Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
Extra Part 5


Hai my beloved readers yang kusayangi, ini adalah extra part ke lima dari novel Kapan Menikah dan masih akan ada beberapa extra part lainnya.


Terima kasih banyak untuk apresiasi, dukungan bintang, like, komentar, dan vote poinnya. Happy reading readers, cekidot.


*****


Sastra ikut berlari dan menghampiri Bunga yang mendekap Arion dengan erat, ia merangkul Bunga ke dalam pelukannya. Sastra mengelus-elus punggung istrinya yang bergetar karena Isak tangis.


Pak Arya masih keheranan, sebenarnya ada kejadian apa sampai Bunga menangis seperti itu. "Ada apa dengan istrimu Nak?" tanya Pak Arya pada Sastra.


"Begini Pa, Bunga panik mengira Arion hilang, saat tadi terbangun dia melihat box bayinya sudah kosong," sahut Sastra.


Untuk sejenak Pak Arya hanya tertegun kemudian beliau tertawa setelah berhasil mencerna apa yang diucapkan anaknya.


"Ahahaha..." Pak Arya tertawa lepas.


"Maafkan Papa, tadi Papa membawa Arion tanpa meminta izin dari kalian terlebih dahulu."


Flashback on


Pagi itu Pak Arya baru saja keluar dari kamarnya, ia hendak turun ke lantai bawah untuk sarapan. Saat melewati kamar Sastra ia mendengar suara tangisan Arion, beliau berhenti di depan pintu lalu mengetuk pintu kamar itu, tetapi setelah beberapa kali mengetuk masih tetap tidak ada respon dari dalam sana.


Tangisan Arion bertambah kencang membuat Pak Arya semakin khawatir, akhirnya ia memutuskan memutar kenop pintu dan ternyata tidak dikunci. Pak Arya melongokkan kepalanya ke dalam kamar, matanya langsung tertuju pada box bayi, Arion sudah terbangun dan sedang menangis di dalam boxnya.


Ia berusaha menahan tawanya, beliau sangat mengerti dengan situasi sekarang ini apalagi sepertinya mereka baru kembali memadu kasih setelah beberapa waktu tak bisa melakukannya. Dan rupanya saking kelelahan dengan aktivitas tadi malam, mereka bahkan tak mendengar saat putra mereka terbangun dan menangis dengan kencang.


Pak Arya segera menggendong Arion dan membawanya keluar kamar, ia membiarkan dua sejoli itu untuk beristirahat saja. Beliau membawa Arion ke lantai bawah, dan meminta Bik Isah untuk mengganti popoknya, bayi itu kembali tertawa dengan riang saat popoknya sudah berganti dengan yang baru, kemudian Pak Arya membawanya berjalan-jalan dengan kereta bayi ke taman samping rumah untuk berjemur.


Flashback end


"Tadi Papa tidak sampai hati membangunkan kalian saat Arion menangis, karena sepertinya kalian sangat kelelahan." Pak Arya mengulas senyum dan menatap anak dan menantunya bergantian.


Setelah mendengar penuturan Pak Arya wajah Bunga merona merah, pasti tadi mertuanya itu melihat mereka yang tengah tertidur sambil berpelukan dengan mesra. Sungguh memalukan, pikirnya.


Bunga tersipu, bagaimana bisa ia tetap terlelap saat anaknya terbangun dan menangis. Semua ini gara-gara Sastra yang membuatnya kelelahan karena terus menerus memerangkapnya dalam pusaran gairah yang seolah tak ada habisnya, sehingga kewaspadaannya menurun dalam menjaga putranya.


"Sekarang ayo kita sarapan bersama, dan kalian juga harus membersihkan diri bukan?" Pak Arya tersenyum penuh arti, kemudian berjalan lebih dulu untuk masuk kembali ke dalam rumah.


Bunga makin merah padam, ia segera menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memanas menahan malu.


"Sebelum sarapan aku ingin mandi terlebih dahulu dan tubuhmu juga pasti merasa tidak nyaman dibagian-bagian tertentu kan sayang?" goda Sastra sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Semua ini gara-gara kamu, kalau saja kita tidak terlalu liar tadi malam aku tidak akan tertidur seperti kerbau yang ditutup telinganya." Bunga mencebikkan bibirnya dan berjalan menghentak-hentakan kaki telanjangnya dengan Arion di pangkuannya, ia melangkah mendahului Sastra sambil menggerutu.


Sastra hanya tergelak melihat istrinya yang masih saja merona menggemaskan jika mereka membahas tentang hal yang sangat intim, padahal ini bukanlah yang pertama kalinya bagi mereka. Sastra berjalan mengekori Bunga, kemudian mereka semua kembali masuk ke dalam rumah besar itu.