Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 152


Bunga begitu antusias saat makanan yang diinginkannya sudah tersedia di depan mata, tanpa basa basi lagi ia langsung melahapnya dengan semangat hingga habis tak bersisa walaupun sambil meringis-ringis kesakitan.


Dokter dan para bidan hanya terkekeh melihat kelakuan ibu hamil yang satu ini, bahkan stamina Bunga terlihat sangat prima walaupun keringat bercucuran membuat jejak basah di pelipisnya.


"Pembukaan sudah hampir lengkap, segera bawa Nyonya Bunga keruangan khusus bersalin. Para Bidan dan Perawat harap bersiap, dan anda Pak Sastra sebagai suaminya boleh ikut masuk untuk mendampingi," ucap dokter.


Bunga dibawa masuk ke kamar khusus persalinanan, semua dokter dan timnya sudah bersiaga. Sastra yang berada di samping Bunga tampak pucat pasi menanti detik-detik buah hati mereka dilahirkan ke dunia.


Ia terus-menerus menggenggam tangan Bunga dan membisikkan kata-kata penyemangat melihat istrinya yang mulai kepayahan menahan sakit dari kontraksi yang setiap menitnya semakin menyiksa.


"Sayang, kamu pasti kuat. Istriku yang hebat, berteriaklah. Jangan ditahan lagi, aku tahu kamu sangat kesakitan," bisiknya parau tepat di telinga Bunga.


"A-aku... hah... hah... tidak apa-apa Sas, aku masih bisa... hah... hah.. menahannya." Bunga kembali menggeram mengatupkan mulutnya rapat-rapat saat rasa mulas luar biasa itu kembali menderanya, bahkan tangannya menarik kerah kemeja Sastra dan memelintirnya sekuat tenaga.


"Bersiap-siap Nyonya, pembukaan jalan lahir sudah sempurna. Tunggu aba-aba dari saya, saat rasa mulasnya kembali coba dorong keluar di hitungan ketiga, mengerti?" dokter memberi instruksi pada Bunga.


Bunga mengangguk, saat rasa mulas itu membelitnya lagi Bunga melakukan apa yang dikatakan dokter. Setelah tiga kali mencoba dengan sekuat tenaga akhirnya lahirlah sang buah hati kedunia.


Oeekk... oeekk... oeekk....


Dokter tersenyum lega dan menggendong bayi yang baru lahir itu untuk dilakukan inisiasi dini pada ibunya, ia meletakkan bayi mungil yang masih merah tepat di dada Bunga.


Ketika matanya menangkap sosok mungil nan rapuh yang tergolek di dadanya rasa haru langsung memenuhi relung hati Bunga. Disentuhnya dengan hati-hati dan saat si bayi merasakan sentuhan ibunya ia langsung berhenti menangis kemudian mencoba membuka matanya.


Seketika rasa sakit melahirkan itu sirna menguap begitu saja saat menyaksikan pemandangan yang menakjubkan tepat di hadapannya, kini mata Bunga hanya memancarkan binar bahagia tak terkira.


Sastra masih pucat pasi, pakaiannya kusut masai, dan rambutnya acak-acakan. Dadanya terasa sesak dan sakit, menyaksikan perjuangan istrinya untuk melahirkan buah hati mereka ternyata tidak mudah.


Ia menciumi wajah Bunga penuh cinta, "Terima kasih, terima kasih sudah menjadi ibu dari anakku, aku mencintaimu istriku." Bibirnya sedikit bergetar ketika mengucapkan kalimatnya.


Sastra dan Bunga, keduanya berkaca-kaca dan masih merasa tidak percaya bahwa kini buah hati kesayangan mereka berada tepat di hadapan matanya. Sebuah anugerah yang akan selalu mereka jaga dengan penuh rasa syukur.


*****


Arya Prawira yang sedang menghadiri acara amal langsung menuju rumah sakit ketika mendengar kabar kelahiran cucunya, Bu Marni juga segera terbang ke Jakarta saat mendengar kabar bahagia tersebut.


Sekarang Bunga sudah berada di kamar perawatan biasa, ia baru saja tertidur setelah para bidan selesai menanganinya. Sastra duduk di kursi dekat tempat tidur, tangannya tak henti-hentinya menggenggam tangan Bunga. Rasa bahagia menyeruak begitu dahsyat di sanubarinya, ia berjanji bahwa akan selalu menjaga dua orang yang dikasihinya itu sekuat tenaga hingga akhir hayat.