COLD REVENGE

COLD REVENGE
Part 57. Single Man



Si ganteng Antonio ini punya faya tarik yang luar biasa kuat, hanya dengan baju kaus rajut pas badan abu-abu biasa, hampir selusin wanita sudah tersenyum padanya sepanjang kami makan malam.


"Astaga, kenapa kau tidak jadi pemain film saja." Satu lagi yang lewat mengedipkan mata padanya. Dia tertawa.


"Aku bukan tak pernah di tawari, kenyataan aku pernah mencoba jadi figuran, tapi sekali lagi aku tak suka berada di depan kamera. Tapi pekerjaan sekarang adalah cita-cita dari kecil karena aku mengidolakan polisi. Keluarga Ayah adalah polisi, jadi kurasa aku tak menikmati perhatian semacam itu, tapi rupa ini cukup membantu memperlancar urusan yang berhubungan dengan wanita. Dia cukup jujur, dan dia punya pride yang bagus. Itu poin plus.


"Itu bagus, punya Ayah yang dibanggakan. Setiap anak perlu itu."


"Dench yang kau benci itu sudah ditangkap beserta dengan Herron, aku melihat beritanya. Penangkapan besar DEA untuk Captagon, kau pasti senang bisa melihat balasan itu untuk mereka."


"Iya, senang melihat karma itu ada."


"Kau tak melanjutkan menaruhnya data banknya ke penyidik pemerimtah?"


"Aku sedang mempertimbangkannya, mungkin nanti. Mungkin aku akan membidik Cohen, dia tak boleh lolos tanpa membayar apapun."


"Aku punya teman orang pemerintah, kau mau mengerjainya? Serahkan saja padaku, biar ku teruskan padanya."


"Nanti saja, aku pernah di curigai olehnya, jika sekarang aku mengerjai mereka berdua mereka akan curiga. Aku takut mereka akan menyeliki sekarang, Cohen masih polisi aktif. Jangan sekarang..."


"Baiklah terserah padamu."


Pembicaraan melebar kemana-mana kemudian. Banyak hal yang menyenangkan untuk dibicarakan. Makan malam yang menyenangkan kali ini.


"Terima kasih atas makan malamnya." Aku menyampaikan terima kasihku padanya..


"Lain kali kita jalan lagi."


"Tentu." Aku menyukai pembicaraan kami kurasa. Tidak yang salah malam ini. Aku masuk ke lobby dengan senyum kecil.


"Emma." Aku menoleh, ini suara yang kukenal tapi kenapa dia ada disini?


"Colin? Kau ada di sini?" Ternyata benar itu dia. Dia menyusulku di lobby.


"Aku kebetulan lewat dekat sini. Aku membelikanmu makanan." Kali ini dia membawakan makanan Itali yang dia tahu aku suka.


"Terima kasih. Kau mau naik? Kau sudah makan."


"Kau kembali dengan seseorang tadi?" Dia tak menjawab pertanyaanku tapi malah bertanya kembali.


"Iya seseorang mengajakku makan malam."


"Pria?"


"Iya."


"Ohh, pacarmu?"


"Bukan hanya teman."


"Teman kantor?" Pertanyaaan yang bertambah detail.


"Iya Antonio yang membantuku memeras Dench. Kau sudah makan? Mau naik?" Aku akhirnya mengalihkan pembicaraan.


"Kupikir kau belum makan juga jadi aku membeli dua porsi."


"Ohh ayo naik, tak apa, aku bisa menemanimu makan." Aku tak apa tentu saja. Dia membiarkan aku menginap di apartmentnya berbulan-bulan tentu saja aku tak keberatan jika dia ingin makan malam sambil mengobrol di sini. Mungkin dia hanya ingin ngobrol sambil makan malam.


Aku menarik tangannya sekarang. Memintanya mengikutiku. Dia mengikutiku dengan rela.


"Apa aku tidak menggangumu."


"Kau ini menganggapku seperti orang lain saja. Aku sudah menganggapmu kakak." Dia tersenyum saja dengan kata-kataku.


