
Aku harus menelepon Thomas soal ini. Nanti aku dikeluarkan dari tim jika bertindak sendiri.
"Thomas."
"Iya ada apa?"
"Bagaimana kalau kukatakan aku bisa mendekati Gerrald Herron. Apa kau mau aku membantuku menyadap ponselnya."
"Bagaimana kau bisa mendekatinya?" Dia tidak bereaksi langsung memarahiku. Itu pertanda bagus kurasa
Aku menceritakan semuanya, dan apa yang terjadi beberapa waktu belakangan. Tak ada yang terlewat sehingga dia bisa menilai keadaannya.
"Hmm, baiklah, kemajuan penyelidikan memang lambat... tolak dia pada pertemuan pertama. Lalu berpura-puralah kau bertemu dengannya di sebuah tempat. Sebenarnya sudah ada orang yang mengawasinya."
Dia diam sebentar sebelum melanjutkan.
"Akan ada seorang kepala tim yang menghubungimu nanti dan menyusun rencana bagaimana menyadap ponselnya. Kebanyakan akan di usahakan di akhir pekan dan pertemuan di sebuah tempat hiburan lebih bagus karena kita punya banyak pengalih perhatian. Aku mendapat kabar Gerald ini juga sangat sering mengunjungi tempat seperti itu."
"Baik Sir. Aku akan menunggu."
Akhirnya aku diberikan kesempatan bergabung dengan operasi lapangan. Ini akan jadi pengalaman pertama untukku.
...••••••••••••••••...
Salah seorang kepala tim yang disebutkan Thomas akhirnya meneleponku. Dan dia menjelaskan apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan kendali atas ponsel Gerald.
Sebelumnya aku sudah menolak undangan makan malam Gerald, sebagai tambahannya aku mengatakan kepada Robert bahwa bossnya dengan tidak berperasaan mengajakku makan malam.
"Gerald mengajakmu makan malam?" Dia seakan tak percaya boss tamaknya itu benar-benar ingin memakai keuntungannya sebagai boss dan menyerobot gadisnya dan menawarkanku makan malam. Dia langsung meneleponku begitu aku mengatakan itu padanya.
"Hmm...benar sekali." Robert tak bicara apapun. Tapi jelas baginya bahwa Gerald sama sekali tak menghormatinya sebagai teman sekarang.
"Boss-mu itu nampaknya senang berburu berbagai jenis wanita." Aku menambah komentarku untuk memanasinya.
"Kau tak menjawabnya."
"Ohh aku sudah mengatakan aku sibuk, aku tak akan menghabiskan waktuku untuk playboy Beverly Hills tukang pamer pesona seperti itu."
"Jika dia menggangumu, abaikan saja. Kau bisa memblok teleponnya." Robert memberiku sarannya.
"Iya baiklah."
Sesudah memanasinya aku kembali ke rencanaku bersama tim. Aku yang akan bekerja untuk mengalihkan perhatiannya sementara yang lebih terampil akan mendapatkan ponsel dari manapun dia menaruhnya.
"Jadi aku akan berusaha menariknya ke lantai dansa."
"Ya, klub ini punya lantai dansa yang cukup crowded untungnya di akhir pekan, jangan khawatir ada beberapa orang yang berakting sebagai lesbian akan memanaskan suasana. Kami hanya perlu 3 menit dengan ponselnya. Setelah itu kau bisa kembali mencampakkannya."
"Aku mengerti."
Semua rencana telah dibuat, jadwalnya sudah di pastikan oleh orang yang mengawasinya sekarang tinggal pelaksanaannya.
Jam sembilan malam, aku dan timku sudsh siap di klub, dia akan datang sebentar lagi. Aku dalam dress provokatif berwarna merah dan hitam, menonjolkan asset tentu saja, sementara wanita yang lain akan berdandan dengan warna hitam, rambut tergerai seksi dengan heels, aku siap untuk misi pertamaku.
"Aku merasa seperti sedang menunggu pelanggan." Partner wanita teman timku terkikik dengan kata-kataku.
"Tenanglah, ini untuk mengirimnya ke penjara, menggoda mafia playboy ini hanya pekerjaan dua jam selesai." Aku akan berlagak agak tipsy untuk pekerjaan kali ini, karena aku perlu alasan setelahnya untuk melenceng dari karakterku yang tidak menyukainya dan menolak undangannya sebelumnya.
"Iya ini pekerjaan mudah." Meyakinkan diri itu perlu, jadi aku akan mengatakan ini akan berjalan mudah. Ini operasi pertama yang mendebarkan.
"Aku tahu ini operasi lapangan pertamamu, kau akan melewatinya dengan baik dengan bantuan kami." Teman-teman satu timku sudah sering menjalankan operasi, mereka nampaknya jauh lebih tenang dari pada aku.
Jam 10, sudah puncak keramaian. Agen pria sudah menentukan target, group Gerald membuka meja di area VIP, yang bisa dengan mudah melihat pertunjukan tari dan DJ di bawah. Aku tak tahu siapa yang bersama dengannya tapi kami tak perlu mengecek karena yang menjadi target kami adalah ponselnya. Yang penting adalah tidak ada Dench disana.
"Itu dia, kau sudah siap?"
"Oke."
Kami berjalan sambil tertawa, kami juga membuka meja VIP di area itu, pria yang ikut di tim yang membukanya. Lingkaran kami hanya jarak satu meja dari meja mereka. Kami berpura-pura dari lantai dansa dan kembali ke meja kami.
"Giliranku nanti! Hei, Jen! Belikan aku minuman, kau kalah!" Aku paling kencang suaranya saat lewat di depannya sekarang. Pastinya dia masih ingat padaku, baru tiga hari aku menolak kencannya.
Teman-temanku menimpali, dan aku bicara lagi. Mereka memberikan spot padaku. Sesuai dengan skenario yang kami bicarakan.
"Umpan di makan. Dia ke meja kalian. Ponselnya di kantong kanannya." Salah seorang pengamat bicara di earphone kami. Kami berhasil, tetap saja aku tidak boleh melihatnya duluan.