kedua papanya yang tak lain adalah selingkuhannya pernah tinggal di situ juga, membuat rasa kecewa di masa lalu itu kembali muncul ke permukaan.
*****
Tiga minggu berlalu. Bunga sudah bisa menguasai pekerjaannya tanpa bantuan temannya lagi. Saat ini Bunga tengah beristirahat makan siang di kantin, lalu ia mengecek ponselnya yang berbunyi.
Bunga kaget melihat isi pesannya, itu adalah pesan M-Banking yang isinya tertulis telah masuk sepuluh juta rupiah ke dalam rekeningnya. Bunga kebingungan dari mana uang ini masuk padahal gajian belum waktunya. Lalu ponselnya berdering dan tertera Sastra memanggil.
"Halo Sas." Bunga menempelkan ponsel ke telinganya.
"Bunga, apakah uangnya sudah masuk? aku baru saja mengirim sedikit uang ke rekeningmu."
"Itu bukan gajimu, tapi untuk kebutuhan sehari-harimu," kata Sastra.
"Tapi ini terlalu banyak. Bagiku nilainya tidak sedikit, aku merasa tidak enak menerimanya. Bahkan masa kerjaku baru berlangsung tiga minggu."
"Jangan pernah menolaknya atau aku akan marah. Pakailah untuk kebutuhanmu, kalau masih kurang bilang saja padaku nanti akan kutambahkan," tuturnya.
"Terima kasih banyak Sas, aku akan menganggap semua ini sebagai berkah dan memakainya dengan penuh rasa syukur." Terdengar nada haru dari ucapan Bunga.
"Besok aku akan datang, see you tomorrow baby, I miss you."
"Me too...."
*****
Bunga tengah bersiap-siap pulang dan dia berencana untuk mampir dulu ke pusat perbelanjaan di kota ini sebelum pulang ke apartemen. Bunga memilih naik angkutan umum agar bisa lebih mengenal seluk beluk jalan disini.
Sesampainya di mall dia mencari mesin ATM untuk menarik uang yang kirimkan sastra tadi, Bunga menarik uang secukupnya untuk membeli keperluannya.
Dia membeli peralatan make up, kemudian ke toko buku untuk membeli buku resep masakan dan buku resep membuat kue & pastry. Setelah dari toko buku dia pergi ke swalayan untuk membeli kebutuhan dapur dan bahan baku untuk membuat kue dan sebelum pulang dia makan malam dulu di cafetaria yang ada di sana.
Sesampainya di apartemen, Bunga menyimpan belanjaannya di dapur dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Akhir-akhir ini Bunga sangat suka menonton channel tutorial make up dan channel memasak, hampir setiap malam sebelum tidur dia menontonnya dan tak jarang sampai ketiduran.
Setelah puas menonton bunga beranjak ke kamarnya dia membuka tas belanja dari toko buku tadi. Sambil bersandar di ranjang, Bunga membaca bukunya dengan antusias hingga kantuk itu datang dan diapun jatuh tertidur dengan buku masih di pelukannya.
*****
Sastra memarkirkan mobilnya di basemen gedung apartemen yang di tempati Bunga. Setelah selesai bekerja tadi dia langsung meluncur menuju ke tempat ini karena sudah sangat merindukan gadisnya.
Dia memasukkan kode pintu dan setelah pintu terbuka dia masuk dan langsung menuju kamar Bunga. Dia mendapati gadis yang dirindukannya sudah tertidur lelap dengan memeluk sebuah buku.
Sastra mengambil bukunya dengan pelan dan saat akan menyelimutinya dia baru tersadar ternyata Bunga memakai salah satu gaun tidur yang di belinya. Sebuah gaun tidur berwarna hitam selutut berbahan lace beraksen renda di bagian dadanya dengan tali spaghetti dan model punggung yang terbuka, berpadu kontras dengan kulit kuning langsatnya.
Sastra menelan ludahnya, darah kelelakiannya berdesir hebat melihat kemolekan tubuh Bunga. Inginnya dia menerkam gadisnya sekarang juga, tetapi kesadarannya kembali menguasai saat Bunga tiba-tiba terbangun.
Penerangan temaram dari lampu tidur dan Bunga yang belum sepenuhnya sadar dari kantuknya merasa melihat ada bayangan hitam tinggi tegap di hadapannya. Spontan dia langsung mengambil bantal di sampingnya dan memukuli bayangan itu dengan membabi buta.
Bugh... bugh... bugh.
"Sayang, sayang... ini aku Sastra... ampun."
Di sela-sela pukulannya Bunga mendengar suara bariton pria yang sangat familiar di pendengarannya kemudian ia menghentikan aksinya.
"Sastra....! Kamu ini ngagetin aku, kukira tadi itu kamu maling." Bunga menghentikan pukulannya dengan nafas yang masih berkejaran.
"Maaf, Tadi saat aku datang kamu sudah tertidur." Sastra menjawab sambil mengusap-usap bahunya yang tadi terkena pukulan Bunga.
"Bukannya kamu baru mau datang besok?" tanya Bunga sembari menetralkan napasnya. Kemudian Sastra mendekat dan duduk ditepi ranjang.
"Aku tidak bisa menunggu sampai besok, aku sudah sangat merindukanmu." Sastra berbisik di telinga bunga. Bunga merasakan gelenyar aneh saat napas hangat Sastra menyapu telinganya. Lelaki itu semakin mendesakkan dirinya kemudian berkata.
"Sayang, aku... aku ingin...."