Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 32


Akhirnya Bunga berbelanja di swalayan setelah perdebatan panjang di dalam mobil, padahal tadi mereka sudah hampir sampai di pasar tradisional tetapi perdebatan itu tentu saja di menangkan oleh Sastra dengan segala keotoriterannya.


Setelah selesai berbelanja, dua sejoli itu mampir di salah satu restoran dekat swalayan untuk makan siang dan saat ini terlihat sedang memesan makanan.


"Kamu mau pesan apa?" Sastra membolak-balikkan buku menu.


"Terserah!" sahut Bunga ketus dan masih cemberut.


"Masih ngambek?" Sastra menaruh buku menu di meja.


"Menurutmu?" Bunga memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Kalau kamu terus cemberut begitu aku akan menciummu di sini sekarang juga!" ancam Sastra sambil tersenyum jahil.


"Bisa gak sih, otaknya jangan mesum terus," semburnya dengan mata melotot.


"Tidak bisa sayang, karena berada didekatmu membuatku selalu ingin melahapmu." Sastra mencubit ujung hidung Bunga.


"Memangnya aku ini makanan! Hidungku sakit tahu." Bunga mengusap-usap hidungnya.


"Yang sakit kan hidung kamu bukan hidungku," ujarnya mengejek.


"Ih nyebeliiiiin...." Bunga menginjak kaki Sastra di bawah meja.


"Awww...! Sastra meringis karena Bunga menginjaknya dengan kencang. "Walaupun nyebelin tapi kamu suka kan?" rayunya


"Hhhhh untung cinta." Bunga memutar bola matanya malas.


"Apa coba ulangi sekali lagi?" Sastra semakin gemas pada gadisnya.


"Tidak ada siaran ulang tuan!"


Cup....


Sastra mengecup pipi Bunga yang duduk di sampingnya. Bunga terkejut karena dicium pipinya di tempat umum, tapi pria itu malah memasang tampang tidak bersalah dan kembali memilih menu.


"Ih kamu ini, kan malu dilihat orang-orang!"


"Biarkan saja orang-orang melihat, aku ingin semua orang disini tahu kalau kamu itu milikku!" Sastra tersenyum puas sedangkan gadis itu kembali cemberut.


Waduh gawat, aku harus sembunyi di mana nih?


Bunga langsung panik, ia tidak mau kepergok sedang bersama Sastra di sini. Lalu kemudian menarik lengan Sastra dan menyembunyikan wajahnya masuk ke dalam pelukan kekasihya itu. Gadis itu berdo'a semoga bu Lili tidak melihat ke arahnya.


"Kamu lagi ngapain?" Sastra menatap Bunga keheranan.


"Duh diem aja deh bisa nggak? itu ada Bu Lili kepala divisi accounting, kalau dia ngeliat aku lagi sama kamu disini nanti kita bisa ketahuan. Kan ribet ngejelasinnya," bisiknya pada Sastra .


"Yang mana sih orangnya?" Sastra mengedarkan pandangannya.


"Itu yang di arah jam tiga, lagian masa kamu nggak hafal sama karyawanmu sendiri sih."


"Ya udah biarin aja dia tahu kalau kamu itu pacarku, kan lebih bagus! Jadi kamu nggak perlu lagi petak umpet sama orang-orang kantor," jawabnya santai.


"Hhh kamu ini, situasiku tidak sesederhana itu, nanti berabe ngejelasinnya sama orang-orang di kantor." Bunga tetap ngotot.


Sastra tersenyum geli melihat Bunga yang tengah panik dan tentu saja dengan senang hati dia mendekap gadisnya yang sedang menyembunyikan wajahnya di dadanya.


"Sas kita pulang aja yuk, makanannya minta di bungkus aja." Bunga merajuk.


"Nggak mau!" sahut Sastra.


"Sastra pleaseeee," mohonnya


"Cium aku sekarang." Sastra menunjuk pipinya, "Setelah itu barulah kita akan pergi dari sini".


"Gak ada permintaan lain apa selain sosor sosoran?" Bunga mulai kesal.


"Terserah, mau apa nggak?" Sastra menggedik santai.


"Ya udah sini cepetan!" Bunga mengembuskan napasnya jengkel.


Lalu Sastra mendekatkan wajahnya pada Bunga dan saat gadis itu hendak mencium pipinya Sastra langsung menoleh sehingga yang Bunga cium adalah bibirnya.


Bunga langsung melebarkan matanya, menarik bibirnya menjauh, tetapi lelaki itu malah tersenyum puas penuh kemenangan. Di detik berikutnya mendaratlah dengan mulus sebuah tinju di perut Sastra dari gadis yang baru saja menciumnya.