COLD REVENGE

COLD REVENGE
Part 76. Cohen Get Caught 1


Aku tahu dia pasti marah, aku tak cerita padanya apa yang aku lakukan.


"Aku tak apa, hanya mengikuti Dench dan membuat penemuan menarik beberapa hari ini. Kau tak usah khawatir, aku tak berniat muncul di depannya dan berkelahi dengannya. Aku memakai penyamaran, berhati-hati dengan posisiku. Sekarang aku akan pulang. Kau jangan marah Colin sayang." Sekarang kucoba berdamai dengannya, setidaknya untuk menenangkannya.


"Kau tahu semua orang mengkhawatirkanmu." Ya aku tahu, tapi aku juga tak ingin berdiam diri dan tak melakukan apapun.


"Kau harus sedikit percaya padaku. Aku juga bukan orang yang sembarangan mengambil tindakan. Aku hanya tak bisa membiarkan mereka hidup tenang. Aku menemukan sesuatu tentang Cohen. Dia menjual barang narkotika sitaan kepada Lucchese."


"Percaya padamu? Kau pikir bagaimana paniknya aku ketika temanmu bilang kau tidak bisa dihubungi tadi? Aku percaya padamu?! Kau tidak bilang satu katapun kau kemana?!" Dia meledak sekarang, aku diam.


"Baiklah aku salah, tapi aku baik-baik saja. Kupikir ini hanya pengintaian. Pengintaianku juga berhasil. Maaf oke. Aku mau kembali, jika aku masih di sini nanti keamanan menemukanku dan mencurigaiku. Aku putuskan dulu oke."


"Besok aku kesana, dan tidak akan mengikuti siapapun besok!"


Dia memutuskan telepon dan masih marah. Sementara aku masih memikirkan apa yang harus kulakukan soal cocaine di mobilnya. Aku perlu seseorang yang bisa langsung menangkapnya.


Ada barang bukti yang bisa menangkapnya sekarang juga, jika dia menyingkirkan barang bukti ini aku akan kehilangan momentum. Tapi dia bodoh juga dia berani menyimpan barang bukti di mobilnya sendiri.


Siapa yang bisa kutelepon? Colin dan Camilla jelas tidak, mereka orang UK, dia hanya bertugas spying disini. Antonio? Mungkin, tapi tugasnya lebih banyak di perbatasan. Harus orang yang lebih tinggi pangkatnya, aku takut ada orang yang berkerja sama di kantor itu. Saat dia menjebak Ayahku pun dia dengan mudah memperoleh cocaine. Mungkin sekali dia sudah lama tak tertangkap.


Iya, kurasa dia orang yang tepat. Semoga tak ada kasus mendesak besok sehingga aku bisa bicara padanya. Tapi di sisi lain aku mungkin harus membuka apa yang kulakukan juga. Termasuk membayar jasa hacker FBI. Tapi hanya sampai situ, kurasa itu mau tak mau harus kubuka, jika tidak bagaimana aku punya kemampuan melakukan peretasan data keuangan.


Dan kisah hidupku pada akhirnya.


\=\=\=\=\=\=\=


Aku sampai pagi-pagi sekali. Mr. Park datang biasanya lebih pagi, dia bilang itu membantunya berkonsentrasi pada pekerjaan sepanjang hari.


Aku lebih suka muncul di batas waktu. Dan aku melihatnya sekarang di lobby akan naik ke atas.


"Emma? Kau muncul pagi sekali." Sudah kuduga dia akan berkomentar seperti itu. Aku meringis lebar di depannya. "Kau menungguku nampaknya." Dalam sekejab dia tahu aku punya urusan dengannya.


"Yes Sir. Aku punya masalah." Dia melihatku sekilas, tetap menuju ke lift dengan pembawaan tenangnya. "Aku membawakanmu kopi."


"Well, terima kasih. Ikut saja ke ruanganku." Aku mengikutinya dengan patuh dan berdebar sebenarnya. Aku takut pertanyaannya merembet ke mana-mana. Penyidik senior seperti dia tidak akan mudah di hadapi. Aku sudah berhati-hati memetakan jawaban dari pertanyaan yang akan kuhadapi.


"Duduklah, Emma. Katakan apa yang bisa kubantu untukmu." Aku akan langsung saja pada persoalanku.