COLD REVENGE

COLD REVENGE
Part 45. Party 2


Pesta yang memang penuh dengan gadis cantik. Minuman beredar dengan bebas, aku berkenalan dengan banyak orang, senang sebentar lagi aku mungkin bisa menjebloskan salah satu anak Herron ke penjara membuatku terlalu gembira dan menghabiskan terlalu banyak gelas cocktail yang manis.


"Jangan minum lagi." Dia menaruh lagi gelas cocktail yang baru akan kuambil dari pelayan yang lewat.


"Pelit." Tapi aku mengambilnya lagi.


"Ini sudah gelas keberapa?"


"Ini cuma coktail." Dia meringis mendengar alasanku, ya tetap saja memabukkan walaupun cocktail, isinya tetap alkohol juga.


"Kau sudah tipsy. Ayo kita pulang, besok kau bekerja." Aku masih sempat menghabiskan tegukan terakhir saat dia menyeret tanganku.


"Kau memang penggangu kesenangan Colin." Aku menurut diajak pulang. Menghempaskan diriku di kursi mobil. Padahal tak apa sedikit lebih lama lagi.


"Kau akan dimarahi atasanmu jika tidak konsentrasi saat bekerja."


"Aku mengantuk."


"Tidurlah, aku akan membangunkanmu."


"Maaf merepotkanmu. Aku tak punya orang lain untuk direpotkan biasanya." Aku menemukan kesenangan bersandar padanya. Aku sedang tipsy, aku bisa menyalahkan hal ini ke alkohol yang kuminum.


"Tak apa kau akan baik-baik saja. Jika kau membutuhkan bantuan kau bisa meneleponku."


"Kau baik sekali. Mau jadi teman kencanku?"


"Tidak Nona yang sedang mabuk." Dia masih bisa tertawa menjawab pertanyaan setengah sadar itu.


"Yah, mungkin memang ada saatnya bagi masing-masing dari kita. Setelah kau berhasil mengurus Dench dan memasukkan anak Herron ke penjara tinggalkan cerita masa lalu ini."


"Masih ada seorang lagi yang harus kuurus."


"Siapa lagi yang harus kau urus."


"Detektif Cohen, orang yang memasukkan Ayahku ke penjara dengan menaruh kokain, aku harus membersihkan nama Ayahku. Perjalananku masih panjang." Aku bicara dengan lancar.


"Kenapa kau harus menyelesaikan semuanya sendiri."


"Ayah dan Ibuku hanya punya aku. Aku tak punya kakak, aku harus yang melakukannya sendiri. Bagaimana menurutmu apa aku bisa melakukannya? Siapa yang membantuku. Aku harus sendiri. Kadang aku ingin seseorang yang berjalan bersama tentu saja, tapi kurasa tidak ada yang mau bersamaku. Siapa yang berharap hidupnya begitu rumit... Aku tak punya orang bersamaku, aku hanya busa melangkah sendiri dari awal...bahkan Ayahku yang sudah meninggal menyuruhku melupakan dendamku. Tapi aku tak bisa tentu saja. Aku tak bisa..." Sekarang aku menangis tersedu-sedu. "Aku juga kadang ingin lari, tapi aku tak bisa, aku tak bisa membayangkan berapa banyak penderitaan Ayah dan Ibuku karena mereka, karena itu aku tak bisa berhenti walaupun aku ingin...." aku terus bicara sambil menangis, setengahnya akh merasa sangat mengantuk. Ini karena ķebanyakan gelas coktail.


"Bersabarlah, untuk mencapai tujuan memang tak mudah." Dia merangkul bahuku, menyemangatiku seperti teman dekatnya.


"Baru kau yang menyemangatiku, ... terima kasih. Aku kadang hanya pura-pura kuat, jika orang tak ada aku akan menangis sendiri." Sekarang aku tertawa dan menangis bersamaan. "Lucu bukan..."


"Tak ada salahnya menangks, setiap orang memerlukannya. Kau tidak akan menjadi lemah karena itu, yang membuatmu kalah dan lemah adalah ketika kau menangis di depan musuhmu. Itu sama sekali tak boleh." Dia menambahkan sambil menepuk bahuku. Kurasa besok aku akan melupakan ini . Tak apa semalam untuk meluapkan segalanya. Lagipula dia bukan musuhku tapi temanku.


"Iya kau benar, aku tak boleh kalah di depan musuhku.


Aku tak tahu apa lagi yang kubicarakan di bawah pengaruh alkohol itu.


Yang jelas aku keesokan harinya bangun dan merasa pusing. Ingatanmu samar, kurasa ada yang terjadi , tapi aku tak ingat lagi.