COLD REVENGE

COLD REVENGE
Part 90. Trouble Sources 2


Tapi dia menangkap tanganku lagi.


"Jangan bawa-bawa Julie di masalah kita, dia tak ada hubungannya."


"Memang tidak! Lalu kenapa kau membicarakan masalah kita kepadanya, kau pikir aku tak tahu! Dia cantik, kaya, terkenal, tidak sepertiku yang penuh masalah. Jika kau menganggapku beban kau tak usah mengurus apa yang kulakukan, kau pikir aku tidak bisa menimbang apa yang kulakukan, kau pikir aku anak kecil yang sembarangan bertindak, kau tahu aku berhasil hari ini memasukkan Cohen bangsat itu ke penjara. Aku sangat senang, kau tahu artinya ini buatku, tapi kau saat melihatku langsung mengatakan 'masalah apa lagi yang kau buat'?! Lalu membicarakannya ke wanita sempurnamu itu?! Masalah apa yang kubuat untukmu?! Mulai sekarang kau tak usah terlibat lagi, kau jelas. Aku bisa menyelesaikan ini sendiri!"


Dengan kata-kata itu aku berbalik pergi..


"Emma!" Aku tak mendengar panggilannya lagi, aku masuk ke mobil, tancap gas pergi dari sana. Mataku memanas, mungkin aku akan menyesal mengatakan itu padanya, tapi lebih kesal lagi mendengar dia mengatakan aku sebagai bebannya. Aku masih punya harga diri untuk menerima kata-kata menyakitkan itu.


Lebih baik aku putus darinya daripada dianggap sebagai beban.


\=\=\=\=\=\=


Dia mencoba menelepon semalam. Tapi aku tak menghiraukannya, aku menangis sendiri sampai kelelahan, dia benar-benar membuat hariku buruk, dari senyum lebar karena aku berhasil memasukkan Cohen ke penjara menjadi. Karena malam sebelumnya sudah tidur larut, aku tertidur begitu saja dan meninggalkan mata sembab keesokan paginya.


Banyak hal yang kutangisi, tapi mungkin aku semalam aku sangat emosi karena pembicaraan itu, mungkin juga cemburu, dan banyak hal lain bercampur, mungkin juga periode bulananku yang sudah dekat membuat aku terpancing terlalu jauh.


Aku turun ke lobby berangkat bekerja, aku melihat dia menungguku di sana.


"Emma... biar kuantar." Mungkin dia merasa bersalah. Tapi aku rasanya masih sakit hati saat dia menganggapku beban masalah untuknya. "Kubawakan kau sarapan. Kumohon biarkan aku mengantarmu."


"Kau tak usah repot-repot untuk pembuat masalah." Aku berdiri lurus menatapnya.


"Kau tahu aku tak bermaksud begitu. Aku hanya khawatir padamu. Kata-kataku keterlaluan, aku minta maaf." Aku menghela napas panjang dan berjalan ke depan lobby apartment dan dia mengikutiku..


"Jadi kemarin Cohen ditangkap. Itu sangat bagus. Kau minta bantuan boss-mu yang melaporkannya." Dia berusaha membuka pembicaraan kemudian. Entah kenapa aku masih sakit hati atas kejadian kemarin, qku dianggap sebuah beban masalah. Mungkin iya aku memang penuh dengan masalah. Kenapa dia mau terlibat denganku?


"Iya dia sudah di tangkap." Aku melihat lurus ke depan ke jalan yang kami lewati. Merasa menderita seperti akan mengalami putus cinta. Kegembiraan dari Cohen yang ditangkap kemarin tak mampu membuatku merasa gembira pagi ini.


"Itu sangat bagus. Tinggal Cohen. Kita akan menemukan caranya." Dia memakai kata 'kita', tapi dia sendiri tidak siap untuk menanggung kata 'kita', atau aku juga mungkin tidak siap untuk pembatasan ini.


Dia berusaha membuat pembicaraan biasa sekarang. Pembicaraan ringan yang berusaha membuat aku percaya dia


"Colin, kurasa kita harusnya break dulu."


"Apa maksudmu break. Aku sudah bilang aku tidak menganggapmu sebagai sumber masalah. Semalam aku berkata salah, itu karena aku mengkhawatirkanmu. Julie hanya teman, kau jangan salah menilai pembicaraan kami semalam, aku kenal dia sudah sejak lama dari kakaknya bahkan semalam aku bicara dengan kekasihnya."


"Kau mengkhawatirkanku, tapi mungkin aku juga tak siap jadi sumber kekhawatiran. Seperti katamu aku tak siap jadi sumber masalahmu." Mata kami bertemu, dia mungkin tak percaya aku meminta break.


"Tidak, kita tidak akan break." Kata-katanya membuatku menghela napas panjang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bersambung besok.


Bagi vote dan hadiahnya dong, makasih ya