Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 84


Langit malam telah melingkupi Kota Banjarmasin diiringi suara gemericik hujan nan syahdu. Sastra duduk di lantai dan bersandar pada tempat tidur, ia memandang kelap kelip lampu jalanan kota dari kaca kamar hotelnya, tangannya memutar-mutar gelas winenya, dihirupnya aroma anggur itu dan diminumnya sedikit demi sedikit.


Saat malam datang dan rasa rindu semakin menyelimuti dirinya, hanya wine lah yang menjadi teman setianya. Sastra akan minum sampai mabuk, berharap bisa mengurangi rasa yang menyiksa di jiwanya.


Tuhan, tolong hadirkan dia dalam mimpiku walau hanya sebentar saja, aku sangat merindukannya, tolong berikan padaku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya dan biarkan aku memeluknya lagi.


Air bening itu kembali menetes di sudut matanya, ia tersenyum getir menipiskan bibirnya menertawakan dirinya sendiri yang menyedihkan.


*****


Pagi ini Tommy dan Andrew sudah bersiap untuk pulang dan menunggu Bosnya di lobi hotel, Sastra keluar dari lift dan menghampiri mereka. Pagi-pagi ia sudah memakai kacamata hitam untuk menyembunyikan mata pandanya. Mereka bertiga langsung bertolak ke bandara agar tidak tertinggal pesawat


Semalam Sastra baru tertidur pukul dua pagi. Sekarang ia sudah duduk di bangku pesawat, kepalanya terasa berdenyut karena hangover. Tommy sudah mengetahui keadaan bosnya yang satu tahun belakangan ini sering minum menyendiri hingga mabuk, dia memberikan obat pereda hangover yang selalu dibawanya untuk Sastra.


*****


Hari demi hari berlalu, Rama semakin sering berkunjung ke toko kuenya Bunga. Mereka semakin dekat walau hanya sebatas teman, setiap kali jadwal konseling Rama selalu mengantar jemput Bunga.


Sekarang Bunga sudah mulai kembali normal dan ceria seperti biasanya. Bunga bukannya tidak tahu jika Rama menaruh hati padanya, hanya saja di hati Bunga masih terukir nama seseorang yang sangat sulit untuk dihapusnya.


Sudah sepuluh bulan sejak Flower's Cake & Bakery dibuka, sekarang usaha yang digeluti Bunga dan ibunya itu semakin berkembang. Toko itu menjadi pemasok tetap setiap harinya untuk Rumah Sakit Wira Medika dan juga klinik-klinik lainnya di Banjarmasin, berkat bantuan Nadine yang mempromosikan kue buatannya.


Ia menambah dua orang pekerja lagi dan bahkan sekarang Bunga sudah bisa menyicil sebuah mobil sebagai kendaraan operasional usahanya.


Bunga selalu menggunakan gula rendah kalori dan memastikan memakai bahan-bahan pilihan terbaik untuk membuat kuenya, karena kuenya bukan hanya dikonsumsi orang yang sehat tapi juga akan disajikan untuk camilan pasien di rumah sakit dan klinik.


Sore ini tampak Rama baru saja datang di Flower's Cake & Bakery, dia memarkirkan mobilnya dan sebelum turun dia membuka jas dokternya dan menaruhnya di kursi belakang. Rama merapikan penampilannya di kaca spion kemudian turun dan masuk ke dalam toko.


"Selamat sore Dokter Rama, duuuh sore-sore lihat yang ganteng, seger mata dedek."


Nisya menggoda Rama, dia selalu terpesona jika melihat dokter tampan itu, tapi Nisya tahu bahwa Rama hanya tertarik pada bosnya.


"Nis, dimana Lia?" tanya Rama tanpa memperdulikan Nisya yang sedang tebar pesona padanya.


"Hhhh... Setiap kesini cuma Mbak Lia yang dicari, kapan ada yang nyari Nisya Tuhan?" Nisya mulai drama dan Rama hanya terkikik geli. Lalu Bunga muncul masih memakai apron yang belepotan dengan tepung.


"Kak Rama, kapan datang?" sapa Bunga sambil membuka apronnya.


"Baru saja, bisa bicara sebentar? ada hal yang ingin kusampaikan."