
"Mbak Lia silahkan masuk, dokter Nadine sudah menunggu." Seorang perawat menyambut kedatangan Bunga di sebuah klinik.
"Terimakasih Sus." Bunga langsung masuk ke dalam ruangan praktek. Saat pintu terbuka Nadine menoleh ke arah pintu dan tersenyum melihat kedatangan Bunga. "Bagaimana kabarmu Lia?"
"Aku merasa lebih baik sekarang." Bunga membalas senyuman dokter dan duduk di kursi yang telah disediakan.
"Mana ibumu?" tanya Nadine.
"Aku datang sendiri Dok," jawab Bunga.
"Wow sungguh kemajuan yang pesat." Nadine bertepuk tangan dengan riang.
"Bagaimana selama di perjalanan tadi, apa kamu melihat bayi? dan apakah kamu duduk berdekatan dengan laki-laki?" cecarnya.
"Hemm." Bunga mengangguk.
"Apa gangguan kecemasanmu datang lagi?"
Bunga menggelengkan kepalanya. "Hanya sedikit, tidak seperti dulu."
"Perkembanganmu sungguh mengesankan, apa kamu masih mengkonsumsi obat penenang yang kuresepkan?"
"Sudah mulai jarang, aku hanya meminumnya jika gangguan kecemasanku sudah terasa sangat mengganggu. Hanya saja aku masih selalu merasa gelisah yang berlebihan jika ada lawan jenis yang mendekatiku."
"Bagus sekali, sebagai Dokter aku sangat senang karena pasienku mau berusaha untuk sembuh. Untuk hal tentang berinteraksi dengan lawan jenis yang masih membuatmu gelisah kita bisa memulainya sedikit demi sedikit agar terbiasa, tidak usah dipaksakan."
"Terimakasih dok, berkat bantuan Dokter, aku bisa lebih baik seperti sekarang ini."
"Aku hanya membantu orang-orang yang punya semangat untuk sembuh, percuma saja aku membantu jika orang tersebut tidak pernah menginginkan kesembuhan. Aku tidak ingin usahaku membantu dan mengobati hanya berakhir sia-sia, jadi kamu harus tetap bersemangat dengan begitu aku akan selalu membantumu," ucap Nadine dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya.
"Akan kuresepkan obat yang dosisnya lebih rendah dari sebelumnya, apa perlu kuantar pulang?" tawarnya.
"Baiklah, aku percaya kalau kamu bisa, hati-hati di jalan dan kabari aku kalau sudah sampai di ruko."
"Baik Dok."
*****
Nadine adalah Dokter Umum dan juga Dokter spesialis psikiatri, Nadine bertemu Bunga saat berdinas di balai pengobatan sebuah desa di Kalimantan satu tahun yang lalu, saat itu Bunga yang baru saja tiba di desa kembali mengalami pendarahan akibat kelelahan di perjalanan karena memang kondisinya belum pulih benar.
Bu Marni begitu panik lalu membawanya ke balai pengobatan di desa itu, Nadine yang saat itu sedang bertugas meminta keterangan sebanyak-banyaknya mengenai pasien agar bisa menanganinya dengan benar.
Bu Marni menceritakan semuanya tanpa terlewat, dan Nadine pun mengerti bahwa bukan hanya fisiknya yang sakit tapi juga psikisnya yang harus lebih diperhatikan.
Nadine begitu prihatin melihat keadaan Bunga saat itu yang hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Ia memutuskan akan membantu gadis itu untuk kembali sembuh.
Bunga dirawat inap di balai pengobatan untuk menghentikan pendarahannya, walaupun fasilitasnya kurang memadai tetapi Nadine dengan telaten merawat dan mengobati Bunga.
Suatu hari ada seorang wanita membawa bayinya berobat ke balai pengobatan, saat Bunga melihatnya ia menjerit-jerit histeris hendak mengambil bayi itu dan meracau bahwa bayi itu miliknya.
Setelah kejadian melihat bayi itu, Bunga kedapatan tengah mengikat seprai di sebuah tiang dekat jendela, dia hampir saja gantung diri namun beruntung perawat datang tepat waktu dan menghentikannya.
Bunga kembali mengamuk membuat para dokter dan perawat sampai kewalahan dan sempat mengikat Bunga di tempat tidur agar tidak terus menerus memberontak.
Setelah fisik Bunga sembuh dan diperbolehkan pulang, Nadine selalu datang ke desa mengunjungi rumah Bu Marni setiap dua minggu sekali. Ia mengajak Bunga konseling dengannya secara teratur agar kondisi psikisnya kembali membaik.
Nadine menyarankan Bu Marni mencari kegiatan yang disukai anaknya agar mentalnya bisa kembali pulih sedikit demi sedikit, dan dengan kegiatan membuat kue Bunga berangsur-angsur membaik.
Setelah Bu Marni memutuskan untuk membuka toko kue, Bunga tidak mengurung diri lagi di dalam rumah dan kembali mau berinteraksi dengan orang lain.