
Sejak berada di New Zealand Sastra selalu berusaha sebisa mungkin menghindari Caroline kecuali ada hal mendesak tentang pekerjaan yang harus dibicarakan secara langsung.
Sastra jengah karena wanita itu selalu berusaha menempelinya setiap kali ada kesempatan. Ia lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya di luar kantor agar lebih fokus dan tidak diganggu oleh wanita gila itu.
Setiap hari Caroline berusaha tampil maksimal untuk menarik perhatian Sastra, wanita itu memoles tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki dengan perawatan tubuh termahal tentunya dan memakai pakaian yang memperlihatkan lekukan tubuh indahnya dengan jelas.
Pernah dalam satu kesempatan di saat makan siang bersama dengan semua tim, Caroline sengaja duduk berhadap-hadapan dengan Sastra. Ia membuka dua kancing atas kemejanya sehingga ketika membungkuk maka belahan dadanya langsung menyembul terlihat dengan jelas, tetapi pria tampan berlesung pipi di depannya itu tidak bergeming sama sekali.
Saat mereka menimba ilmu di Amerika, Caroline pernah merasakan sentuhan Sastra membuatnya makin terobsesi padanya. Bukan hanya ingin menjadi Nyonya Sastra Prawira tapi juga ingin kembali mencicipi rasa itu. Ia pernah berkencan dengan para bule di sana tetapi tidak pernah satu kalipun menemukan rasa yang sama.
Caroline sempat heran dan bingung kenapa Sastra yang sekarang sangat sulit didekati, padahal waktu kuliah dulu dia adalah seorang playboy yang tentu saja tidak akan melewatkan atau menolak sajian mulus dan mahal yang menyerahkan diri padanya.
Wanita itu berpikir keras. Biasanya Sastra Prawira selalu dikelilingi para wanita dan dengan mudah bergonta ganti pasangan, tetapi Caroline memperhatikan sejak dari hari pertama di New Zealand Sastra tidak pernah sekalipun terlihat bersama wanita manapun.
Caroline tidak kehabisan akal dan akan tetap mendekati Sastra walaupun dengan cara ekstrim sekalipun. Bahkan tadi pagi ia mencoba menggoda Tommy agar memberitahukan di mana hotel tempat Sastra menginap dengan alasan untuk mempermudah menemuinya dan berdiskusi masalah pekerjaan jika Sastra sedang tidak berada di kantor, tetapi sayangnya Tommy tidak terpengaruh membuat Caroline semakin kesal dan jengkel.
"Maaf Nona, saya tidak diperbolehkan untuk memberikan informasi pribadi atasan saya. Jika Pak Sastra sedang tidak ada di tempat dan ada hal tentang pekerjaan yang ingin disampaikan, anda bisa menghubungi saya. Nantinya akan saya sampaikan secara langsung kepada beliau," jelas Tommy dengan sopan dan profesional.
"Baiklah, kalau begitu nanti saya akan langsung menghubungi Anda jika Pak Sastra sedang tidak berada di kantor, terima kasih atas bantuannya." Caroline tersenyum genit kemudian langsung berbalik dan melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan amarah yang tertahan.
"Dasar sekertaris sialan! Kaku kayak kanebo kering, susah banget di ajak kerjasama! lagipula Sastra kemana sih, jarang sekali terlihat muncul di kantor." Caroline menggerutu dan menjambak rambutnya frustasi.
*****
Sementara itu saat ini Bunga tengah bersiap-siap untuk pulang ke rumah orangtuanya. Sudah lama ia tidak mengunjungi mereka dan Bunga juga rindu pada sahabatnya Nana dan Deni. Bunga berencana untuk menghabiskan waktu akhir pekan kali ini bersama dua sahabatnya itu bahkan mereka sudah janjian untuk bermain bersama.
Bunga menelepon sopir yang sudah ditugaskan oleh Sastra untuk mengantarnya kemanapun, di tengah-tengah perjalanan dia mampir ke sebuah mall untuk membeli dua buah laptop dan printer untuk adik kembarnya.
Dia juga membeli kue-kue mahal yang ada di sana. Dulu Bunga hanya bisa memandangi kue-kue yang di pajang itu, tetapi sekarang ia bisa membelinya sesuka hati karena Sastra memberikan materi yang sangat berlimpah untuknya.