Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 111


Rama duduk dihadapan Nadine dengan menundukkan wajahnya.


"Ram, kenapa... kenapa kamu jadi begini?" Nadine bertanya dengan bibir gemetar.


"Maafkan aku Kak, maafkan aku. Tolong keluarkan aku dari sini, bawakan aku pengacara untuk membelaku." Rama mulai terisak.


"Kamu benar berniat memperkosa Lia? apa yang sebenarnya kamu pikirkan. Kamu sendiri tahu bagaimana keadaannya, sebagai seorang dokter kamu pasti lebih memahami kondisinya daripada orang lain, tetapi kenapa kamu tega mempunyai maksud sekeji itu terhadapnya hah?" Nadine mulai menangis.


"Aku melakukannya karena aku sangat mencintainya! Aku melamarnya tapi dia menolakku. Aku ingin dia terikat padaku dan hanya dengan menghamilinya maka Lia akan menjadi milikku dan tidak akan pergi meninggalkanku!" Nada bicara Rama mulai sarat dengan emosi.


"Cinta? Kamu bilang itu cinta? Itu bukan cinta Rama, itu obsesi gila! Kamu tergerus oleh perasaanmu sendiri. Lagipula kamu tahu pasti siapa yang ada di hati Lia bukan? cinta tidak bisa dipaksakan Ram. Apa kamu tidak sadar? yang kamu lakukan bukan hanya menyakiti Lia, tapi secara tidak langsung kamu malah menghancurkan dirimu sendir!" teriak Nadine frustrasi.


"Aku tidak rela dia kembali pada Bang Sastra Kak! Setelah sekian lamanya waktu yang kami lewati bersama. Lagipula aku yang selalu ada di sisinya dan membantunya untuk sembuh, tetapi kenapa hanya ada pria brengsek itu di hati Lia!" Rama membentak kakaknya.


PLAK....


Nadine menampar Rama. "Sastra mungkin memang brengsek, tapi kamu jauh lebih brengsek daripada dia. Kamu jadi pria bejat karena diperbudak oleh nafsu dan obsesimu, seharusnya sekarang kamu sadar dan menyesali semua perbuatanmu!"


Nadine makin berderai air mata, "kakak kecewa padamu Ram, sebagai seorang dokter kita pernah bersumpah membantu pasien-pasien kita untuk sembuh dan kita harus melakukannya dengan ikhlas bukan karena pamrih. Kakak harap kamu bisa mengintospeksi diri, kakak akan memproses kasusmu sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku." Nadine bangkit dan pergi dari sana.


"Kak, jangan tinggalkan aku disini, kumohon keluarkan aku sekarang juga! Aku tidak mau disini, aku tidak mau Kak... Kakak!!"


Rama berteriak-teriak, lalu para polisi segera menyeret Rama kembali masuk ke dalam sel.


Nadine terus melangkah keluar dari ruangan itu tanpa memperdulikan teriakan adiknya. Kemudian dia menghubungi kedua orang tuanya yang ada di Jakarta dan mengabari tentang kejadian yang menimpa Rama


*****


Sastra terbangun, ia melirik jam tangannya ternyata sudah pukul sepuluh pagi. Sejak subuh ia tertidur sambil memeluk Bunga.


Ditatapnya Bunga yang masih terlelap menyelusup di dadanya. Perasaannya membuncah bahagia, Sastra berharap semoga ini adalah awal jalan mereka untuk bisa kembali bersama.


Ia bangun dengan hati-hati agar tidak mengusik Bunga, diselimutinya gadis itu hingga leher dan mengambil guling untuk dipeluk Bunga menggantikan posisi tidurnya tadi.


Lalu ia berjalan keluar kamar dan dilihatnya Bu Marni yang sedang duduk di kursi selasar dekat ruangan Bunga.


"Tante?"


"Nak Sastra." Bu Marni langsung bangkit dan menghampiri Sastra, ia meraih tangan Sastra dan menggenggamnya.


"Terima kasih Nak, terimakasih kasih banyak. kKmu sudah membantu Tante menemukan Bunga," ucap bu Marni tulus.


"Tante tidak perlu berterimakasih, saya sangat menyayanginya dengan segenap jiwa, untuk Bunga apapun akan saya lakukan." Sastra mengulas senyum berlesung pipinya.


*****


Author ucapkan banyak-banyak terimakasih atas apresiasi para readers semuanya yang tetap setia mengikuti cerita ini, terimakasih juga untuk jempol, bintang, vote poin, dan komentarnya, bikin author semakin semangat untuk menulis. Author mohon maaf karena tulisan ini masih banyak kekurangannya, mohon kritik dan saran yang membangun ya. Thank you my beloved readers 🙏 😘💕