
"Semoga kalian secepatnya bisa tinggal disini."
Sebuah pesan dari Ibunya membuatku terharu. Dia menerima kami begitu baik, mengobrol dengan Paman dan Bibiku seakan mereka sudah kenal lama. Menjamu kami sealan kami sudah dianggap bagian dari keluarga mereka.
"Apa Ibumu begitu baik. Kenapa nampaknya dia sangat mendorongmu?"
"Ehm...Kurasa dia ingin aku punya pendamping secepatnya. Bagaimanapun aku anak pertamanyanya. Sepertimu sebelum ini aku belum pernah mau berkomitmen, baru kau yang ku sebutkan ke Ibuku." Dia mengantarku dan Bibi ke hotel saat kembali.
"Benarkah, aku tersanjung." Mau tak mau aku tertawa saat dia berkata begitu.
"Baiklah, kalian memang hanya memberitahu saat kalian sudah pasti. Itu bagus. Cepatlah kalian menikah." Ibu membuat aku lebih berbunga-bunga lagi. Dia dan Ibu Colin tampak sangat cocok.
"Tuan dan Nyonya saya ingin mengajak Emma berjalan-jalan sebentar."
"Ohh baiklah, ini liburan kalian, anggap milik kalian." Paman dan Bibi turun duluan memberi kami waktu bicara.
"Kemana..."
"Ke rumahmu." Dia memintaku untuk ke rumahnya. Aku mengulum senyum ketika dia bilang rumahku juga.
"Kau sangat yakin itu akan jadi rumahku. Bagaimana kau secepat itu mengatakannya. Dua bulan kemarin kau masih bersama Julie."
"Entahlah, aku hanya merasa begitu. Aku hanya tahu dari keinginanku untuk membuatmu aman." Mendengarnya mengatakan kadang membuatku merasa dalam mimpi. Ada yang sebaik ini padaku walau aku tak pernah memintanya.
"Ini rumahmu." Aku mengagumi rumah di daerah dekat taman kota Hamstead Heath itu. Desain minimalis dengan pemandanngan taman luas terbuka itu pasti indah di musim panas.
"Aku menyukainya." Sementara butiran salju nampaknya turun malam ini. Dinginnya udara tak terasa saat dia mengenggam tanganku memasuki rumahnya. "Tamannya luas." Dia mengajakku melihat rumah apik dengan warna-warna monokrom itu.
"Jika aku bekerja kadang aku tidak kembali ke sini. Aku punya apartment di Central London. Tapi jika sudah akhir pekan aku biasanya di sini. Rumah ini yang kuanggap rumah. Kau bisa menganti warnanya jika tak suka, ..." Dia menyuruhku menganti warnanya. Apa yang ada di dalam pikirannya.
"Besok aku akan mengenalkanmu ke pengurus rumah. Dia sudah beristirahat..." Dia memutar tubuhku menghadap ke arahnya. "Kau suka rumahmu."
"Colin, ...ini belum jadi rumahku." Di dalam hati aku takut di masa depan aku mengecewakannya. Dia menarikku duduk di pangkuannya di sofa besar ruang keluarga itu.
"Kau sudah berjanji, apa kau tak ingat."
"Iya aku sudah berjanji, tapi aku tak tahu masa depan."
"Apapun yang terjadi kita akan menghadapinya berdua. Ada kesulitan pasti, tapi kita menghadapinya bersama, bukan kau sendiri. Kau selalu berpikir semuanya bisa kau jalani sendiri. Padahal ada aku di sampingmu untuk berbagi."
Dan apa yang dikatakannya selalu janji untuk mendampingiku apapun yang terjadi.
Sebuah ciuman kecil menghampiriku. Aku tersenyum padanya, ciuman lembut itu manis, meninggalkan aku menatap matanya dan memainkan rambutnya.
"Coldlin, katanya kau sombong. Tapi kenapa kau semanis ini padaku. Apa kau terbentur sesuatu belakangan. Mungkin kita perlu ke dokter." Dia tertawa kecil ketika aku mengetuk kepalanya.
"Aku hanya bersikap manis padamu, tapi kau tak menganggapku ada. Malah menjadikan perasaanku permainan. Kau menolakku langsung detik itu juga, kau memang gadis kejam. Apa yang tidak kuusahakan untukmu, tapi kau senang sekali marah-marah padaku."
Kukunci tengkuknya dan kubalas cium*annya dengan pantas. Cium*an itu memanas, saling mengunci seakan tak pernah puas. Menyenangkan mendapatkan seseorang menginginkanmu lagi setelah bertahun-tahun menghindari perasaan seperti ini.