COLD REVENGE

COLD REVENGE
Part 44. Party 1


Karena dia bilang ini pesta non formal, aku bisa memakai aju pesta semi casual yang hanya rok pensil di tambah dengan blouse yang sesuai dengan accessories. Rambutku-ku blow sebentar untuk menambahkan volumenya dan selesai, aku siap pergi ke pesta.


"Apa begini tak apa?" Aku tak suka baju klub sexy, aku menghindarinya jika terpaksa memakai pakaian seperti itu.


"Tak apa, kau kelihatan cantik."


"Itu serius atau hanya basa-basi?"


"Tentu saja itu serius. Kau cantik, tak ada yang mengatakan sebaliknya. Hanya orang buta yang bilang sebaliknya." Aku meringis.


"Ya baiklah. Tapi aku belum bisa membuatmu kencan denganku senior? Seperti apa wanita yang kau sukai senior." Dia ngakak menanggapi ajakan kencan tak seriusku itu. Tentu saja karena tak ada yang bisa mengoyahkan perkataannya.


"Yang kusukai teman lama, aku sudah mengenalnya dari lama sebenarnya. Kau tahu Julie Harris, dia gadis yang kusukai."


"Maksudmu artis dan model itu? Dia luar biasa..." Aku jadi tahu kriteria wanitanya. Pewaris sebuah kerajaan bisnis, juga sangat sukses dengan dirinya sendiri. "Pantas saja wanita biasa tidak menarik perhatianmu? Yang kau suka levelnya sangat tinggi." Aku bersungut-sungut setelah tahu siapa yang di sukainya. Level supermodel dan artis grade A Hollywood.


"Aku tidak bicara tentang kekayaan, kepopuleran atau kecantikan. Hanya aku sudah lama menyukainya, dari dulu sebelum dia terkenal, hanya dia adik sahabatku, dia pun tidak menganggapku dengan lingkungannya yang luar biasa, ya dia memang pewaris bisnis, dulu bisnisku masih belum stabil, aku sekali lagi tak punya keberanian kurasa."


"Jadi sekarang kau sudah mendapatkannya?"


"Belum." Dia tersenyum. "Aku hanya bisa mengajaknya bicara kadang."


"Payah. Beranilah sedikit, apa kurangnya kau..."


"Dia tak pernah melihatku, dia punya teman-teman luar biasa."


"Dia tak melihatmu karena kau tidak pernah berusaha maju ke depannya. Bukankah dia sendiri sekarang, beberapa tahun lalu dia putus dari tunangannya saat mereka hampir menikah." Colin diam.


"Bersemangatlah Senior. Majulah, jika kau tak maju bagaimana kau bisa mendapat perhatiannya." Aku memberinya semangat. Dia pria yang baik, tidak berlaku seperti playboy-playboy kaya di luar sana. Nampaknya dia membangun bisnisnya dengan kerja kerasnya sendiri, bukan seperti anak-anak Herron yang punya kekayaan dari keluarga.


"Terima kasih untuk semangatnya Junior. Terima kasih juga mau menemaniku saat ini." Panggilan Senior dan Junior ini lucu juga kalo di pikir-pikir.


Kami sampai ke tempat pesta sambil mengobrol santai. Sudah melupakan malam kemarin yang penuh pertengkaran.


"Mau kukenalkan dengan teman-temanku di sana?" Penawaran yang akan langsung kutolak.


"Tidak. Anggap saja aku partnermu di sana."


"Kenapa? Aku tak akan mengenalkanmu pada orang yang kupikir tak baik." Senior yang baik bahkan dia bersedia mengenalkanku pada seseorang yang dia anggap baik.


"Tidak, aku hanya membahayakan orang lain. Sendiri lebih baik." Dia diam mendengar jawabanku.


"Kau juga jangan membahayakan dirimu sendiri."


"Aku tahu, orang mati tak bisa balas dendam seperti katamu." Aku mengulang kalimat yang diucapkannya saat pertengkaran kemarin. "Tenanglah aku tahu apa yang kulakukan, aku sudah bilang padamu."


"Dari sudut pandangmu sendiri." Colin menceramahiku lagi.


"Iya lain kali aku tidak akan bertindak sendiri lagi." Dia melihat padaku. Nampaknya tak percaya apa yang kukatakan.


"Aku akan mengawasimu."


\=\=\=\=\=\=\=\=