
Caroline Putri Wijaya, adalah adik dari pengacara utama Prawira Grup yaitu Andrew Putra Wijaya. Berperawakan tinggi semampai dengan kulit putih, rambut coklat sebahu dan wajah cantiknya diwarisi dari ibunya yang keturunan Turki.
Caroline dan Sastra kuliah di universitas yang sama, salah satu universitas bergengsi di Amerika Harvard university. Sastra mengambil jurusan Bisnis sedangkan Caroline mengambil jurusan Hukum.
Sastra Prawira adalah salah satu mahasiswa yang populer dikalangan para mahasiswi di sana. Ia populer karena kecerdasan, ketampanan dan juga kekayaan keluarganya.
Caroline sangat terobsesi pada Sastra. Ketika mereka masih kuliah dulu Caroline rela walaupun hanya sekedar menjadi teman ONS nya Sastra. Bahkan Caroline pernah ribut dan berkelahi di kampus dengan para wanita yang juga mengejar-ngejar Sastra.
Sastra tahu jika Caroline sangat terobsesi kepadanya, untuk itu ia malas bertemu karena Caroline adalah tipe ambisius yang menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai.
Saat Andrew sedang mencari lawyer yang handal untuk pergi ke New Zealand dan terdengar nama Sastra Prawira disebut, Caroline langsung mengajukan diri pada sang kakak untuk menanganinya. Padahal dia sedang menangani klien dengan kontrak yang nilainya cukup besar, tetapi wanita itu rela melepaskannya demi bisa bertemu Sastra kembali.
*****
Setelah kurang lebih delapan jam penerbangan akhirnya Sastra tiba di Auckland Internasional Airport New Zealand.
New Zealand atau Selandia Baru adalah sebuah negara kepulauan di barat daya Samudera Pasifik, kira-kira 1.500 kilometer di tenggara Australia dengan Auckland sebagai kota metropolitan terbesar di negara itu.
Sastra dijemput di bandara oleh pegawai kantor cabangnya dan langsung menuju hotel. Waktu di New Zealand lebih cepat enam jam dari Indonesia, jadi Sastra sampai di New Zealand saat menjelang waktu pagi.
Sesampainya di hotel Sastra ingin beristirahat sebentar sebelum jam sembilan nanti menuju kantor cabang, tak lupa ia mengirim pesan kepada Bunga bahwa dirinya sudah sampai di tempat tujuan walaupun mungkin Bunga tengah tertidur lelap karena di Indonesia sekarang masih tengah malam.
Sayang, aku sudah sampai di New Zealand, di sini cuacanya dingin, membuatku semakin merindukanmu, I miss you baby.
*****
Sastra langsung memasuki gedung kantor Prawira Grup dan menuju ruang meeting untuk bertemu dengan para pengacara dan juga para kepala divisi.
Saat Sastra tiba Caroline sudah nampak hadir di sana, dia tampak cantik dengan senyum menawannya yang superior. Caroline memakai bluse warna marun dengan rok mini ketat berwarna moca.
Mata mereka bersirobok, Caroline menatapnya penuh minat sedangkan Sastra hanya berekspresi dingin dan datar.
Meeting berlangsung alot karena permasalahan serius yang harus ditangani, hanya diselingi break makan siang kemudian dilanjutkan kembali. Mereka baru selesai saat waktu menunjukkan pukul empat sore.
Sastra memasuki ruangannya dan menyandarkan kepalanya di kursi kebesaran Prawira Grup, ia sangat kelelahan hari ini karena belum sempat beristirahat dengan benar sejak tiba di sini. Lalu tiba-tiba Tommy sekertarisnya mengetuk pintu.
Tommy adalah sekertaris Prawira Grup cabang New Zealand. Tommy juga orang Indonesia, dia sangat kompeten dibidangnya dan dia juga sekertaris yang paling diandalkan oleh Arya Prawira ayah Sastra.
"Maaf Pak, Nona Caroline sudah menunggu diluar untuk bertemu dengan anda," ucap Tommy penuh hormat.
Sastra tampak berpikir sejenak. "Biarkan dia masuk."
"Baik Pak, silakan masuk Nona." Caroline langsung masuk lalu Tommy beranjak pergi dan menutup pintunya.
"Silahkan duduk Nona Caroline." Sastra bangkit dari kursinya menuju sofa.
"Oh ayolah Sas panggil aku seperti biasa, lagipula hanya ada kita berdua di ruangan ini. Lama tidak berjumpa kamu semakin tampan dan memesona." Caroline mendekati Sastra dan duduk disebelahnya.