
Sepanjang perjalanan pulang, Sastra maupun Bunga hanya terdiam membisu. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari keduanya, hanya terdengar suara deru kendaraan yang membelah jalanan malam itu.
Sastra cemburu, hatinya memanas, dan telinganya terasa gatal karena Bunga memanggil Rama dengan sebutan Kakak. Sebutan itu terdengar begitu mesra dipendengarannya, seolah Rama dan Bunga memang mempunyai hubungan yang spesial.
*****
Mereka berdua sudah sampai di depan toko, Sastra membukakan pintu untuk Bunga namun tiba-tiba_
BUGH... BUGH... BUGH....
Devi langsung melayangkan tinjunya saat melihat Sastra muncul di sana. Bunga menjerit dan berteriak agar adiknya itu menghentikan pukulannya.
"Dev, sudah berhenti, kakak bilang kamu berhenti!" Bunga berusaha menahan tubuh Devi.
"Untuk apa Abang muncul lagi di hidup Kakak? jangan pernah dekati Kakakku lagi! Jika Abang berani datang lagi kesini aku akan lebih parah dari hari ini!" ancam Devi penuh emosi.
Lelaki berlesung pipi itu limbung lalu tersungkur. Ketika Devi melayangkan pukulannya Sastra sama sekali tidak melawan dan malah membiarkan dirinya dipukuli, ia merasa pantas mendapatkannya karena pernah menyakiti dan melukai kakaknya.
Bu Marni yang mendengar kegaduhan langsung keluar dan terperanjat, dia kaget melihat kondisi Sastra yang babak belur serta Bunga yang sedang memegangi adiknya sekuat tenaga.
"Devi, ikut ibu masuk!" seru bu Marni.
"Tapi Bu," sanggah Devi.
"Siapa yang mengajarimu memukuli orang! Kamu mau jadi preman? cepat masuk! Tunggu di belakang, ibu mau bicara," perintah bu Marni dengan nada tak ingin dibantah.
"Lia, kamu bawa Sastra ke lantai dua, obati dulu lukanya sebelum pulang. Ibu akan buatkan minum," ucap bu Marni pada Bunga, kemudian ia kembali masuk ke dalam ruko.
Awalnya Bunga ragu dengan usulan ibunya, tetapi akhirnya mau tidak mau dia mengajak Sastra untuk masuk karena wajah lelaki itu babak belur oleh adiknya sendiri.
Bunga membawa Sastra ke lantai dua. Lantai dua ruko dijadikan tempat tinggal oleh Bunga dan ibunya. Terdapat dua buah kamar sederhana, satu kamar mandi, satu set sofa, dan satu ruangan dapur bersih.
Tempat ini cukup nyaman ditinggali karena Bunga membersihkan dan merapikannya secara teratur setiap hari. Terdapat rooftop juga di atas lantai dua ini, biasanya digunakan untuk bersantai oleh Bunga sambil menanam beberapa jenis tanaman di dalam pot dan polybag.
Sastra duduk di sofa, kemudian Bunga membawa kotak obat dan menyusul duduk disampingnya. Gadis bersurai panjang itu mulai membersihkan wajah Sastra yang memar serta hidungnya yang berdarah.
"Akhh," Sastra meringis saat merasakan perih ketika pelipisnya yang terluka dibersihkan menggunakan alkohol.
Melihat Bunga dengan telaten mengobati lukanya, hatinya yang selama ini kesepian dan kedinginan seketika kembali menggeliat meminta pengharapan, laksana hangatnya sinar mentari pagi yang merayu memecah kegelapan serta mencairkan kebekuan yang bersarang di dalamnya.
"Kenapa kamu tadi diem aja waktu Devi mukulin kamu?" Bunga bertanya, sementara jemarinya sibuk mengoleskan salep di wajah Sastra.
"Karena aku pantas dipukul, dia pasti sangat marah padaku karena telah menyakiti kakaknya. Jika aku jadi dia maka aku pun akan melakukan hal yang sama." Sastra menipiskan bibirnya penuh ironi seolah sedang mencemooh dirinya sendiri.
Bunga terdiam, ia menghela napasnya. "Tapi setidaknya lindungilah wajahmu, bahkan luka bekas perkelahianmu dengan Rama baru saja sembuh."
"Aku baik-baik saja, ini bukanlah apa-apa. bisa kembali melihatmu di hadapanku seperti ini adalah sebuah keajaiban bagiku. Setelah hampir putus asa mencarimu akhirnya Tuhan mempertemukan kita lagi." Sastra tersenyum bahagia padahal wajahnya lebam di mana-mana.
Sastra ingin menyentuh tangan Bunga yang sedang mengobatinya, tetapi ia sudah berjanji tidak akan lagi menyentuh gadis itu tanpa seizinnya. Sastra akan menghormati apapun keinginan dan keputusan Bunga, melihat orang yang dicintainya selalu bahagia itulah yang diinginkannya saat ini.