
Dia benar-benar mogok bicara padaku sampai berada di depan apartmentku. Dia tak main-main dengan ancamannya. Bicara padanya atau dia akan melaporkan ini pada Thomas. Senior menyebalkan ini tahu cara mengancam orang!
"Kau pikir Thomas akan percaya penilaianmu. Aku sendiri yang akan menelepon Thomas kalau kau mengancamku tanpa alasan yang jelas. Benar-benar tidak ada apa-apa. " Aku masih mencoba membalikkan kondisi ini untuk terakhir kalinya.
Dia tersenyum kecil padaku.
"Kau boleh mencobanya, kita akan lihat siapa yang menang dan siapa yang akan di percaya." Bangsat ini memang menyebalkan. "Turunlah, aku mau kembali ke hotel." Dia bahkan mengusirku. Aku masih memelototinya dengan kesal. Belum memutuskan aku akan bicara atau tidak, pikiranku masih mencari kemungkinan bagaimana menanganinya.
"Nona Emma, kau ingin kita di lobby semalaman, atau kau mau ikut aku kembali ke hotel. Aku tak akan membiarkan kau masuk ke kamarku yang jelas. Kau bisa pulang sendiri dengan taxi." Aku membenci pikirannya yang tak bisa kumanipulasi.
Satu-satunya cara adalah membuatnya tak mengatakan pada Thomas sekarang. Persoalan ini hanya sampai di sini saja.
"Fine! Aku bicara! Kau puas!" Dia menaikkan alisnya padaku. Kemudian tersenyum ketika tahu dia memenangkan perang urat syaraf ini.
"Itu tergantung sebesar apa kau membuat kekacauan. Aku akan mendengarkan kau mau bicara sekarang atau kita parkir saja." Dia menjalankan mobil ke parkiran. Dan parkir di sana.
"Naik saja! Aku mau ganti baju, baju ini memyebalkan sama sepertimu!" Aku turun dan membanting pintu, dia malah meringis lebar dari dalam melihatku marah-marah dari dalam mobil. Harusnya kupatahkan saja jarinya waktu latihan kemarin. Dia memang menyebalkan terkadang.
"Kau mau ikut tidak?!" Dia masih belum turun aku meneriakinya, anehnya dia tetap sabar mengikutiku. Dia turun dari mobil dan mengikutiku berjalan ke lift lobby.
Kami berdiam diri sampai di unitku. Aku membuka pintu dan membiarkan dia masuk.
"Junior kurang ajar, aku lebih kaya darimu kurasa kalau kau belum tahu. Apa perlunya mencuri darimu. Kau punya berlian berapa karat di apartment ini."
"Kau tak perlu sesombong itu di depanku." Aku tak takut padanya aku hanya akan takut pada Thomas. Dia pergi ke kulkas dan hanya membawa jus dan menemukan keripik kentang, dengan enteng duduk di meja dapur.
Keripik kentang apa dia lapar? Ternyata dia lapar. Aku harus negosiasi dengannya. Kalau dia kenyang mungkin masalah ini tak perlu sampai ke Thomas.
"Ada lasagna? Kau mau?" Dia tersenyum mendengarku menawarinya makanan.
"Kau sedang berusaha menyogokku bukan."
"Iya." Dia nampaknya tahu apa yang ada di pikiranku, kupikir sia-sia saja unguk membohonginya sekarang.
"Aku mau." Dia tak perduli aku kesal. Aku melihat sekarang tapi dia malah tersenyum. "Aku boleh makan di sini, kau junior yang baik ternyata." Lain kali akan kubuat dia kesulitan. Kumasukkan lasagnanya ke microwave.
"Satu menit." Kunyalakan microwave itu dan membiarkan dia menungguinya.
"Terima kasih." Dia tersenyum. Aku meninggalkannya untuk mandi, biarkan saja dia menunggu bahkan dia masih makan.