
"Boleh kulihat kamarmu..." Aku menghentikan ciumannya. Bagaimana jika pengurus rumahnya lewat di sana. Bagaimanapun ini belum terlalu malam.
Dia tersenyum kecil dan menarikku ke sebuah pintu di lantai dua itu. Sebuah kamar cozy dengan garis design yang sama.
"Ini juga kamarmu sayang, kapan kau pindah ke sini."
Aku tak menjawabnya, kubuka kanc*ing kemejanya. Aku penasaran padanya, bayangan tubuh tegap itu, membuatku ingin menyentuh kulitnya.
"Sweetheart, kau jadi nakal."
"Waktu aku mabuk kau sudah melihatku, aku tak pernah melihatmu." Sekarang dia menarik gaunku dan menyentuh kulitku, menc*ium dan mencum*bu dengan sabar.
"Aku tak menyentuhmu, hanya melihat sedikit... Tidak ada yang terjadi." Saat aku bisa melihatnya, menyentuhnya semuanya menjadi terlalu panas.
Sesuatu terasa menyentuhku, dirinya yang lain bangkit begitu saja dan dengan keras menekanku. Aku mengelinjang dan mendesah tertahan dalam cu*mb"uan mesra itu. Menyukai bagaimana dia menggodaku, melihat, merasakan tekanan tubuhnya dan membuatku dalam kekuasaannya tapi tidak melakukannya padaku.
"Desa*hanmu itu sayang... Kendalikan dirimu." Dia menutup eranganku dengan menciumku.
"Kau hanya menggodaku, aku mau kau sekarang Senior, kunci aku, buat aku tak berdaya di bawahmu." Aku mengeliat mendapatkannya, tapi tidak bisa hanya jemariku yang merasakannya menjadi lebih dekat.
"Kau mau ini sayang..." Bagian dari dirinya membuatku memeluknya erat. Aku menyebut namanya dengan mendamba. "Sudah lama sweetheart, kau terlalu keras pada dirimu sendiri. Kau sangat menikmatinya." Dia mengabulkan permintaanku, rasa dikuasai ini menyenangkan, membuatku mengigit bibirku dan memejamkan mataku.
"Kita tak memakai pengaman." Aku terlalu terlena pada Coldlin ini sehingga aku melupakannya.
"Jika terjadi sesuatu pun tak apa, itu lebih baik." Dia tak memperdulikan tanganku yang menaham dadanya tapi tak bisa melawannya karena aku dalam kekuasaannya.
"Colin kau sudah berjanji." Aku memprotesnya. Dia melihatku sekarang.
"Mungkin kau tak sadar melakukannya, bukan aku tak percaya padamu. Bisakah kita pakai pengaman saja. Aku tak membebani anak kita dengan hal yang belum selesai." Dia membuatku berguling di sampingnya, sehingga aku bisa melepaskan diri. Tapi dia mengunciku dengan ciumannya.
"Anak kita, itu terdengar bagus. Suatu hari sweetheart. Itu permintaan..."
"Iya, suatu hari. Kita akan menantikannya. Saat kita sudah di rumah ini. Dan aku sudah lepas dari obsesiku. Aku berjanji..."
Dia bergulir, menjangkau sesuatu di laci.
"Ini yang kau inginkan." Aku menjangkaunya dengan senyum merekah di bibirku.
"Maafkan aku tapi kau harus memakai ini dulu."
"Kau tukang siksa yang pintar...." Sekarang ganti aku yang mengendalikan semuanya. Aku do atasnya, membuatnya menahan napas karana aku yang akan memegang kendali kecepatan permainan.
Tak lama semuanya menjadi terlalu intens bagiku, lonjakan gelombang yang kurasakan membuatku berhenti dan memeluknya.
"Gadis nakal, kau memanfaatkanku . Tunggu dan terima hukumanmu." Kali ini dia membalikku dan ganti memegang kendali. Ketika itu selesai, pelukan eratnya membuat perasaanku bahagia.
"Terima kasih. Istirahat, besok kita masih banyak waktu." Mataku berat, aku memejamkan mata dengan bahagia.
Di antara salju halus yang turun melingkupi London, aku mempunyai seseorang disampingku yang memelukku.
Aku terlelap dengan bahagia malam ini. Rumah masa depan ini membuatku bahagia.