Aku senang dia datang ke sini, tapi apa yang bisa kukatakan selain menganggapnya kakakku. Dia sudah punya kekasih yang dicintainya, aku hanya menjaga diriku tak berharap banyak. Di mana lagi aku bisa menemukan orang sebaik dia. Walaupun kadang aku bertanya juga kenapa dia sebaik ini.


"Hari Rabu, sudah dua hari tapi ada pekerjaan, baru selesai malam ini. Besok mengurus tim di sini. Thomas juga ikut datang besok."


"Apa ini penting sampai Thomas datang."


"Dia mau bicara dengan seseorang petinggi pemerintah US. Mungkin mengurus kasus juga, kasusnya bukan diurus oleh dia langsung. Ada pimpinan operasi, tapi dia bilang dia akan ke base kita dan mengobrol nanti."


"Begitu."


"Ada masalah belakangan?"


"Tidak. Aku hanya menikmati berita Herron belakangan. Tidak ada yang kulakukan soal mereka."


"Kau jadi mengajak Bibi dan Pamanmu liburan?"


"Iya aku sudah bilang tahun baru aku akan mengajak mereka ke London dan Paris. Akan menyenangkan. Tapi masih lama..."


"Antonio tadi akan menjadi kekasihmu?"


"Aku tak tahu, mungkin... Dia cukup baik nampaknya." Kenapa dia bertanya soal Antonio sekarang?


"Bagaimana Julie? Kalian baik?" Dia diam sebentar. Lama kemudian tak menjawabku, aku jadi penasaran. "Ada apa? Sesuatu terjadi?"


"Dia memilih orang lain." Ternyata, dia patah hati.


"Dia memilih orang lain?"


"Ya sudah kuduga sebenarnya. Tapi sudahlah." Cepat sekali, bukannya mereka baru saja menjadi kekasih. Kenapa secepat itu putus.


"Kau sudah menduganya."


"Tak usah di bicarakan lagi, kami memang tak berhasil." Jadi sekarang dia single. Tapi tetap saja alasan dia tak ingin kami berkencan dari awal adalah karena kami terlibat pekerjaan, jadi kurasa kali ini sama saja.


"Mungkin nanti kau akan bertemu seseorang yang lebih baik. Tak usah terlalu dipikirkan."


"Ya mungkin kau benar." Dia merenung sendiri sekarang. Kasihan juga, nampaknya dia sangat mengharapkan Julie itu. Gadis sempurna yang di impikannya bertahun-tahun.


"Jadi apa yang akan kulakukan. Kau tak mencoba merebut hatinya lagi. Mungkin dia akan tergerak oleh kesungguhan usahamu."


"Tidak, sudah cukup kurasa. Aku sudah banyak berusaha, masalah hati itu sulit dibalikkan."


"Bersabarlah, kau akan mendapatkan gantinya. Makanlah yang banyak, penyembuhan sakit hati adalah makan." Dia tertawa.


"Itu nampaknya rumusmu."


"Iya, aku suka menghabiskan es krim di kulkas dan setelahnya menyesal jika sedang bad mood akhirnya aku tambah badmood. Jadi sekarang aku tak punya eskrim lagi, aku menghindari membeli eskrim satu liter. Hanya ada yang 100 gram." Aku tertawa. "Kau mau..." Aku ke kulkas dan mengeluarkan stok es krimku.


"Kau memang punya banyak stok makanan enak heh?" Dia mengambil eskrim yang kutawarkan dengan cepat.


"Ada cheesecake blueberry, coklat juga. Ini hanya kumakan satu slice sehari. Kau juga kuberikan satu." Dia juga mengambil itu.


"Aku tak akan kelaparan terdampar di sini. Tak salah aku kesini untuk makan malam."


"Datanglah jika kau ingin. Tapi jika kau terlalu sering datang akan kutagih balik padamu karena menghabiskan stok makananku."


"Kau boleh menagihnya. Akan kubayar."


Aku meringis. Mana mungkin aku menagih padanya. Aku malah senang dia datang ke sini. Sekarang Julie hilang, apa dia pernah mempertimbangkan tentang kami?


Tapi kenapa dia senang ke sini.


Mungkin kami punya kesempatan di depan.


Aku terlalu takut berharap. Nanti aku manangis dan bertepuk sebelah tangan lagi.