Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 138


Diusapnya punggung yang gemetar dan terisak itu, mencoba menyalurkan ketenangan dan ketentraman pada jiwa yang dilanda ketakutan dan kebingungan.


"Kamu sampai berpikir begitu karena hal yang pernah kulakukan dulu padamu? apakah kamu masih belum sepenuhnya mempercayaiku?" tanya Sastra sementara tangannya masih setia bergerak naik turun dengan teratur.


"Kamu tahu? saat tadi dokter menyatakan bahwa kamu hamil, kurasakan bahagia yang tak terkira hingga membuat lidahku kelu tak mampu berucap sepatah kata pun. Aku sangat bersyukur karena Tuhan masih memberiku kepercayaan dan kesempatan untuk kembali memiliki buah cintaku bersamamu, dan tentu saja aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya lagi seperti kesalahan yang dulu kulakukan."


Bunga mengurai pelukan dan menatap langsung ke dalam mata suaminya. Ia masih terisak, ia benci pada dirinya sendiri yang ternyata masih diperbudak oleh masa lalu, Bunga berpikir bahwa dirinya sudah bisa lebih kuat sekarang tetapi nyatanya tidak.


"Tadi... saat kata-kata hamil terdengar di telingaku, mimpi buruk itu kembali menghantui," jawabnya masih dengan berurai air mata.


"Disini... di dalam sini... kembali terasa sangat sakit." Bunga meletakkan sebelah telapak tangannya di dada.


Sastra merasa dirinya ditampar bertubi-tubi oleh tangan tak kasat mata, rasa bersalah yang teramat sangat melingkupi seluruh dirinya. Tangannya bergerak mengusap air mata yang masih bergulir dari mata indah di depannya.


"Maafkan aku sayang, karena telah memberikan luka yang teramat dalam hingga menembus dasar kalbumu, namun izinkanlah aku untuk selalu mengobatinya walaupun itu tidak akan mudah."


"Aku sudah memaafkanmu dan memang hanya kamu yang kubutuhkan untuk menyembuhkanku, hanya saja jiwa ini masih terlalu lemah dan rapuh tak sekuat perkiraanku, kumohon bersabarlah dengan aku yang seperti ini."


Sastra kembali menghela Bunga ke dalam pelukannya, "jangan pikirkan apapun, kamu cukup tau bahwa aku selalu mencintaimu seperti apapun dirimu."


Dikecupnya puncak kepala Bunga dan juga keningnya. Bunga membalas pelukan Sastra, menenggelamkan dirinya kedalam aroma pria itu, menghirupnya dalam-dalam mencari ketenangan serta kenyamanan disana.


Saat makan malam Sastra memberi tahu kabar bahagia itu pada Papanya, Bunga juga memberi kabar pada ibunya tentang kehamilannya dan semua orang menyambut dengan sukacita.


Keesokan harinya mereka pergi ke klinik dokter spesialis kandungan yang memeriksa kemarin, Sastra tidak melepas genggaman tangannya walau hanya sebentar. Mulai saat berangkat dari rumah hingga semua prosedur pemeriksaan selesai, ia tidak ingin melewatkan sedetik pun momen berharga karena akan menjadi seorang ayah, ia dengan setia mendampingi Bunga dengan mata yang berbinar bahagia.


Mereka berdua baru saja sampai di rumah sepulang dari dokter, Bunga duduk di sofa sambil memijit-mijit kakinya yang terasa pegal, Sastra menyusul duduk disebelahnya dan meraih kedua kaki Bunga ke atas pangkuannya lalu memijitnya.


"Kakimu sakit? kamu pasti kelelahan, sebaiknya berbaring di kamar saja." Sastra bermaksud meraup Bunga ke dalam gendongannya namun ditahan oleh Bunga.


"Aku tidak apa-apa, hanya pegal sedikit, dipijat sebentar juga sembuh." Bunga mengulas senyum cantik yang mampu menenangkan jiwa yang melihatnya.


"Sayang?"


"Iya."


"Aku ingin membuat pesta besar untuk merayakan kebahagiaan kita kali ini, lagipula saat menikah kita hanya melaksanakan pemberkatan dan belum sempat mengadakan resepsi pernikahan, aku ingin memperkenalkanmu kepada khalayak ramai secara resmi."


"Apa tidak terlalu berlebihan? bagaimana kalau sebuah pesta sederhana yang diadakan di rumah saja?" usul Bunga pada Sastra.


"Tapi rumah tidak pernah dibuka untuk umum, apalagi di pakai untuk mengadakan pesta karena papa sangat menjaga privasinya, jadi biasanya kami mengadakan acara di ballroom hotel, lebih praktis dan efisien."


"Mmm...baiklah, terserah padamu, aku tidak begitu paham mengenai hal-hal seperti ini." Bunga mengangguk tanda setuju.


"Kamu cukup duduk saja, mengenai semua hal-hal keperluan pesta akan ditangani oleh orang-orang yang sudah profesional di bidangnya."