Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 46


Ini adalah pertama kalinya Bunga ke Bali. Ia sangat ingin membelikan sesuatu yang menjadi ciri khas Bali sebagai cindera mata. Bunga membeli oleh-oleh untuk ibu dan adiknya serta untuk sahabatnya Nana dan Deni, tak lupa dia juga membeli untuk rekan-rekan kerjanya di divisi accounting.


Sastra dengan setia menemaninya dari satu penjual ke penjual lainnya, walaupun terkadang mukanya berubah seram setiap kali ada laki-laki yang melirik kecantikan kekasihnya itu, lelaki itu memeluk pinggang Bunga posesif seakan-akan ingin menunjukkan bahwa dialah pemilik gadis cantik itu.


Selesai berbelanja mereka langsung menuju pantai. Cuaca begitu cerah sore ini membuat pemandangan pantai Bali semakin memukau dan memesona, Sastra dengan skill photografinya yang mumpuni mengabadikan lukisan alam nan indah tanpa terlewat.


Dia juga memotret Bunga dengan berbagai pose bak model iklan, membuat yang di potret malah cekikikan karena merasa menjadi model dadakan. Tak lupa merekapun berfoto bersama dengan mesranya sebagai kenang-kenangan.


Setelah puas berfoto ria mereka duduk di tepi pantai sambil menunggu matahari terbenam, semburat warna jingga sudah tampak membaur di cakrawala, sinarnya begitu hangat menambah suasana romantis bagi dua insan yang tengah dimabuk asmara.


****


Sudah dua Bulan semenjak kepulangan dari Bali mereka berdua makin melewati batas. Saat akhir pekan yang dulu biasanya diisi dengan berbelanja, memasak dan berwisata, sekarang selalu mereka habiskan untuk bergelut di atas ranjang.


Tak jarang Sastra berkunjung ke apartemen Bunga walaupun bukan di akhir pekan, seperti saat ini padahal baru hari Kamis tapi dia sudah tidak sabar ingin segera menemui Bunga. Sastra seperti kecanduan dan kehausan akan rasa yang tak biasa saat memadu kasih dengan gadisnya.


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Bunga sedang berkutat di dapur membuat adonan kue pie coklat, jika ada waktu sepulang bekerja selalu dia habiskan berkutat dengan hobinya membuat kue atau sekadar mencoba resep baru.


"Sas, kok tumben kamu dateng, ini kan belum akhir pekan?" kata Bunga di sela-sela menguleni adonan kue.


"Aku sudah hampir mati karena sangat merindukanmu. Jadi setelah pekerjaanku selesai aku langsung menuju kemari. Lagipula besok ada rapat di kantor cabang, jadi malam ini aku akan menginap disini. Kamu sedang membuat kue apa?" tanyanya.


"Aku sedang mencoba membuat pie coklat dengan menggunakan kulit puff pastry buatanku sendiri," sahutnya sembari kedua tangannya dengan lincah melipat-lipat adonan puff pastry.


Sementara Bunga sibuk dengan kuenya Sastra malah mengendus-endus tengkuk Bunga.


"Sas, bisa diem gak sih. aku sedang membuat kue, jangan menggangguku!" Bunga menggigit bibirnya karena perlakuan nakal Sastra, dia mencoba melepaskan diri dari rengkuhan lelakinya, tetapi Sastra malah makin mengeratkan pelukannya.


"Kamu teruskan membuat kue saja sayang, jangan hiraukan aku, aku hanya sedang menyemangatimu."


"Bagaimana aku bisa berkonsentrasi ka-kalau ka-kamu... seperti ini." Bunga sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi.


Sastra menyeringai karena sudah berhasil memancing Bunga ke dalam kubangan itu kembali. Ia mematikan oven dan menggiring gadisnya ke arah sofa, akhirnya mahligai dosa terlarang itu mereka daki kembali karena tergiur rayuan setan yang menyesatkan.