Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 128


Setelah pelepasan yang dahsyat, keduanya masih terengah-engah dengan peluh membasahi sekujur tubuh. Mereka masih saling berpelukan dan Sastra membenamkan wajahnya di ceruk leher Bunga.


Setelah beberapa saat Sastra menggulingkan tubuhnya dan berbaring bersebelahan dengan Bunga, ia menarik tubuh istrinya kedalam dekapannya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Bibir mereka tersenyum, ada kelegaan yang terpancar dari keduanya.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" bisik Sastra.


Bunga mengangguk, kemudian menyelusup di dada Sastra menenggelamkan wajahnya yang merona, ia malu karena tadi mendesah-desah tidak karuan saat mereka berpacu bersama.


"Hey, kenapa bersembunyi?" Sastra terkekeh geli.


"Aku... aku malu." Bunga menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kamu malu karena tadi kamu terus-menerus meneriakkan namaku?" Sastra terkekeh geli.


"Jangan membahasnya!" sanggahnya.


"Kenapa harus malu, justru aku bangga pada diriku karena berhasil membuatmu mendesah dan berteriak seperti tadi," goda Sastra jahil.


Bunga memukul pelan dada suaminya itu. "Jangan terus mengejekku!"


"Hahaha...." Ia tergelak lalu mengecup bibir Bunga.


"Sayang?"


"Hemm?" Bunga hanya menyahuti dengan gumaman.


"Ceritakan padaku bagaimana kehidupanmu setelah memutuskan pergi dariku. Apakah kamu tahu? saat itu aku seperti orang linglung karena kamu menghilang begitu saja, penyesalanku setinggi langit dan sedalam lautan, aku menyesal pernah memperlakukanmu seburuk itu."


"Maaf, pikiranku kacau saat itu. Aku merasa tidak mampu memikul beban seberat itu sehingga memutuskan untuk melakukan hal bodoh. Karena merasa tak sanggup menghadapi kenyataan, aku memilih untuk menjauhimu dan berniat untuk terus membencimu." Bunga menjeda kalimatnya sejenak kemudian membetulkan posisinya berbaring hingga kini mata mereka saling bersirobok.


"Setelah sampai di Kalimantan kami tinggal di pedesaan, di sanalah aku bertemu Dokter Nadine. Hidupku memang tidak mudah, aku sering histeris setiap kali melihat bayi. Bahkan suatu waktu aku pernah mengalami tangan dan kakiku diikat di ranjang selama satu minggu karena ingin mengambil bayi milik orang lain. Sebenarnya semua itu terjadi karena aku merasa sangat bersalah telah gagal menjaga anakku sendiri dan Tuhan lebih memilih untuk mengambilnya kembali dariku," ucapnya dengan tatapan sendu.


"Hei kenapa bersedih, semua telah berlalu, yang penting kita sudah bersama lagi sekarang bukan?" Bunga menangkup sisi wajah sastra dan menggulirkan jemarinya menyeka air mata sang suami.


"Aku benar-benar merasa bersalah karena tidak ada bersamamu di masa-masa sulitmu. Bahkan kamu telah banyak mengalami kejadian pahit karena kebrengsekanku." Terdengar nada penyesalan dari setiap kata-katanya.


"Jangan bersedih lagi suamiku sayang, wajah tampanmu tidak cocok untuk menangis. Kita jadikan masa lalu sebagai sebuah pembelajaran menuju kedewasaan yang sebenarnya, semoga kita bisa mengambil hikmah dari semua yang telah kita alami."


"Terima kasih sayangku untuk semuanya." Sastra mengecup puncak kepala Bunga dan mengeratkan pelukannya.


"Don't cry anymore hubby." Bunga mengecup kening Sastra dan balas memeluknya.


"Sayang?" ucap Sastra.


"Ya?" sahut Bunga.


"Kamu udah ngantuk?"


"Belum, kenapa?"


Tangan Sastra bergerak nakal mengusap-usap punggung telanjang Bunga. "Jika belum mengantuk bagaimana kalau kita membuatnya lagi?"


"Membuat apa?" Bunga mengerutkan keningnya.


"Membuat Sastra junior," bisiknya penuh hasrat di telinga Bunga


"Apa? hmmptt."


Belum sempat Bunga melanjutkan kata-katanya Sastra sudah kembali membungkam bibirnya, mengurung Bunga di bawahnya dan mengulangi pergumulan yang tadi seolah tak ada habisnya.