Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
Extra Part 4


Arioooonn....


"Bunga berteriak dengan kencang dan tubuhnya luruh ke lantai, Sastra terbangun karena mendengar teriakkan istrinya yang memekakkan telinga. Sastra masih mengumpulkan kesadarannya, mengucek matanya dan mendudukkan dirinya.


Dilihatnya Bunga ambruk ke lantai dengan wajah pucat pasi dan berderai air mata. Sastra terkesiap, ia segera turun dan meraih celananya yang tersampir di sisi ranjang.


"Sayang ada apa?" Kedua tangannya meremas pelan bahu Bunga. Bunga mendongakkan wajahnya, dengan bibir bergetar dia mencoba berkata.


"itu-itu... Rion, Arion... hi-hilang... hiks hiks." Bunga langsung menubruk dada telanjang Sastra dan menangis sejadi-jadinya.


"Ap-apa, hilang?" Sastra kebingungan dengan maksud kata-kata Bunga, ia masih berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya.


"Saat aku terbangun, Rion sudah tidak ada di dalam boxnya, bagaimana ini? kemana anakku. Tolong aku ingin bayiku, hiks hiks," sahut Bunga sedu sedan.


Sastra memegang kedua bahu Bunga dan membantunya berdiri, ia melongok ke dalam box dan memang benar Arion sudah tidak ada di dalamnya. Ia berusaha mencoba tetap tenang dan tidak ikut panik, menjaga pikirannya tetap jernih walaupun tak dipungkiri jantungnya memompa lebih cepat, sekujur tubuhnya terasa kehilangan tenaga dan tulang belulangnya seperti di lolosi.


"Tenangkan dirimu dulu, jangan panik. Kita cari sekarang juga, aku akan mencuci muka sebentar saja." Sastra mengecup puncak kepala Bunga, ia mengurai pelukan dan segera ke kamar mandi. Sementara Bunga masih terisak duduk di tepi ranjang sambil mengigit-gigit kukunya dengan cemas.


Dengan cepat Sastra berganti pakaian kemudian menghampiri Bunga, ia membawa washlap basah ditangannya lalu menyeka wajah Bunga yang penuh jejak air mata. Sastra memakaikan cardigan pada Bunga dan mereka segera keluar dari kamar.


Di lantai bawah tampak Bik Isah sedang membersikan ruang keluarga, ia menoleh ke arah tangga begitu mendengar suara langkah kaki.


"Pagi Den, pagi Nyonya muda," Bik Isah memberi salam dengan sopan, lalu saat melihat wajah Bunga yang pucat pasi ia langsung menghampiri.


"Ada apa Nyonya?" tanya bik Isah cemas.


"Rion... Arion hilang Bik, saat aku terbangun dia sudah tidak ada di dalam boxnya." Tangis Bunga kembali pecah, Sastra memeluknya dan mengusap-usap punggung istrinya berusaha menenangkan.


Tanpa diduga Bik Isah malah tertawa, "Oalah Nyonya. Tuan kecil tidak hilang, dia sedang berjalan-jalan bersama kakeknya di taman sambil berjemur, tadi tuan besar membawanya memakai kereta bayi."


Bunga melebarkan matanya saat mendengar perkataan bikin Isah, ia berlari keluar rumah tanpa alas kaki. Sastra ikut menyusul istrinya yang berlari seperti kerasukan, Bunga berlari tanpa henti menuju taman dan benar saja di sana terlihat kereta bayi Arion serta terdengar suara celotehan lucunya.


"Rion, Arion...."


Bunga memanggil nama putranya setengah berteriak. Pak Arya menolehkan kepalanya dan beliau kaget karena melihat menantunya yang berlari bertelanjang kaki ke arahnya.


Bunga langsung meraup Arion dan menciuminya, didekapnya tubuh mungil lembut nan hangat itu dengan erat, dihirupnya dalam-dalam aroma bayi kesayanganya dan di detik berikutnya ia tak bisa membendung air matanya yang mendesak memaksa untuk kembali berderai menganak sungai di wajah cantiknya.