COLD REVENGE

COLD REVENGE
Part 27. Dinner Invitation


"Jadi ini bukan lagi tentang dendam pribadimu Emma, ini masa depan jutaan remaja yang mungkin akan hancur jika kita gagal. Mungkin puluhan ribu orang akan jatuh kecanduan jika kau dan aku mengacaukan operasi ini... Kau mengerti."


"Iya baiklah Thomas, aku tak akan mengacaukan apapun. Aku disini untuk membantumu." Sekarang aku menenangkannya.


Dia menghela napas mendengar jawabanku.


"Video yang kau kirimkan kemarin memang membantu. Kami mencurigai salah seorang pria di videomu itu sebagai tangan kanan saudara laki-laki Assad dari kebangsaannya. Dia tinggal di Yordania, sekarang kami sedang mengawasinya. Tapi lain kali jangan muncul sembarangan lagi. Apalagi Dench itu sudah pernah melihatmu."


"Iya, aku mengerti. Aku sudah bilang jika aku mencurigai sesuatu aku akan memberitahumu, kemarin aku hanya penasaran dengan klub yang disebutkan oleh tetanggaku. Bukan aku sengaja mencari Herron family."


"Baiklah, bagaimana pekerjaanmu. Kudengar sedang santer soal penembakan orang gila di DC kemarin. Negaramu selalu punya orang gila yang senang membawa senjata untuk menembaki orang-orang."


"Ya tak bisa disangkal, kami selalu punya orang gila yang senang membawa senjata. Sudah ditangkap..." Aku menceritakan bahwa aku yang bekerja untuk profilingnya.


"Ternyata begitu. Kau nampaknya punya karier yang brilliant di BAU. Kau bisa membongkar pikiran manusia dengan mudah nampaknya."


"Kami mencoba Sir. Ya kadang kami juga bisa salah jika ada anomali terjadi, walaupun kebanyakan profilling kami mendekati."


"Hallo, maaf aku terlambat..." Collin yang sekarang duduk di depanku. Dia tersenyum padaku. Sekarang dia memakai baju kerja dan jas. Kontradifktif, dia nampaknya seorang pebisnis tapi dia juga agen.


"Kau punya semacam pekerjaan nine to five Tuan Colin?" Aku penasaran, dia berbeda sama sekali dari terakhir kutemui. Kupikir dia dari kemiliteran atau seorang pelatih di sebuah pasukan elit, sesuatu seperti itu, tapi ternyata tebakanku salah, dia malah punya pekerjaan kantoran?


"Kupikir kau semacam pelatih bela diri yang tersesat di London." Dia meringis dan tertawa.


"Dan kau ternyata FBI. Kupikir kau semacam model yang suka berpergian ke berbagai negara." Ohh dia menyangka aku model, nampaknya dia punya banyak pengalaman dengan model. Apa pacarnya seorang model.


"Pacarmu model rupanya." Itu hanya pertanyaan tebakan, aku hanya mencoba keberuntungan karena dia yang memulai membawa topik itu, jika dia memulainya dia pasti punya hubungan dengan lingkungan model sedikit atau banyak, terlepas dia sudah tahu aku bekerja di FBI. Tapi sesaat dia berpikir, tidak mencoba langsung menyanggahku seakan itu kesalahan.


** Red: Cerita ini sebelum jadian sama Julie ya


"Aku tak punya pacar." Dia menjawabku kemudian. Itu jujur dia berani menatap mataku, tak ada mikro ekspesi yang mengatakan dia berbohong, tapi kerena dia menebak aku model tetap dalam dalam tebakan pertama kusimpulkan dia pernah punya hubungan dengan model. "Apa gadis ini suka mengorek orang langsung di pertemuan pertama? Kau sudah pernah dikorek olehnya Thomas?" Aku tertawa karena dia langsung menunjukku dan merasa terancam hanya karena aku bertanya satu kalimat.


"Kurasa dia bisa menilai kebenaran kata-katamu hanya dari satu kalimat dan melihatmu salah tingkah." Thomas menjawab Colin dengan senyum dikulum.


"Apa yang kau bisa simpulkan dari kata-kata tadi? Aku berbohong atau tidak." Sekarang Colin penasaran, tapi aku tak akan membiarkan dia mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya.


"Itu rahasia pekerjaan. Aku tak akan berbagi denganmu." Thomas tertawa dengan jawabanku. "Kenapa kau di sini? Kau menakar kesempatan atau kau punya bisnis denganku." Aku melanjutkan pertanyaanku.


"Hei Nona Emma, kau harusnya berterima kasih aku mengurangi 3 hari pelatihanmu. Aku tak mencoba mencari kesempatan." Giliranku yang tersenyum pada si tampan ini.


"Ohh kau yang memotongnya. Terima kasih jika begitu." Aku merasa lucu dengan pembicaraan ini. Aku sebenarnya hanya ingin bermain-main, tapi Colin menganggapnya terlalu serius sementara Thomas tahu aku hanya memanfaatkan aura intimidasiku sebagai criminal psychologists.