
Bunga memicingkan mata mencela ke arah Sastra.
"Waaah... pagi- pagi otakmu sudah diisi dengan hal-hal erotis, aku heran kenapa kamu bisa jadi CEO dengan isi kepalamu yang seperti itu!" Bunga berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku begini semua karenamu sayang, berdua denganmu di ruangan sempit ini membuat otakku juga ikut menyempit." Sastra menarik tangan Bunga hingga terduduk dipangkuannya lalu merangkul pinggang istrinya itu.
"Eh, jangan begini, dibawah banyak orang dan ibuku juga ada diluar!" Bunga meronta hendak melepaskan diri.
"Siapa yang semalam ngotot ingin mencoba diulangi? Kenapa sekarang malah tidak mau hemm?" goda Sastra.
Wajah Bunga memerah karena mengingat hal itu, tetapi kemudian ia malah mengalungkan tangannya ke leher Sastra.
"Sepertinya usulanmu menarik, mungkin aku memang harus mencobanya di sini." Bunga tersenyum jahil, kemudian ia mendekatkan wajahnya dan mengembuskan napas hangatnya di telinga Sastra, membuat bulu kuduk pria itu meremang.
"You're a naughty wife." Sastra merapatkan dekapannya, ia meraih tengkuk Bunga dan langsung ******* bibirnya. Namun, suara ketukan di pintu menginterupsi keduanya secara tiba-tiba.
Tok tok tok....
"Bunga, itu ada paman dan bibimu dari desa, mereka ingin bertemu dengan pengantin baru katanya," seru Bu Marni.
Mereka berdua kaget dan langsung melepaskan pagutannya.
"I-iya, sebentar lagi kami turun Bu," sahut Bunga.
Keduanya saling pandang dan tergelak bersama, mereka merasa tidak bermoral karena bisa-bisanya bermesraan di saat orang di bawah sedang sibuk-sibuknya dengan aktivitas di pagi ini.
*****
Hari ini Bunga dan Sastra akan berangkat
Mereka duduk di ruang tunggu, Bunga tampak agak pucat dan memilin jari-jemarinya sendiri. Sastra yang melihatnya langsung meraih tangganya dan meremas dengan lembut seolah menyalurkan kekuatan.
Tampaklah Rama datang didampingi para polisi, ia duduk berhadapan dengan Sastra dan Bunga. Wajahnya menunduk, dia tidak berani menatap Bunga. Sedangkan Sastra melemparkan tatapan tajam, saking tajamnya hampir seperti menguliti Rama hidup-hidup.
"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Rama, dia masih tertunduk.
"Kedatanganku kesini untuk berpamitan pada Kakak. Aku akan pindah ke Jakarta, aku juga ingin berterimakasih karena selama ini Kakak sudah banyak membantuku. Tapi aku belum bisa menerima maafmu, mungkin seiring berjalannya waktu bisa menyembuhkan semuanya, semoga kakak bisa kembali menjadi Kak Rama yang kukenal dulu. Aku pergi Kak, selamat tinggal!" Bunga bangkit dan menarik tangan Sastra untuk segera keluar dari sana.
Setelah masuk ke dalam mobil Bunga tampak mengatur napasnya yang tersengal, keringat dingin tampak bermanik di dahi dan pelipisnya.
"Kamu tidak apa-apa?" Sastra mengambil tisu dan mengelap keringat Bunga.
"Aku baik-baik saja!"
Bunga berusaha tersenyum untuk meyakinkan suaminya. Padahal dadanya terasa sakit seperti terhimpit saat tadi bertemu Rama, kebrutalan yang dilakukannya kembali berkelebat, tetapi Bunga bertekad mulai saat ini ia ingin menjadi kuat dan akan melawan segala trauma yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Setelah dari lapas Mereka langsung menuju landasan di belakang RS Wira Medika Internasional Hospital, mereka memakai jet pribadi untuk terbang ke Jakarta.
****
Sore hari mobil yang mereka tumpangi memasuki gerbang rumah keluarga Prawira. Bunga begitu takjub, bahkan mulutnya menganga melihat kemewahan kediaman itu. Ia tidak menyangka ternyata Sastra memang sangat kaya, bahkan Bunga baru tahu keluarga ini memiliki jet dan helikopter pribadi.
Selama ini kehidupan keluarga Prawira sangat tertutup dari media, jadi agak sulit untuk mengetahui tentang informasi pribadi mereka. Bunga hanya tahu bahwa Sastra adalah orang kaya, tetapi semua kenyataan di depan matanya melebihi ekspektasinya.
Nyali Bunga sedikit menciut dan mulai bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia pantas bersanding dengan lelaki yang terlahir dengan sendok perak ini?