COLD REVENGE

COLD REVENGE
Part 8. Suprise Tara! I See You.


Aku menunggu mobil Thomas bergerak kembali. Aku ingin tahu dimana dia tinggal di NY. Siapa dia? Itu yang terpenting.


Sudah malam hampir jam 7, aku mengikutinya, tidak bisa mengikuti aturan satu mobil di belakang. Karena aku tak punya panduan GPS aku mengikutinya kadang terlalu dekat kurasa, sampai aku sadar kemungkinan dia menyadari kuikuti, dia sering berbelok, aku juga tak mau indentitasku terbongkar jadi aku putuskan lebih baik menjauh.


Aku sudah punya profile indentitasnya, aku bisa menyelidikinya dengan cara lain. Aku berbelok dan mengambil jalan lain. Lebih baik aku menghindar. Kemungkinan aku akan melihatnya lagi kurasa. Kami menargetkan orang yang sama.


Kelaparan, aku kemudian mampir ke sebuah restoran Mexico yang sering kukunjungi.


Aku sedang menghabiskan fajitas dan saladku ketika seseorang duduk di depanku.


Thomas. Mataku terbelalak melihatnya di depanku. Sementara dia tersenyum kecil padaku.


Bagaimana mungkin dia bisa balik mengikutiku!? Aku terdiam memandangnya. Apa aku sebodoh itu, atau dia terlalu berbeda levelnya dariku.


"Halo Tara. Suprise, senang melihatmu lagi." Dia masih tersenyum padaku. "Kelihatannya enak. Sering makan di sini? Aku juga lapar sebenarnya." Dengan tenang dia duduk di depanku.


Dia berani muncul di sini, entah bagaimana dia sadar kami mungkin menargetkan orang yang sama. Pertama dia memergokiku mengawasi Charlie Herron sekarang aku mengawasi Dench yang ada hubungannya dengan Charlie Herron.


Dia belum tahu siapa aku, tapi dia mungkin punya kemampuan tahu siapa aku. Nampaknya dia yakin kami di pihak yang sama, mungkin dia ingin mencari motivasiku.


"Kenapa kau disini?" Aku mengajukan pertanyaan pertama.


"Kenapa kau mengikutiku?"


"Aku tidak mengikutimu." Dia diam sebentar. Menimbang perkataanku.



"Kau penasaran kenapa aku mengikuti Hans Dench? Kita buka kartu saja sekarang, kau mengikuti Hans Dench bukan. Terakhir bertemu kau juga mengawasi Charlie Herron. Kau tahu seharusnya kita tidak berada di pihak yang berseberangan."


"Kau bukan US citizen bukan?" Dia harus menjawab pertanyaanku dulu.


"US citizen? Memang bukan. Kau langsung tahu aku bukan US citizen, kau punya akses data? Tapi caramu menguntit sangat jelek, kau sama sekali tak bisa menguntit." Dia mengataiku dan menertawakanku menyebalkan. Aku memang bukan agen lapangan. Aku Behavioral Analysis Unit , bekerja dengan bicara di depan tersangka, menganalisis perilaku.


"Tidak, aku ke sini hanya membelikanmu makan malam, aku juga lapar. Kutraktir oke." Dia sedang bermain tarik ulur denganku sekarang. Bersikap baik untuk mendapatkan informasi.


Dia memesan makanannya sendiri sekarang. Aku membiarkannya, mungkin benar dia dan aku berada di pihak yang sama. Dan nampaknya dia benar-benar kelaparan.


"Kau mau pesan sesuatu, aku yang akan membayar, pertemuan pertama aku tak bisa mentraktirmu, tapi ini pertemuan kita yang kedua. Aku menganggap ini keberuntungan sekarang." Dia tersenyum, senyumnya menarik. Pria ini memang tampan. Dan nampaknya dia sangat tahu memanfaatkannya.


"Kau memang bermulut manis. Baiklah, aku mau dessert." Aku menerimanya, setidaknya dia sudah tahu kami sama-sama punya target yang sama.


Aku memesan desseŕt yang kuinginkan, dia langsung membayar makanan kami.


"Restoran ini enak. Aku akan kembali jika nanti aku lewat sini." Dia makan dengan lahap, dan nampaknya tidak merasa terancam denganku.


"Sudah lama di sini?" Aku mencoba mencari tahu citizenship-nya. Dia tidak punya aksen, NY accentnya bagus. Jika dia bukan US citizen tapi melakukan aktivitas spying di US, kurasa dia orang pemerintah entah pemerintah mana, dia langsung menebak tadi aku punya akses data. Dia familiar dengan sistem.


"Belum." Dia menjawabku sambil makan. "Tapi aku sering disini. Aku kelaparan, tadi cuma minum kopi. Lama sekali dia di cafe itu, tadi lebih baik aku makan dulu."


"Kenapa kau mengikutinya."


"Hmm dia melakukan hal tidak baik. Kau tak tahu?" Hal yang tak baik, kurasa semua keluarga Herron melakukan semua hal tak baik di belakang layar. Hal itu sudah ada dalam darah mereka.


"Hal semacam apa?"


"Bukankah harusnya kau yang lebih tahu?" Dia malah bertanya padaku. Dia punya informasi soal apa yang dilakukan Dench, tapi catatannya di kami bersih. Aku tak bisa mengoreknya jika aku tak bisa memberinya keuntungan. Pertanyaannya apakah aman memberinya informasi.


"Paspormu?" Apa dia berani memperlihatkan paspornya. Dia tersenyum kecil.


"Cara kerjanya tak bisa begitu Nona Tara yang cantik, jika itu nama aslimu. Aku tak bisa memperlihatkan pasporku. Jika aku memperlihatkan pasporku maka kau harus memperlihatkan IDmu. Jika aku menawarkan informasi kau juga harus menawarkan informasi. Aku harus bisa mempercayaimu. Dan kita bisa kerjasama. Jadi katakan padaku apa kau ingin menjatuhkan Charlie Herron? Jika iya kau dan aku bisa berkerjasama." Dia langsung ke penawarannya.


\=\=\=\=\=\= bersambung besok