COLD REVENGE

COLD REVENGE
Part 66. Let Go Your Burden


Kami menghabiskan sore dan malam dengan makan, nonton, berbelanja dan berjalan-jalan. Dia mengantarku ke apartmentku. Moodku membaik dengan semua ini, aku melupakan kekesalanku menerima telepon Dench.


"Kapan kau kembali ke New Jersey?" Dia memutuskan memarkir mobilnya dan mengajakku bicara.


"Tanggal 24, hanya tinggal lima hari lagi, aku menghabiskan jatah liburanku untuk mengajak mereka liburan sampai tanggal 3 January."


"Nampaknya itu akan menjadi hal yang menyenangkan.Jika kau di London, kunjungilah aku dengan Bibi dan Pamanmu. Menginaplah di rumahku?" Dia memintaku menginap di rumahnya? Apa dia tahu apa itu artinya? Bahkan meminta Bibi dan Paman yang sudah kuanggap orang tuaku bergabung? Sekarang kita harus membicarakan ini dengan jelas.


"Kau ingin aku mengunjungimu? Dengan Bibi dan Paman?" Aku bertopang dagu dan melihatnya. Sebenarnya apa yang dia harapkan?


"Kau tidak mau?"


"Apa kau mau menjadikan aku kencanmu?" Pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan.


"Kau mau pindah ke London?"


"Kenapa aku harus pindah ke London untuk jadi teman kencanmu? Kau memintaku menjadi kencanmu dan pindah ke London? Kau berpikir serius sekali."


"Iya, aku serius. Kita teman kerja, rumit terlibat sesuatu dengan teman kerja. Kau juga tahu itu. Jika kau bilang ini hanya kencan singkat, lebih baik tidak. Aku tidak meminta imbalan untuk menolongmu, melakukan sesuatu yang kau inginkan, menjagamu, mengingatkanmu jangan melampaui batasmu, walaupun aku menyukaimu dan ingin melindungimu, cemburu jika kau pergi dengan seseorang, mengkhawatirkanmu. Tapi aku tahu kau punya banyak hal yang masih belum selesai. Aku juga tak tahu kapan kau bisa melepaskannya. Apa kau bersedia melepaskannya? Kasus ini mungkin akan memakai waktu tahunan, apalagi kasus Dench. Aku tidak bisa menunggu selama itu, kita berbeda benua, seseorang harus melepaskan egonya, hubungan kita sulit."


"Aku menginginkan orang yang menginginkan keluarga. Kita teman kerja, akan rumit jika membawa perasaan. Tapi jika teman, maka hubungan kita akan lebih mudah. Aku tak akan mengatakan apapun padamu sekarang, selain kita lebih baik menjadi teman. Kecuali kau mengatakan padaku, kau bersedia melepaskan semua obsesimu sampai saat ini dan menyerahkannya pada hukum. Setelah kita berusaha semampu kita." Aku tersenyum dengan kalimatnya.


"Bukankah kau tak bisa mengatakan ini jika kau tak punya hubungan apapun denganku. Tapi kau benar entah kapan aku bisa melepaskan beban ini. Kau pria yang baik. Aku beruntung bisa menjadi temanmu."


Aku tak penasaran lagi sekarang. Memang lebih baik kami menjadi teman. Terlalu banyak penghalang diantara kami dan yang terbesar adalah obsesiku sendiri. Sekarang aku mengerti masalahnya ada padaku. Sekarang perkataanku membuatnya menghela napas.


"Jika kau ingin pindah ke London. Kurasa dengan pengalaman kerjamu kau bisa minta pekerjaan yang sesuai ke Thomas."


"Kau tahu belum bisa meninggalkan kasus ini."


"Serahkan hasilnya ke DEA dan otoritas. Mereka sudah mendapatkan balasan. Kau sudah melakukan semua yang kau bisa sampai detik ini. Apa kau ingin jadi pembunuh seperti mereka? Ayahmu tidak menginginkanmu menempuh jalan panjang seperti ini, dia menginginkan kau melupakan ini dan meneruskan hidupmu dengan baik." Darimana dia tahu sampai keinginan Ayahku?


"Apa aku pernah menceritakan itu padamu, darimana kau mengetahuinya?"


"Kau mengatakan semuanya saat kau mabuk."


"Ternyata begitu..." Aku menang bicara sangat banyak rupanya.