COLD REVENGE

COLD REVENGE
Part 69. London


"Kau punya kekasih?"


"Orang UK?" Aku memberitahu Bibi saat aku kembali ke rumahnya.


"Iya."


"Dia akan menjemput kita waktu kita mendarat di London nanti. Ibunya mengundang kita makan malam."


"Itu berita yang sangat bagus. Bibi sangat gembira mendengarnya, akhirnya setelah bertahun-tahun berharap ini akan terjadi." Senyuman lega di wajahnya membuatku sejenak menyadari bahwa dia benar-benar bahagia mendengar ini.


"Bagaimana kau bisa bertemu dengan bangsawan UK." Paman bergabung dengan obrolan di meja makan itu.


"Dia bukan bangsawan Paman." Aku tertawa sekarang. "Dia pengusaha yang sering ke USA." Aku menceritakan sedikit bidang usahanya dan kami bertemu dari teman.


"Itu sangat bagus. Kau bisa pindah ke sana, punya kehidupan baru. Kami punya seorang keluarga di Eropa." Aku mau tak mau tersenyum mendengar kata-kata mereka.


"Bibi, kami baru mencoba berjalan, aku tak tahu apa ini akan berhasil."


"Dia nampaknya sangat serius dengan hubungan kalian. Paman yakin kau bisa mengandalkannya. Kau tak usah ragu Paman rasa."


Akhirnya kami terbang ke London untuk liburan. Siang itu saat kami sampai ke London. Dia terlihat melambai padaku di pintu penjemputan. Aku melihatnya dengan rasa rindu membuncah, kami enam hari sudah tak bertemu.


Aku bisa merindukannya, karena dia kekasihku. Rasanya memang berbeda, dari yang hanya bisa mengharapkannya dari jauh dan harus menekan perasaan. Saat melihatnya melegakan, biasanya itu menyedihkan.


"Bagaimana perjalananmu, pasti melelahkan." penerbangan 10,5 jam non stop itu memang melelahkan. Dia memelukku seperti sudah terbiasa melakukannya sementara aku masih kaku menerima pelukannya. Bibi dan Paman tersenyum melihat kami.


"Nyonya dan Tuan senang bertemu kalian. Saya Colin Knight, selamat datang di London." Sekarang dia memberi salam kepada Paman dan Bibi.


"Kau tampan sekali anak muda. Aku tak menyangka keponakanku akan mendapatkan kekasih dari seberang lautan."


"Tentu saja kami akan mendukungmu. Kau dan Emma kelihatan sangat bahagia. Kau orang pertama yang dikenalkan pada kami. Bagaimana kami tak mendukungmu." Bibi bicara panjang lebar dan membuatku malu sekarang.


"Kami masih sering saling bertengkar dia bukan orang yang sabar."


"Nyonya benar, dia bukan orang yang sabar. Apalagi soal..." Langsung ku senggol Colin bagaimanapun aku tak mau membicarakan soal Dench di depan Bibi. "Apalagi soal pekerjaannya." Nampaknya dia mengerti apa yang kumau.


"Ah, dia dari high school sudah ingin masuk ke FBI, dia sangat membela pekerjaannya itu, entah bagaimana kau mempengaruhinya. Dia pasti sangat mencintaimu." Bibi menepuk bahu Colin dengan senang.


Colin mengantar kami ke hotel untuk beristirahat. Nanti mala


"Selamat datang ke London sweetheart. Senang bisa melihatmu lagi. Aku merindukanmu." Dia memelukku lagi kali ini.


"Aku merindukanmu." Aku membalas pelukannya tanpa ragu sekarang.


"Ada masalah selama kita tak bertemu?"


"Tidak, kurasa karena orang yang kau suruh itu langsung menelepon mereka. Sekarang mereka punya masalah untuk ditangani tak diragukan lagi."


"Tidur mereka tak akan tenang mulai dari sekarang. Tapi ini giliranmu berlibur dengan tenang. Kita akan ke Paris bersama, aku tak sabar menghabiskan liburan bersamamu." Sebuah ciuman membuatku memeluknya lebih erat sekarang.


"Kau tinggal jauh dari sini."


"Tidak jauh, besok malam kau harus ke rumahku. Tapi malam ini aku membiarkanmu beristirahat dengan tenang tanpa gangguan. Pasti sulit beristirahat dengan benar di pesawat."


Aku harus mengulum senyumku. Nampaknya banyak yang akan terjadi besok. Tapi pertama aku harus bertemu dengan Ibunya