COLD REVENGE

COLD REVENGE
Part 42. Deal


Aku diam, tak ingin bicara lagi. Mereka memang tak akan mengerti bagaimana aku menekan perasaanku selama bertahun-tahun. Memendam dendam selama bertahun-tahun, mereka tak mengalami apa yang kualami. Setiap malam teringat Papa dan Mama yang mati penuh penyesalan.


Air mataku menetes karena kesal, tapi aku dengan cepat menghapusnya. Colin menghela napas melihatku menangis. Dia berpindah duduk disampingmu


"Kau tidak akan dikeluarkan, aku bisa menjamin itu, kau setuju bergabung dengan kami karena ingin punya kekuatan membalas. Tidak mungkin kau tidak di beri informasi apa yang terjadi. Aku mengatakan kau akan dikeluarkan itu tadi hanya untuk mengancammu. Lain kali, terakhir kali kumohon jangan bertindak dengan pemikiranmu sendiri, Thomas sudah mengingatkanmu.. Aku juga tidak berniat mengeluarkanmu, aku seniormu sudah kukatakan jika kau melakukan sesuatu katakan padaku atau pada Thomas jika kau tak ingin berbelit. Sudah jangan menangis lagi."


Aku membuang pandanganku dan tetap tak mau melihatnya.


"Lain kali konsultasikan tindakanmu pada Thomas. Walaupun kau mengatakan ini tak akan diketahui tapi tetap saja jika Thomas menemukan kau bertindak sendiri dan tidak berdiri di dalam garis tim maka kau akan disalahkan."


Telan saja perkataanmu untuk dirimu sendiri.


"Ini..." Dia tiba-tiba memberiku sebuah kunci dan kartu akses ke tanganku. Aku binggung ini apa.


"Ini apa?" Aku sekarang melihat padanya.


"Jika kau perlu tempat aman menghindari Robert, kau bisa mengakses apartmentku di Palisade. Aku jarang ke sana, jika kau di sana beritahu saja aku via text. Kau masih harus mempertahankan status quo dengan Robert untuk mempengaruhinya. Tapi jika kau ingin menghindar kau bisa ke tempatku, kau bisa bilang kau punya pekerjaan ke luar kota atau apapun yang kau ingin katakan."


"Apartmentmu di Pasific Palisades?"


"Iya di Santa Monica. Apartment 3 bedroom. Cuma 20 menit dari kantormu di Willshire kukira. Tempatnya bersih ada orang yang seminggu sekali membersihkannya. Kau bisa menggunakannya."


"Ini properti pribadimu bukan? Bukan faselitas agency?"


"Kau tetap akan melaporkanku?" Masih mencoba menawar soal Dench. "Aku menjamin tidak akan ada yang tahu."


"Iya aku masih tetap melaporkanmu. Tapi seperti yang kubilang aku akan menjamin, ini tak akan membuatmu dikeluarkan dari kasus. Jika Thomas menilai ini tidak menggangu kau akan diizinkan meneruskan. Tuliskan laporanmu dengan lengkap sekarang. Mungkin mereka akan memberimu saran mengerjainya dengan lebih baik."


Aku mendengarkan tapi tetap tak suka bahwa mungkin aku tak bisa menghajar sendiri. Harus melapor pada Thomas, tak bisa membuatnya kehilangan uangnya lebih banyak.


"Dench itu saat kau di rumah Bibimu masih menghubungimu?"


"Tidak tentu saja, dia sudah jadi orang kaya, lebih baik tidak melihatku lagi."


"Setelah kau selesai mendapatkan delapan jutanya. Nanti masukkan datanya ke bagian pajak. Jangan menunggu. Aku rasa tak apa kau mengerjainya begitu, aku punya teman yang sedang mengejar target. Tapi tunggu kita mendapatkan jadwal pengiriman, sudah hampir 6 bulan mereka pasti punya cara baru memasukkan barang. Nanti aku akan membantumu mengerjainya secara khusus." Sekarang dia mendukungku, mungkin mau mengajak berdamai setelah tadi dia mengajakku bertengkar.


"Kirim laporan tertulismu besok. Aku mau kembali. Besok aku ada pekerjaan menunggu." Dia akhirnya akan pergi setelah berupaya tidak membuatku marah.


"Terima kasih sudah menemaniku di misi pertama." Dia bertanggung jawab juga, susah payah datang di tugas lapangan pertamaku, walaupun dia tidak dalam tugasnya.


"Itu tugasku. Jika kau butuh bantuan jangan takut menelepon." Akhirnya pembicaraan kami selesai.


\=\=\=\=