
Bunga tidak melepas tatapannya dari suaminya, ia menangkap air muka Sastra yang berubah dipenuhi kecemasan dan kegelisahan.
"Sas...."
Bunga mengeluarkan suaranya di keheningan yang membentang antara mereka berdua, sudah lama sekali sejak Arion lahir Bunga tidak memanggil Sastra dengan sebutan yang seperti itu, biasanya ia akan memanggilnya dengan sebutan papinya Rion."
"I-iya... sayang." Sastra mengusap wajahnya kasar.
"Sebenarnya ada apa sampai kamu bertanya tentang hal yang seperti ini?" ucap Sastra dengan raut wajah gelisah.
"Tadi siang saat di pesta pernikahan Kevin dan Caroline, aku bertemu seseorang yang mengaku bahwa dia teman dekatmu dulu..."
Ucapan Bunga terjeda, ia kembali menghirup oksigen ke paru-parunya dan mengembuskannya perlahan.
"Namanya Anita, dia mengatakan padaku bahwa dulu kamu sering melakukan ONS dan dia adalah salah satunya, apakah itu benar? mungkin semua itu memang hanya masa lalu, tapi jujur, aku merasa sangat terganggu dengan perkataannya tadi siang."
Sastra membolak-balikkan pikirannya, haruskah ia jujur saja pada Bunga, bagaimana jika istrinya itu malah membencinya? Tetapi jika tidak berterus terang dan Bunga malah mendengarnya dari orang lain maka masalahnya akan semakin rumit.
Bagaimanapun juga masalah dalam rumah tangga memang pasti ada saja bukan? Sepertinya lebih baik dia jujur saja, karena bicara sekarang ataupun nanti sama saja bukan, walaupun entah bagaimana reaksi bunga nantinya.
"Kamu mengetahui semua hal tentangku tanpa kecuali. Tapi aku... aku bahkan sepertinya tidak tahu apapun tentang suamiku sendiri, sehingga saat mendengarnya dari orang lain aku merasa seperti orang bodoh. Jadi berterus teranglah padaku, aku ingin mendengarnya langsung darimu bukan dari orang lain yang biasanya ceritanya telah dibumbui sedemikian rupa." Bunga tampak frustrasi.
"Sayang," Satra menelusuri sisi wajah Bunga dengan punggung tangannya, mata mereka bersirobok dan menatap dalam-dalam seolah tengah menyelami hati masing-masing hingga palung terdalam.
"Dulu... aku bukanlah orang baik, aku manusia brengsek dan yang kamu dengar memang benar adanya." Suasana kamar itu kembali hening saat Sastra berhenti bicara.
"Tapi setelah memutuskan menjalin hubungan denganmu aku sudah benar-benar berhenti dan tidak melakukannya lagi. Aku sangat paham jika saat ini kamu pasti merasa sulit unuk memutuskan mempercayai kata-kataku, tapi yang jelas sejak saat itu hingga kini hanya kamulah satu-satunya bagiku. Kamu adalah Bunga yang suci sedangkan aku adalah manusia yang sudah rusak. Maafkan aku sayang, dosaku terlampau banyak, maafkan aku telah mengecewakamu." Sastra mendesahkan napasnya berat dan menundukkan wajahnya.
Bunga masih terdiam, perlahan tangannya terulur menangkup kedua sisi wajah suaminya hingga mereka kembali saling bertatapan.
"Setiap orang mempunyai masa lalu bukan? dan semua orang juga pasti pernah berbuat salah. Aku selalu percaya padamu suamiku, aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kamu memintanya. Aku sangat menghargai kejujuranmu, hanya saja sebagai seorang istri aku ingin menjadi seseorang yang paling mengetahui tentang suamiku dari pada orang lain." Tatapan Bunga yang asalnya dipenuhi tanda tanya kembali berubah penuh kasih sayang.
"Terima kasih sudah menaafkanku yang penuh dosa ini, aku sangat bersyukur Tuhan mempertemukanku denganmu, menjadikanmu pendamping hidupku, dan menjadi ibu dari anakku." Sastra menarik Bunga ke dalam pelukannya.
"Aku juga sangat bersyukur Papinya Rion, memilikimu bagai hadiah terindah bagiku."
Mereka saling berpelukan satu sama lain, rasa lega membuncah di hati keduanya, membuat hati yang bertaut semakin terjalin indah dan kuat setelah diterpa hantaman gelombang.