
***Warning 21+!!!
Untuk keperluan alur cerita harap bijak dalam membaca part ini ya readers, bagi yang belum cukup umur harap di skip***.
Terima kasih.
*****
Setelah mandi dan berganti pakaian Sastra langsung menuju meja makan dan terlihat di sana Bunga sedang menghidangkan makan malam.
Sastra merasa Bunga terlihat semakin cantik malam ini, ditambah gaun tidur warna putih yang sedikit transparan membuat setiap lekukan di tubuhnya terlihat menerawang membuat mata Sastra menatapnya intens.
"Sayang, apa kamu sengaja menggodaku." Sastra berdiri sambil menyelipkan tangan di saku treningnya.
"Oh ya? tidak juga." Bunga tersenyum sangat manis membuat Sastra kehilangan minat terhadap hidangan yang ada di meja, dia lebih berminat pada seseorang yang sedang menghidangkannya.
Sastra menghampirinya dan langsung menggendong Bunga menuju kamar, Bunga otomatis mengalungkan tangannya ke leher Sastra dan menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya itu.
Sesampainya di kamar Sastra menurunkan Bunga di dekat ranjang lalu menuju laci dan mencari-cari benda itu namun tidak menemukannya, lalu dia mengobrak abrik isi tasnya namun tidak menemukannya juga.
Bunga tahu Sastra sedang mencari-cari barang yang disimpannya, ia harus bisa mengalihkan perhatian Sastra agar rencananya berhasil.
Bunga berjalan mendekatinya dan memeluk Sastra dari belakang, tangannya menggoda dan memancing gairah kekasihnya. Ia mengelus-elus dada bidang itu lalu turun ke perut sixpacknya membuat Sastra menggeram karena hasratnya makin berkobar tidak tertahankan lagi.
Persetan tentang benda yang dicarinya itu karena saat ini dirinya telah terbakar gairah, Sastra langsung berbalik dan mencium Bunga dengan penuh nafsu dan gadis itu membalas dengan irama yang sama.
Mereka kembali bergulat diatas ranjang, namun tidak seperti biasa ditengah-tengah permainan Bunga beralih memimpin..
Saat gelombang itu akan datang, Bunga malah makin menekan dirinya dan Sastra sudah tidak bisa mengendalikannya lagi hingga tersemburlah benihnya memenuhi rahimnya.
Sastra merasakan sensasi yang berbeda dengan ledakannya kali ini, rasanya lebih luar biasa berkali kali lipat dari biasanya membuat dia ingin mengulanginya lagi.
*****
Pagi harinya Bunga terbangun lebih dulu. Seperti biasa pemandangan pertama yang dia lihat adalah pria tampan yang sangat dicintainya, tangannya mengusap perut ratanya berharap semoga bisa segera hamil agar secepatnya bisa bersatu dengan kekasihnya dalam ikatan pernikahan.
Ponsel Sastra berdering, Bunga mencoba meraihnya dari atas nakas. Di layar tertera nama Papa memanggil dan Bunga langsung membangunkan Sastra. "Sastra bangun, ada telepon masuk. sepertinya penting."
Sastra terbangun masih mencoba mengumpulkan kesadarannya, Bunga memberikan ponselnya dan Sastra mengernyitkan dahinya. Ada masalah apa papanya menghubunginya pagi-pagi.
Bunga bermaksud bangkit dan tidak ingin mengganggu pembicaraan Sastra dengan papanya, tetapi Sastra menariknya kembali ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepalanya.
"Halo Pa, ada apa pagi-pagi sudah menghubungiku?"
"Nak, cabang perusahaan kita yang di New Zealand mengalami masalah, bisa tolong gantikan Papa pergi? Paling hanya satu bulan. Kondisi kesehatan Papa sedang tidak memungkinkan untuk pergi," pinta Pak Arya.
"Memangnya masalahnya apa Pa? sepertinya mendesak sekali."
"Orang yang kita percayai menggelapkan uang perusahaan dan kabur, Papa sudah berkoordinasi dengan polisi setempat dan juga pengacara kita disana. Hanya saja perusahaan dalam kondisi kritis, kita harus memikirkan nasib karyawan jadi tolonglah Nak," jelas Pak Arya.
"Baiklah Pa, kapan Sastra harus berangkat?" imbuhnya.
"Kalau bisa sore ini juga Nak."
"Secepat itu?" Sastra mengerutkan keningnya.
"Lebih cepat lebih baik nak, Papa sudah menyiapkan tiket dan semua keperluanmu selama disana. Nanti sebelum berangkat mampirlah dulu ke rumah untuk mengambil berkas-berkas yang akan di bawa."
"Aku mengerti, sampai jumpa di rumah."