
Hai my beloved readers yang kusayangi, ini adalah extra part dari novel Kapan Menikah. Terima kasih banyak untuk apresiasi kalian semua selama ini, juga terima kasih banyak atas dukungan bintang, like, komentar, dan vote poinnya, dukungan kalian sangat berarti bagiku.
With Love
Senjahari
Happy reading readers๐๐
*****
Sepanjang perjalanan pulang, Bunga diam membisu seribu bahasa sambil memalingkan pandangannya keluar jendela, raut wajahnya muram dan berkali-kali menghela napasnya kasar.
Arion yang masih di pangkuan Sastra baru saja terbangun, bocah kecil itu menguap dan mengucek matanya. "Papi...,Lion mau beli mainan sekalang...."
Sastra membetulkan posisi Arion di pangkuannya supaya bisa duduk dengan nyaman.
"Oke, kita beli sekarang, sebentar lagi sampai," ucap sastra sementara tangannya merapikan rambut Arion yang kusut karena tertidur tadi.
Mobil mereka berhenti di sebuah toko mainan, Sastra menuntun Arion untuk turun, pandangannya kemudian beralih pada istrinya yang masih diam terpaku tak bersuara.
"Sayang, ayo turun," ajaknya pada Bunga.
"Aku menunggu di sini saja, tubuhku terasa sangat lelah," sahutnya datar.
Biasanya Bunga adalah yang paling antusias saat membeli segala sesuatu kesukaan putra semata wayangnya, tetapi kali ini dia tampak malas dan tidak bersemangat. Sastra merasa ada yang tidak beres dengan istrinya itu.
"Baiklah sayang, tunggu sebentar kami tidak akan lama."
"Dadah Mami...." Arion melambaikan tangannya pada Bunga yang masih termenung, pikiran kacaunya buyar karena mendengar suara putranya, ia langsung menoleh dan balas melambaikan tangannya
"Dah Rionnya Mami," jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Ayo jagoanku kita masuk." Sastra menggenggam tangan Arion dan bocah itu berjingkrak melangkah dengan riang.
*****
Malam harinya Arion tertidur lebih awal, pukul delapan malam bocah tampan itu sudah terlelap sambil memeluk mainan barunya. Mungkin Arion kelelahan karena sepulang dari acara resepsi ia terus bermain dengan mainan yang baru saja dibelinya tadi siang. Bunga mengecup kening dan pipi gembul putra kesayangannya, menyelimutinya dan beranjak keluar dari kamar itu.
Saat Bunga masuk ke dalam kamarnya terlihat Sastra yang duduk di sofa masih berkutat dengan laptopnya, secangkir kopi hitam yang tadi dibuatnya untuk sang suami sudah tandas tak bersisa, lalu Bunga mendudukkan dirinya bersebelahan dengan Sastra.
"Papinya Rion...."
Sastra langsung menoleh, saking fokusnya ia sampai tidak merasakan ada pergerakan di sampingnya.
"Ah, maafkan aku sayang, sampai tidak menyadari istri cantikku sudah ada di sampingku." Seperti biasa, tatapannya pada Bunga selalu penuh cinta dan memuja.
"Sepertinya pamorku sekarang sudah dikalahkan oleh barang persegi empat itu, bahkan kamu lebih tertarik memandanginya berlama-lama daripada aku." Bunga mengerucutkan bibirnya.
Sastra mematikan dan menutup laptopnya, ia merangkul Bunga ke dalam pelukannya. "Jadi, sekarang istriku ini bahkan cemburu pada benda-benda?" Di matanya, Bunga makin terlihat menggemaskan saat merajuk seperti itu.
Bunga memukul pelan dada Sastra. "Apa kamu baru mengetahui bahwa aku ini orang yang pencemburu?" Bunga memutar bola matanya malas.
Sastra terkekeh, mengecup puncak kepala Bunga dan mencubit ujung hidung bangirnya dengan gemas.
"Sebenarnya ada apa? sejak tadi siang kamu terlihat murung, apa ada masalah, atau aku berbuat salah padamu." Sastra menyelipkan untaian rambut Bunga kebelakang telinganya dan menatap ke dalam iris indah di hadapannya.
Bunga menarik napasnya dan mengembuskannya berat. "Apa benar, dulu... dulu sekali kamu sering melakukan ONS?" Bunga bertanya ragu-ragu.
Deg....
Tiba-tiba hatinya mencelos, Sastra tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari istrinya. Jujur saja ia terkejut entah harus menjawab bagaimana, walaupun yang terjadi di masa lalu itu memang benar adanya