
Mereka mengurai dekapan masing-masing, melonggarkan sedikit jarak tubuh yang merapat menempel satu sama lain.
Memang begitulah perjalanan biduk rumah tangga, alurnya tidak selalu lurus dan mulus. Hempasan ombak dan terjangan badai sesekali pasti akan menerjang, mengombang-ambing bahtera pernikahan, menguji kesetiaan dan kekuatan cinta diantara dua insan yang mengikat janji suci di hadapan Tuhan.
Sastra menggulirkan punggung tangannya di pipi Bunga, merasakan kehalusan kulit bak magnet yang selalu berhasil menyegat dan menariknya hingga tak mampu melepaskan diri lagi dari daya tariknya.
Tangannya bergerak hingga ke dagu dan sedikit menariknya kebawah hingga bibir Bunga terbuka celahnya, ia menundukkan wajahnya dan menyelipkan bibirnya di kehangatan bibir istrinya yang manis dan ranum.
Diciumnya dengan perasaan penuh cinta yang menggelegak hingga sumsum tulang belulangnya. Bunga membalas ciuman suaminya dengan rasa yang sama, rasa cinta yang membuncah dan membaur indah laksana langit senja berhiaskan lembayung, begitu hangat namun menyejukkan hati.
Rasa yang ada di dalam dada keduanya melebur menjadi satu. Satu rasa, satu tujuan, yaitu saling mencintai, saling menjaga, saling melengkapi, hingga penghujung hidup dan embusan napas terakhir.
Sastra mendorong Bunga hingga terbaring di sofa tanpa melepaskan pertautan bibir mereka. Ia mengungkung diatasnya, Bunga melingkarkan tangannya di punggung lebar nan menyenangkan milik suami tercintanya dan mereka semakin larut dalam balutan rasa manis indahnya cinta yang kekuatannya telah ditempa sedemikian rupa.
Ditengah-tengah kegiatan mereka yang mulai memanas, terdengar bunyi ketukan di pintu kamarnya. Keduanya menghentikan cumbuan masing-masing, saling menatap penuh tanya, siapa yang mengetuk tengah malam begini.
Sastra awalnya tidak memperdulikan siapa yang ada di balik pintu dan berniat melanjutkan apa yang sempat tertunda, ia kembali mendekatkan wajahnya hingga hidungnya bersentuhan dengan Bunga, saat bibirnya hendak mendaratkan pagutannya ketukan itu kembali terdengar beserta suara tangisan.
Bunga menahan dada Sastra, mereka berdua sama-sama menajamkan pendengarannya, saat ia mengenali suara tangisan itu Bunga membulatkan matanya. Secara spontan ia mendorong tubuh suaminya yang sedang mengungkungnya, Sastra yang tidak siap hampir saja jatuh terguling karena Bunga mendorongnya sekuat tenaga.
Bunga turun dari sofa, membenahi pakaiannya yang sudah hampir melorot hingga setengah dadanya, dengan tergesa-gesa ia melangkah ke arah pintu dan membuka pintu dengan cepat.
Ceklek....
Pintu terbuka dan tampaklah Arion yang berdiri di depan pintu yang tengah mengucek matanya sambil memeluk boneka tayo. Melihat ibunya berdiri di ambang pintu, bocah tampan itu langsung menghambur ke dalam pelukan Bunga.
"Mami... huhuhu...." Arion memeluk Bunga dan menangis.
"Rionnya Mami kenapa nangis hmm?" Bunga langsung meraup putranya, menutup kembali pintu kamarnya dan menggendong Arion ke dalam lalu duduk di tepi ranjang. Sastra menghampiri dan ikut duduk di samping dua orang yang paling berarti dalam hidupnya.
Dia menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan tatapan polosnya seolah memohon agar permintaannya dikabulkan.
Sastra tertawa memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi, ternyata beginilah lika liku menjadi orang tua, saat tengah memesrai istrinya ia malah di ganggu bocah kecil kesayangannya. Tetapi rasa sayangnya pada versi mini dirinya lebih dominan sehingga mampu mendorong mundur hasratnya yang sudah menggelora.
"Tentu saja boleh jagoan Papi, ayok kita tidur," sahut Sastra.
Sastra menata bantal dan menggendong Arion dari pangkuan bunga lalu membaringkannya di tengah tempat tidur. Bunga menyusul merebahkan tubuhnya dengan posisi miring di sisi kanan dan Sastra di sisi kirinya.
Sastra menarik selimut dan menyelimuti mereka bertiga, kemudian merengkuh istri dan anaknya kedalam pelukannya hingga mereka terlelap bersama dengan hati yang membuncah bahagia.
*****
Dear para readersku tercinta, sampailah sudah kita di akhir cerita Kapan Menikah
Author ucapkan banyak-banyak terima kasih atas apresiasi para readers kesayanganku yang telah menemani perjalanan cerita ini. Sangat terharu dan tidak menyangka ketika banyak yang menyukai tulisan sederhanaku, ini adalah tulisan pertamaku, author menulis cerita ini sepenuh hati dan membubuhkan cinta dalam setiap ketikannya meskipun pasti masih banyak kekurangannya.
Tanpa kalian yang membaca tulisanku, aku bukanlah apa-apa, sekali lagi terima kasih.
Sampai jumpa lagi di cerita-ceritaku yang lainnya. Follow juga igku @Senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis. Klik juga profilku untuk membaca karyaku yang lainnya.
With love ❤
Senjahari_ID24