COLD REVENGE

COLD REVENGE
Part 54. Private Dinner 3


"Apa yang akan kaulakukan setelah ini selesai?"


"Hmm... pergi mengajak Bibi dan Paman liburan ke Eropa, mungkin minta Thomas mengenalkanku dengan agen ganteng. " Aku tertawa dengan ucapanku sendiri. Colin ikut tersenyum.


"Entahlah aku hanya merasa aku harus mulai sesuatu yang baru. Sesuatu yang diminta Ayah, hiduplah dengan bahagia dan baik-baik saja." Aku diam, menghabiskan anggur di gelasku. Jika ini berakhir aku harus punya tujuan baru.


"Kau tak boleh mengatakan kau yang menjebak Dench. Akan banyak konsekuensi yang harus kau bayar dengan mengatakan itu. Bisa jadi dia tidak mengincar kau, tapi orang terdekat yang kau punya. Terlebih sebenarnya kau harus menunggu sampai keputusannya pidananya final. Mungkin persidangan akan memakan waktu. Lupakan keinginanmu memukulnya dengan tanganmu sendiri, lihat akibatnya jika mereka tahu kau terlibat secara pribadi. Dan kemungkinan besar Cohen atau mungkin kita bisa memikirkan cara lain setelah semuanya tenang..."


Aku diam. Aku tak terlalu memikirkan ini sebelumnya, jika dia tahu mungkin akan berbahaya Bibi dan keluarganya. Cohen? Apa aku harus melepaskannya?


"Hmm...aku tahu maksudmu, ini berhubungan dengan keluarga Herron yang punya kekuasaan, bisa berbahaya juga karena berhubungan juga dengan keluarga Bibiku. Iya aku tahu, aku hanya akan menemuinya, melihat dia memakai baju tahanan penjara dan mengucapkan selamat atas karma yang dia terima."


"Bagus kau mengerti. Jangan menuruti emosimu. Ayah dan Ibumu sudah menjadi korban, tak perlu keluarga Bibimu juga menanggungnya. Walaupun sebenarnya lebih baik kau tak usah muncul di depannya dan tetap berada di belakang layar."


"Aku akan mempertimbangkan kata-katamu. Kau selalu mengingatkanku, bahkan rela bertengkar denganku, terima kasih."


"Aku punya adik perempuan keras kepala sepertimu juga. Aku sudah terbiasa bertengkar dengan wanita." Dia menepuk bahuku. Ya aku memang hanya juniornya.


"Ternyata begitu." Aku tertawa kecil dan memandang matanya.


"Aku hanya punya Bibi yang baik, tak beruntung punya Kakak. Tapi cukup beruntung punya senior yang baik." Colin tampan yang tak bisa kumiliki ini kenapa begitu menawan. Semangkin kutatap dia semangkin aku tak bisa mengendalikan keinginanku memeluknya. "Bisa aku memelukmu sebentar." Akhirnya terucap kata-kata itu. Kukira aku gila mengatakannya tapi itu terucap begitu saja tanpa bisa kukendalikan.


"Kemarilah." Dan dia merentangkan tangannya menerimaku, aku tak tahu kenapa dia menyetujuinya.


Aku memeluknya, mataku memanas, campuran rasa menghujaniku, tahu aku mungkin jatuh cinta padanya, putus asa karena tahu dia hanya kasihan padaku, dan berdebar senang karena bisa memeluknya. Tapi setidaknya aku bisa memeluknya dan bersembunyi bahwa ini hanya pelukan pertemanan.


"Apa kau menangis. Kau ada masalah?"


"Kau bisa cerita apapun."


"Hanya senang menemukan kakak yang baik." Aku tertawa dan melepasnya. Sudah cukup. Jika tidak aku akan semankin sakit hati karena dia bukan milikku.


"Kau tidak lelah, aku tinggalkan kau untuk istirahat. Aku punya buah di kulkas dan kue jika kau ingin, makan saja."


"Kau yakin? Kau bisa cerita apapun padaku. Sebenarnya ada apa?"


"Tidak, tidak ada apa-apa...Aku serius. Aku bereskan piring ini sebentar, aku membawa pekerjaan sedikit, aku mau menyelesaikan pekerjaan saja ."


"Ayo kubantu." Dia malah membantuku membereskan piring makanan. Dia manis, baik hati sekali lagi dia hanya senior yang baik. Dia bukan milikku.


"Kau di sini ada bisnis."


"Iya, sekaligus mengecek apa kau baik-baik saja."


"Aku bukan anak kecil tak perlu dicek."


"Thomas yang menyuruh aku memastikan bicara denganmu. Dia bilang mungkin kau tidak sabar untuk menampar Dench sendiri dengan tanganmu."


"Iya kau benar, jika aku bisa aku ingin memukulnya sendiri dengan tanganku. Tapi tidak aku lebih menyayangi Bibi sekarang. Jika ini selesai aku akan pergi mengajaknya berlibur. Akan kuceritakan padanya apa yang kulakukan, hanya padanya. Kukira itu sudah cukup, seperti kau dia berkali-kali mengingatkan aku untuk berhenti mengejar balas dendamku. Soal Cohen, entahlah... Akan coba kupikirkan nanti."


Pembicaraan itu akhirnya berakhir, kupikir aku mengulang skenario yang memungkinkan dalam otakku.


\=\=\=\=\=