
Aku benar-benar membeli popcorn saat aku sudah bisa membaca berita penemuan Captagon dengan jumlah mencengangkan keesokan harinya.
Judul-judul yang terpampang sangat mencegangkan dan membuatmu bersemangat menjalani hari. Dalam dua hari kemudian Gerald dan Charlie Herron ditangkap, aku bisa melihat wajah Ayah mereka sekarang yang terlihat kacau muncul di televisi dan Ibunya yang sembab menangis.
Keadaan akhirnya berbalik. Sekarang mereka yang merasakan sendiri bagaimana anggota keluarga mereka dipenjarakan. Bedanya kali ini adalah mereka bersalah.
Aku dengan cepat mempersiapkan diri kembali ke apartmentku sendiri setelah hampir dua bulan ini harus mengungsi di apartmentku Colin. Rasanya senang bisa mendapatkan kamarku kembali.
"Thomas, apa aku harus membujuk Robert Castello sekarang untuk bicara ke DEA dan membuka semua operasinya?"
"Tunggu minggu depan, tak perlu buru-buru, Colin akan menemanimu bicara. DEA bisa menunggu bagian itu. Mereka sedang memproses barang bukti sekarang. Dench juga sudah ditangkap jadi mereka sibuk menanyainya." Ternyata Thomas mau Colin menemaniku mungkin dia takut Robert Castello itu masih loyal ke bosnya, padahal aku sudah menceritakan rentetan kejadiannya, kurasa dia tak akan mau membela bos narsisnya itu lagi.
"Ohh begitu, baiklah, kapanpun kalian suruh. Aku akan maju." Akhirnya aku setuju bersama Colin mungkin lebih aman.
Dan sekarang aku cerita ke Bibi apa yang terjadi, dia seperti tak percaya dengan ceritaku. Berkali-kali dia bertanya, "Benarkah..."
"Benarkah? Jadi kau yang mengusahakan bukti penangkapannya juga. Bibi melihat berita itu, banyak sekali pilnya, mereka memasukkannya ke dalam mesin. Dan berita penangkapan anak Herron itu."
"Iya Bibi, kita sudah berhasil melihat karma dibayar kontan sekarang." Bibi diam. Aku penasaran kenapa dia tidak gembira. Padahal aku sudah berhasil membalaskan dendam kakaknya.
"Emma, apa mereka tahu? Bagaimana jika mereka memburumu? Mereka punya uang banyak, bagaimana jika mereka mengirimkan orang untuk ganti membalasmu, Bibi khawatir keselamatanmu seperti Ayahmu." Bibi yang menyanyangiku seperti anaknya sendiri ini memang baik. Dia tidak memikirkan diri dan keluarganya tapi malah aku.
"Benarkah? Syukurlah jika begitu. Yang penting kau tidak dilukai. Bibi akan merasa bersalah pada Ayahmu."
"Dench itu juga akan terseret Bibi, karena dia yang mengatur operasinya. Sekarang giliran dia juga merasakan apa yang Ayah rasakan, mungkin dia juga akan mati di penjara."
"Bibi senang. Bibi senang kau berhasil...setelah ini hiduplah dengan baik seperti pesan Ayahmu tak usah perdulikan lagi masa lalu."
"Iya akau akan melakukannya, nanti akhir tahun bagaimana jika aku mengajak Paman dan Bibi liburan ke Eropa. Kita jalan-jalan bertiga ke London dan Paris. Atau kemanapun Paman dan Bibi suka."
"Kau harusnya menyimpan uangmu..." Dia mulai lagi tak menerima.
"Bibi untuk yang ini tak ada kompromi. Bibi harus ikut dan tidak bisa menolak." Sekarang aku memaksa mereka.
"Baiklah terserah padamu." Akhirnya aku senang bisa melampiaskan kegembiraanku bersama mereka. Beban di dadaku seperti terangkat dan aku menjalani hari lebih tenang dan fokus.
Setelah ini, apa yang harus kukerjakan selain karierku. Mungkin meminta Colin mengenalkan temannya yang dia bilang baik?
Aku meringis memikirkan tawarannya? Seumur hidupku aku akan berhutang padanya. Kuharap dia bahagia bersama Julie sekarang.