
"Kau sendiri yang bilang kau hanya membayangkan kita berkencan. Jangan mengingkarinya." Dia tersenyum padaku, tidak memberiku pilihan selain mengiyakan yang dikatakannya.
Coldlin ini, dia menahanku di dekatnya. Memakai daya tariknya, membuatku terpojok dan kehabisan kata.
"Pemaksa..."
"Bukankah kau menyukainya."
"Kapan aku berkata aku menyukainya."
"Kau tak bisa menyembunyikan senyummu." Aku mendorong dadanya dan mengigit bibirku. Menelan senyumku dan menjadi malu. Dia benar aku senang dia menjadi kekasihku. Setelah berpikir apa yang dia minta masih bisa kuterima saat ini.
"Lepaskan aku." Pelukan ini, membuat lututku lemas tapi jantungku berdegup kencang dan pipiku memanas, dia tahu itu.
"Kau memerah sweetheart..."
"Coldlin, kau menyebalkan. Berhentilah menggodaku, apa yang sebenarnya kau inginkan." Aku mendorong wajahnya yang terlalu dekat dan dia tertawa karena senang.
"Itu kata lain kau menyukaiku bukan." Dia tertawa. "Kau gadis aneh , kenapa pikiranmu rumit sekali."
"Kau terlalu baik."
"Aku terlalu baik, tapi kau malah menolakku. Sebenarnya apa yang kau inginkan. Aku jadi jahat padamu.
"Kau tahu bukan itu alasannya."
"Aku tahu alasannya, tapi selama ini aku tak pernah meninggalkanmu, kita hadapi ini bersama oke. Aku ada di sampingmu. Walaupun aku tidak di sini kau harus berhati-hati mengambil tindakan sekarang. Kau selalu menuruti emosimu dalam bertindak."
"Aku tahu aku selalu membuat kesulitan untukmu, kenapa kau terlalu baik padaku."
"Karena kau istimewa. Itu cukup untukmu. Aku tak punya penjelasan lain lagi. Berhentilah menolakku dan terima saja statusmu sebagai kekasihku."
Aku tersenyum, kata-kata kekasih ini. Selama ini aku melupakannya, itu
"Kekasih... kapan aku mempunyai kekasih, terakhir kurasa sudah empat tahun lalu."
"Apa yang terjadi padanya empat tahun lalu."
"Kau itu wanita yang sangat kejam bukan."
"Iya. Aku sangat kejam. Saat itu aku bahkan baru tiga tahun di biro saat itu. Aku baru punya akses ke tim utama, baru mempunyai akses ke penyidik utama, baru mengetahui portofolio kekayaan Dench, dan menjadi marah melihat dia seperti menjual nyawa Ayah dan Ibuku yang malang. Bagaimana dia berharap aku melepas semua itu dan berkeluarga bersama kekasihku."
Colin diam sekarang.
"Aku memang kejam. Hidupku memang bukan untuk cinta saat itu. Aku takut kau membenciku, itu pasti menyakitkan untukku. Kerena kau terlalu baik..." Aku menyentuh wajahnya dan dia menangkap jemariku.
"Tetaplah bersamaku, kita akan kirim Dench ke penjara. Tapi setelah itu ikutlah denganku ke London. Hiduplah dengan tenang seperti harapan Ayahmu."
Dia meminta banyak hal tapi juga menjanjikan banyak hal. Jika aku bisa mengirim Dench ke penjara maka sudah cukup. Iya aku berjanji itu akan cukup dan menghormati keinginan Ayah dan Bibi.
"Iya. Aku akan ikut jika masalah Dench selesai."
"Kau harus ingat kau sudah berjanji sweetheart."
"Aku sudah berjanji, aku tahu."
Sekarang dia menghela napas lega.
"Besok aku kembali ke London, aku harus bertemu seseorang menyerahkan data ini sore ini. Aku akan menjemputmu di London, bilang pada Bibimu kau sudah punya kekasihmu. Jika Dench atau Cohen mengancammu, beritahu aku, yang bisa mengancam orang bukan cuma mereka. Kau harus menunggu proses dari DEA dan orangku. Kita setuju soal ini?"
"Iya baiklah. Aku setuju."
"Tapi kenapa kau secepat ini memberitahu Ibumu. Aku bahkan menolakmu."
"Ibu yang memberikan alasan kenapa kau menolakku. Aku tahu aku harusnya mencoba lagi. Dan dia ingin bertemu kalian. Dia mengajak kalian makan malam nanti."
"Hmmm...aku tak terbiasa dengan ini."
"Kau akan terbiasa."
Kata-kata itu. Sepertinya penuh dengan kepastian.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=