
Akhir pekan telah tiba. Sore ini Bunga pergi ke salon untuk memotong dan merapikan rambutnya yang sudah terlalu panjang bahkan melewati pinggang, ia juga meminta agar wajahnya dirias, tetapi dengan riasan yang tipis saja tidak terlalu berlebihan.
Disela-sela hair stylish sedang menata rambutnya, terdengar notif dari ponselnya.
Rama: "Lia nanti pukul 18.30 malam aku akan menjemputmu ke toko."
Bunga: "Tidak usah Kak, nanti aku naik taksi saja, lagipula aku akan langsung berangkat dari salon."
Rama: "Salon mana? Biar nanti kujemput."
Bunga: "Salon Mira Beauty, maaf aku jadi merepotkan."
Rama: "Sama sekali tidak merepotkan, aku akan menjemputmu di salon nanti."
*****
Acara pesta pembukaan diadakan di Hotel Rattan Inn Banjarmasin, Rattan Inn adalah salah satu hotel mewah dengan fasilitas terbaik dilengkapi dua restoran internasional. Sebagai penanggung jawab Nadine sudah siap standby di tempat sejak sore untuk memastikan semuanya siap sesuai rencana.
Pukul 18.00.
Sastra baru saja tiba di Bandar Udara Syamsuddin Noor, tadi siang dia baru terbang dari Jakarta karena urusan dikantor pusat sangat padat. Pak Arya,Tommy, Andrew dan bahkan Caroline juga ikut serta untuk menghadiri acara malam ini dan semuanya langsung menuju hotel tempat acara diadakan.
Para awak media sudah nampak hadir untuk meliput acara pembukaan malam hari ini. Hampir semua orang penting di Banjarmasin diundang ke pesta, para pejabat tinggi sangat antusias dengan dibukanya rumah sakit berskala internasional itu, dengan begitu kota tersebut akan semakin dikenal dan banyak dikunjungi karena fasilitas kesehatan terbaik.
Saat Arya dan Sastra turun mereka langsung disambut flash dari kamera para wartawan, Arya Prawira walaupun sudah berumur tetapi tetap berkharisma dan berwibawa, ditambah lagi dengan sang putra yang mendampinginya terlihat begitu tampan memesona.
Dengan setelan jas Rogatis yang melekat sempurna di tubuh tinggi tegapnya, ditambah dengan wajahnya yang rupawan dan aroma maskulinnya yang mengintimidasi membuat Sastra tak kalah berwibawanya dari sang ayah. Mereka semua masuk diiringi yang lainnya dan disambut oleh Nadine yang sejak tadi sudah menunggu.
"Paman Arya, bagaimana kabarmu, aku sangat merindukanmu." Nadine memeluk pria paruh baya itu.
"Kabarku tidak baik, karena saat kalian sudah dewasa semuanya sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak ada yang perduli pada pak tua kesepian ini," ucap Arya sambil mengelus kepala Nadine.
Nadine tertawa dengan ucapan Arya, mereka semua saling bercengkrama dengan gembira bahkan tampak walikota ikut bergabung dan berbincang-bincang dengan mereka.
Seperti biasa Caroline mencari kesempatan dalam kesempitan, walaupun Andrew sudah memperingatkan untuk menjaga sikapnya, tetapi gadis keras kepala itu sama sekali tidak mengindahkannya.
Dia getol berusaha menempeli Sastra, kadang dia mencuri-curi kesempatan untuk bergelayut di tangan kekar itu walaupun selalu berakhir dengan tepisan dari sang pemilik tangan. Lalu Sastra memilih menghampiri Nadine untuk menghindari Caroline yang seperti lintah.
"Nad, Rama kemana? Sejak tadi aku belum melihatnya."
"Rama sedang menjemput pemilik toko kue yang selama ini sudah bekerja sama dengan rumah sakit. Kamu masih ingat? Aku pernah bercerita tentang pasienku yang pandai membuat kue dan kamu juga sudah pernah mencicipi kue buatannya."
"Iya aku masih ingat, dan kue yang disajikan hari ini juga mempunyai rasa yang sama dengan tempo hari."
"Aku memang memesan sebagian kue dari dia, dan sebetulnya Rama menyukai gadis pembuat kue itu." Nadine sedikit berbisik pada Sastra.