Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 35


Saat ini Sastra terlihat sedang berada di rumah duka, ia selalu setia menemani Bunga dan mambantu keluarga yang tengah di rundung kesedihan itu. Sastra pulang ke apartemennya hanya untuk sekedar berganti pakaian dan langsung kembali lagi ke rumah Bunga.


Bahkan Sastra membayar seluruh tagihan rumah sakit serta mengurus semua biaya untuk pemulasaraan jenazah hingga dimakamkan.


Rumah duka masih ramai dengan orang yang berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa, Bu Marni menyapa dan bersalaman dengan semua orang yang ikut berduka cita atas meninggalnya sang suami.


Sementara saat ini Bunga sedang duduk di kamarnya ditemani oleh Sastra.


"Sas, aku udah banyak nyusahin kamu. Aku bahkan nggak tahu harus berterimakasih dengan cara apa." Bunga menatap Sastra dengan wajah sendu.


"Kamu memang harus berterimakasih, karena semuanya nggak gratis," sahutnya sambil mengulum senyum.


"Mak-maksudmu?" Bunga mengerutkan keningnya.


Si tampan berlesung pipi itu tersenyum manis pada Bunga dan membelai rambutnya. "Kamu harus berterimakasih padaku dengan senyumanmu dan jangan bersedih lagi. Aku yakin bapakmu tidak akan suka melihat putri cantiknya selalu menangisi kepergiannya, tetaplah menjadi Bunga yang selalu penuh semangat."


"Terima kasih... terima kasih Sas," sahutnya.


"Hari Senin ini kamu tidak usah bekerja dulu, aku sudah memberi kabar pada Fajar."


"Nggak usah, aku akan tetap pergi bekerja Sekarang aku adalah tulang punggung keluarga karena sebagai anak sulung kebutuhan keluargaku adalah tanggung jawabku. Aku harus lebih kuat dan tegar, jadi untuk itu aku harus lebih giat bekerja tidak boleh bermalas-malasan," ucap Bunga penuh tekad.


"Bunga, tapi kamu masih dalam suasana berduka. Untuk besok dan lusa beristirahatlah dulu, selasa nanti baru kamu boleh masuk bekerja jadi jangan membantah lagi oke." Sastra membujuk gadis cantik yang ada dihadapannya.


"Baiklah." Bunga mengangguk.


Mereka berdua keluar dari kamar, Sastra memilih duduk di teras karena sedang menjawab panggilan telepon sedangkan Bunga menghampiri ibunya.


"Bagaimana keadaan Ibu sekarang?" tanya Bunga.


"Sudah lebih baik, hanya saja ibu sedang memikirkan bagaimana dengan kehidupan keluarga kita kedepannya."


"Ibu jangan khawatir, aku akan bekerja lebih giat untuk memenuhi semua kebutuhan kita dan juga biaya sekolah di kembar." Bunga menggenggam tangan ibunya.


"Apakah benar Sastra yang membayar semua tagihan rumah sakit dan juga biaya pemakaman? Dia sangat kaya dan juga baik hati." Bu Marni mengalihkan pandangannya menatap punggung Sastra yang berada di teras.


"I-iya Bu, sebenarnya aku juga ada uang simpanan walaupun tidak banyak, tapi Sastra bersikeras untuk membayar semua itu."


"Bunga bagaimana kalau kamu segera meminta dia untuk menikahimu? sepertinya dia sangat menyukaimu." Ibunya mulai kembali mendesak tentang hal serupa.


"Bu, kita masih dalam suasana berduka. Aku mohon jangan membahas hal yang seperti ini dulu. Lagipula kami baru empat bulan pacaran, kami masih ingin mengenal satu sama lain dan sebagai perempuan aku tidak mungkin meminta lebih dulu untuk dinikahi."


Bunga menghela napasnya berat setelah menjelaskan, berharap ibunya mengerti bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat membahas tentang pernikahan.


"Kamu nggak kasihan sama ibu yang selalu di ejek sama saudara-saudara kita? cobalah mencari cara agar dia segera melamarmu. Kapan lagi kamu bisa menemukan laki-laki yang seperti dia. Sudah ganteng, kaya, baik pula. Ibu yakin saudara-saudara ibu akan iri kalau punya menantu seperti dia." Ambisi kembali membakar Bu Marni padahal suasana masih berduka.


"Iya Bu, aku sangat paham akan keinginan Ibu. Tapi kumohon untuk sekarang ini jangan membahas tentang hal itu dulu kita masih berduka dengan kepergian bapak." Bunga berusaha tetap sabar dalam menghadapi sikap ibunya.


"Baiklah ibu akan menunggu, semoga tidak lama lagi."


Bu Marni lagi-lagi membahas tentang hal itu,


Bunga kembali sangat merindukan sang bapak. Dulu bapaknya lah yang selalu menengahi saat Bunga didesak oleh ibunya tentang perihal menikah, tetapi sekarang dan kedepannya Bunga harus bisa menghadapi keinginan ibunya seorang diri.