
Mereka saling *******, mencecap dan saling mencicipi kemanisan bibir masing-masing. Napas keduanya semakin memburu bergemuruh saling berkejaran.
Sastra menarik bibirnya, dada mereka naik turun seirama, keduanya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ditatapnya dalam-dalam manik mata istrinya yang hitam mempesona, mata indah itu sayu memancarkan hasrat yang juga mulai naik ke permukaan.
Ia kembali terngiang dengan perkataan Nadine, tetapi sejak tadi Bunga tidak menunjukkan reaksi panik atau ketakutan saat mereka bermesraan.
Digendongnya tubuh Bunga dan direbahkannya dengan benar ke tengah tempat tidur, ditariknya dengan perlahan gaun pengantin yang telah melorot itu lalu disusul dengannya yang mengungkung diatas Bunga.
Mereka kembali saling memagut, kali ini ciuman Sastra dalam dan menuntut. Menumpahkan segala kerinduan setelah sekian lama akhirnya dia bisa menyentuh dan memeluk lagi kekasih hatinya yang telah lama dirindukannya.
Tangan Sastra mulai menjelajahi tubuh Bunga dengan perlahan dan tidak tergesa-gesa, mencumbuinya dengan sabar walaupun hasratnya kini sudah meledak-ledak. Wajahnya turun ke leher dan menghirup dalam-dalam aroma candunya disana kemudian mengecupinya.
Bunga meremas rambut Sastra, sentuhan Sastra membuatnya menggila hingga akhirnya terdengar desahan yang lolos dari bibir Bunga.
"Akh... sayaang...."
Bunga mulai mendesis dan menggelinjang membuat gairah Sastra kian berkobar membakar dirinya.
Sastra telah sepenuhnya memanas, tangannya menarik bra yang dipakai Bunga dengan tidak sabaran. Namum tiba-tiba kepingan-kepingan ingatan saat Rama menarik pakaian dalamnya dengan paksa langsung memenuhi kepala Bunga.
Bunga mendorong dada Sastra untuk menjauh. Napasnya tersengal, sorot matanya memancarkan ketakutan, wajahnya memucat dan tangannya mulai gemetar serta keringat dingin mulai mengembun dan bermanik di dahinya.
Sastra terkejut karena Bunga mendorongnya, ia mengerutkan keningnya. Namun setelah diperhatikan ternyata istrinya sedang tidak baik-baik saja.
Sastra terkesiap, hasratnya yang sudah di ubun-ubun seketika terjun bebas. Dengan cepat menggulingkan dirinya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Bunga yang hanya memakai panty, kemudian merengkuh dan memeluk Bunga ke dalam dekapannya.
"Maafkan aku, maafkan aku sayang, maafkan aku." Terdengar nada rasa bersalah dari ucapannya. Dihujaninya puncak kepala Bunga dengan kecupan penuh kasih sayang, diusapnya punggung istrinya itu dengan lembut.
Tidak ada sahutan dari Bunga, hanya terdengar isakannya dalam kesunyian malam yang semakin larut.
"Maaf, aku... tidak bisa menjadi istri yang sempurna untukmu. Kamu... pasti sangat kecewa bukan?" Bunga mulai berderai air mata.
"Sshhhh, tatap mataku sayang, lihat baik-baik, apakah aku terlihat kecewa hmm?"
Bunga menelisik kedalam iris coklat milik suaminya itu, kemudian ia menggeleng.
"Dengarkan aku, hanya kamu satu-satunya wanita yang paling sempurna untukku, jangan pernah mempunyai pikiran seperti itu lagi oke. Akulah yang seharusnya meminta maaf, karena terburu nafsu aku hampir saja menyakitimu." jemarinya bergerak menyeka air mata Bunga yang berderai.
"Tapi, aku juga ingin menjadi istri yang seutuhnya untukmu, yang bisa melayanimu. Tolong bantu aku untuk sembuh. Dokter Nadine pernah mengatakan padaku, jika ingin benar-benar sembuh maka aku sendiri yang harus menghadapi masalah itu." Tatapan matanya memohon.
"Aku pasti membantumu, apapun keinginanmu aku akan selalu berusaha untuk memenuhinya."
"Kalau begitu, ayo kita... kita ulangi lagi... yang tadi. Aku akan berusaha lebih keras untuk menyingkirkan bayangan mengerikan itu dari pikiranku," ucap Bunga penuh keyakinan.
Sastra tersenyum lembut dan mengecup kening Bunga, "Tentu saja sayang, tapi tidak sekarang. Kamu jangan terlalu memaksakan diri, kita akan melakukannya perlahan-lahan hingga kamu terbiasa, masih banyak waktu." Punggung tangannya membelai pipi Bunga.
"Kenapa? apa kamu tidak percaya bahwa aku bisa?"
"Aku percaya, kamu pasti bisa, tapi untuk sekarang kita lebih baik beristirahat, ini sudah sangat larut, kita akan mencobanya lagi nanti, tidurlah sayang, I love you my wife." Sastra menenggelamkan Bunga dalam dekapan hangatnya.
"I love you too," sahut Bunga yang kemudian juga mengeratkan pelukannya.
*****
Yaaahh gagal maning ye Bang 😆😆😆