Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 67


Sastra menunggu dengan gusar merasa gelisah dan hatinya tidak tenang.


"Bunga, sebenarnya kamu di mana... semoga kamu baik-baik saja." Gumamnya dalam hati.


Dua puluh menit kemudian Rasya sampai memakai motornya, Sastra memintanya untuk memandu jalan menuju rumah Nana dengan segera.


*****


Nana baru saja sampai di depan tempat kostnya. Dia heran kenapa kamar kostnya gelap gulita, lampu dalam dan juga lampu depan kamar tidak di nyalakan.


Apa mungkin Bunga pergi? Tapi sepatunya masih ada di luar, atau Bunga ketiduran? Gumamnya sendiri.


Ia menjinjing bungkusan nasi goreng pesanan Bunga dan membuka pintu yang ternyata tidak dikunci, Nana masuk ke dalam dan meraba-raba tembok mencari saklar lampu. Saat lampu menyala terlihatlah Bunga yang terbaring di sofa.


"Hhhhh... dasar ini anak ceroboh banget sih, tidur pintu nggak di kunci mana gelap-gelapan lagi."


Nana meletakkan bungkusan di meja dan membangunkan Bunga untuk makan nasi gorengnya mumpung masih hangat.


"Bunga hei bangun, ini nasi goreng pesananmu, Bunga cantik ayo bangun." Nana menggoyang-goyangkan tubuh Bunga berkali-kali namun tidak ada reaksi dan gadis itu tak bergerak sedikitpun.


Nana memperhatikan wajah Bunga yang ternyata semakin pucat dibandingkan dengan tadi sore dan bibirnya sedikit membiru, Nana merasa ada yang tidak beres lalu dia menyingkap selimut yang dipakai Bunga.


Alangkah terkejutnya dia, tampak darah segar menggenang di bawah paha Bunga membuat baju putih itu berubah berwarna merah. Nana menjerit dan berteriak histeris.


"Bungaaaaa... ka-kamu kenapa Bunga, hiks hiks hiks."


Nana memeluk Bunga dan menangis, dia sangat shock melihat keadaan sahabatnya yang seperti itu. Nana mencubit pipi Bunga berharap Bunga membuka matanya.


"Bunga bangun Bunga, kenapa kamu jadi seperti ini, Bunga... hiks hiks hiks."


Lalu Nana melihat botol bulat kecil di samping Bunga, dan saat membaca tulisan di botol itu Nana semakin panik karena sepertinya Bunga berniat untuk bunuh diri dengan menenggak obat tidur.


"Na kamu kenapa?" Rasya berlari menghampirinya.


"Itu Sya itu," Nana terbata sambil terisak."


"Itu apa Na, ada maling?" Rasya makin khawatir.


"Bu-bukan Sya, Bunga Sya Bunga... hiks hiks hiks."


Nana menarik tangan Rasya untuk masuk, namun Sastra langsung menerobos masuk mendahului mereka saat mendengar Nana menyebut nama Bunga.


Sastra terhenyak melihat Bunga yang terbaring lemah dengan wajah yang sangat pucat, bibir yang mulai membiru dan genangan darah di bawah pahanya membanjiri dress putih yang dipakai gadis itu. Sastra seperti orang kesetanan langsung meloncat ke arah sofa dan meraup Bunga ke dalam gendongannya.


"Bunga kamu kenapa, kenapa kamu seperti ini sayang, Bunga sayang buka matamu, Bunga...."


Sastra menepuk-nepuk pipi Bunga berharap gadis itu membuka matanya.


"Nana apa yang terjadi pada Bunga?" Sastra bertanya dengan tangan yang gemetar memeluk erat tubuh Bunga."


"Saya juga tidak tahu Pak, saat saya pulang Bunga sudah seperti ini, dan saya menemukan ini disamping Bunga," sahut Nana sembari terisak.


Sastra menerima botol dari Nana, dia membacanya dan jantungnya langsung terasa seperti diremas dengan kuat karena ternyata Bunga bermaksud mengakhiri hidup dan sudah pasti itu karena dirinyalah penyebabnya.


"Pak Sastra sebaiknya kita cepat membawa Bunga ke rumah sakit," pinta Nana lirih.


Tanpa basa basi lagi Sastra membopong Bunga menuju mobilnya.


"Rasya, kamu yang mengemudi!" Sastra melemparkan kunci mobilnya pada Rasya. Dan ia duduk di kursi belakang bersama Bunga dipangkuannya.


Rasya dan Nana menyusul masuk, lalu mobil tersebut langsung melesat dengan cepat membelah jalanan menuju rumah sakit.