
POV Emma
Semalam dia mengatakan semuanya dengan tiba-tiba. Aku masih bisa melihat ekspresi kekecewaannya. Bukan dia saja yang kecewa mungkin aku juga kecewa tak bisa meninggalkan ini.
Siang ini aku mengantarkan data yang dimintanya ke rumahnya.
"Masuklah." Melihatnya lagi membuat perasaanku tak menentu. Belum apa-apa aku sudah merindukan pelukannya. Apa aku salah menolaknya.
"Kuberikan padamu. Atau kau ingin aku mengirimkannya ke kurir, aku bisa mengaturnya?" Aku mencari bahan pembicaraan. Tak tahan untuk memikirkan aku kehilangan pria baik seperti Colin.
Dia bersedia untuk tetap membantu saja sudah jadi anugerah untukku. Aku tidak berpikir untuk meminta apapun lagi selain menjadi temannya.
"Berikan padaku saja, aku perlu bertemu dengannya langsung."
"Aku membawakanmu lasagna yang kau sukai." Dia tersenyum padaku. Apa dia tidak sakit hati padaku karana aku menolaknya.
"Terima kasih." Dia mengamit tanganku membuatku kaget. "Apa?" Tiba-tiba dia menarikku ke dekatnya. Membuat jantungku berdebar tak menentu.
"Aku ingin bicara." Kenapa dia membuat pendekatan fisik seperti ini. Semalam dia hanya membalas pelukanku dan melepasku begitu saja.
"Bicara apa ..."
"Soal semalam. Aku tidak menerima penolakanmu. Aku tahu aku salah memaksamu menjawab saat ini juga. Tapi jadilah kekasihku..."
"Jadi kekasihmu...."
"Aku akan mengambil resiko menunggumu. Jika hubungan kita tak berhasil nanti tidak apa. Aku merasa sudah mengusahakan yang terbaik. Setìdaknya aku tak menyesal lagi."
"Colin... kau yakin? Semua yang kau katakan semalam benar. Aku tidak apa jika kita berteman saja sudah kubilang." Bagaimana jika kami tak berhasil.
"Emma, aku tak memintamu pergi saat ini. Kau tahu hubungan ini sulit jika salah satu dari kita tidak pindah. Kau bisa melupakan semuanya yang terjadi di sini setelah kita berusaha memenjarakan Dench, Camilla dan DEA pasti bisa mengurus ini." Dia berdiri di depanku dan menghadapkan aku padanya sekarang.
"Aku belum punya bayangan sejauh itu. Itu hal yang besar untuk diputuskan dalam semalam Colin. Aku belum pernah menghadapi hubungan yang serius seperti yang kau minta. Kau minta aku menaruh semua kepercayaanku padamu... Seumur hidupku aku belum pernah menaruh kepercayaan pada cinta, pada orang lain, aku percaya pada diriku. Kau benar hubungan kita sulit. Lebih baik seperti katamu kita tak memulai, aku bisa mengerti semua alasanmu. Kau punya kehidupan di UK, aku punya kehidupan di sini. Yang kuharapkan sebenarnya hanya friend with benefit. Pindah mengikutimu ke UK tak termasuk dalam rencanaku." Aku tertawa, karena memang itu yang kupikirkan awalnya. "Tapi ternyata kau jauh lebih rumit, kau jauh lebih baik dariku. Sayangnya aku juga punya banyak masalah yang menjadi beban untuk menyetujui permintaanmu. Kau sudah melakukan banyak hal untukku tapi aku membuatmu kecewa..."
"Kau tidak bisa menjawabku begitu. Aku tak minta jawabanmu sekarang."
Sekarang dia memeluk pinggangku, memegang tengkukku dan mencuri ciumanku. Aku kaget dan menatap matanya, bukankah dia bilang kami lebih baik tak memulai, lalu apa ini.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku tak meminta kau menjawabku sekarang, aku mengakui aku salah memintamu . Perkataan tadi kuanggap tidak ada. Aku hanya minta jadilah teman kencanku. Aku tak mungkin salah kali ini."
"Apa maksudmu..."
"Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran. Kau bilang...."
"Aku tahu tak adil bagimu jika aku tak menunjukkan kesungguhanku. Saat liburan nanti kutemani kau liburan oke. Lagipula, aku sedang akan lebih banyak di USA di awal tahun depan untuk pembukaan kantor representative di NY. Jadi anggap saja aku sedang berusaha."
Aku tak percaya ini.
"Kau bilang semalam..."
"Aku akan sering berada di USA tahun depan. Tapi setelah itu aku akan membawamu ke London."
"Kau bicara seolah kau sudah tahu ini akan berhasil." Aku meringis. "Bagaimana jika..."
"Aku percaya kerja keras akan sebanding dengan hasil yang didapat. Itu motto hidup." Mau tak mau aku meringis geli dan tertawa.
"Bagaimana dengan Julie?"
"Julie, kenapa kau bertanya soal Julie. Aku kenal siapa pacarnya. Julie akan pindah ke US demi bersama kekasihnya. Mereka sudah putus sebenarnya, kisahnya kurang lebih mirip dengan kita, kekasihnya bilang terlalu banyak perbedaan diantara mereka, ...." Dia menceritakan cerita bagaimana Julie dan seseorang yang bernama Louis itu bisa bersama. Nampaknya Julie ini menginsipirasinya untuk tidak menyerah begitu saja.
"Apa kau hanya ingin menjadikanku alat balas dendam ke Julie. Kau benar sudah melepasnya?"
"Aku dan Julie hanya teman biasa. Ini jelas buka karena aku ingin membalas Julie. Jadilah kekasihku. Aku tahu kau menyukaiku, kita jalani saja dulu apapun yang terjadi. Kenapa kau harus menolakku sekarang. Kau mengharapkan ini bukan, dari kemarin kau selalu memancingku?" Dia tampaknya bersungguh-sungguh.
"Jika kita tidak berhasil apa kau akan memyalahkanku. Kau akan membenciku?"
"Tidak, selama itu dikatakan secara terbuka. Kita tetap akan jadi teman kerja, walaupun mungkin aku tak bisa membantumu begitu banyak lagi."
"Hmm..." Aku masih berpikir panjang.
"Ibuku tahu tentang kita, dia bilang aku yang salah karena memaksamu begitu cepat. Saat kaj di London dia ingin berkenalan denganmu dan dengan Paman dan Bibimu. Aku akan ikut ke Paris."
"Dia ingin berkenalan denganku? Dan Bibiku? Apa ini tidak terlalu cepat? Kau yakin?"
"Iya aku yakin."
"Tapi kita... bahkan baru..." Dia langsung memotong lagi.
"Sebuah hubungan yang diketahui keluarga pasti lebih baik. Kenalkan aku jadi kekasihmu." Apa dia berniat memjadikan Bibiku sebagai pendukungnya. Dia sangat serius soal memastikan aku akan ke London.
"Ini..." Apa yang harus kujawab.
...bersambung