
Apa yang harus kujawab? Apa ini pancingan saja. Ponsel ini memang terdaftar atas nama Emma Wright. Apa aku harus mengubah penampilanku ke Emma Wright sekarang, Tara tak boleh muncul lagi.
"Siapa? Kau kelihatan terganggu?"
"Dench,..." Aku menjawab dengan pelan pada Colin.
"Ada apa kau meneleponku Dench?"
"Kau bekerja di LA sekarang."
"Tidak. Aku tidak di LA, aku masih di New Jersey. Kenapa kau tiba-tiba menelepon? Ada urusan apa?"
"Kau bekerja di mana sekarang?"
"Bukan urusanmu aku bekerja di mana. Kenapa kau meneleponku? Kudengar kau menelepon Bibiku?"
"Kurasa aku melihatmu kemarin di LA, aku ingin mendengar bagaimana kabarmu setelah sekian lama." Omong kosong manis bersalut gula ini. Dia pikir aku akan diam saja.
"Kau bekerja di mana sekarang Paman Dench?" Aku ingin tahu bagaimana dia menjawab ini.
"Aku masih di LA, masih sebagai pengacara tentu saja. Aku sudah punya kantor sendiri di Bungker Hills." Dia menyebutkan kawasan mahal untuk kantor-kantor ternama di LA. Dia malah pamer denganku membuatku muak dan suara tenangnya membuat amarahku naik.
"Aku tahu kau sudah punya kantor sendiri, bahkan aku juga tahu kau adalah partner legal keluarga Herron. Kau bekerja di orang yang membunuh Ayahku. Kau memang ular, rupanya kau yang membunuh Ayah, kau pikir aku tak tahu?! Tapi kau berani meneleponku!?" Kali pertama aku meluapkan kebencianku setelah lima belas tahun. Colin langsung melihat padaku, tapi aku tak perduli. Kepalaku sudah panas begitu mendengar suaranya.
"Kau salah paham, dari mana kau mendengar itu. Ayahmu terbunuh karena perkelahian geng dalam penjaran dan aku tidak bekerja untuk Herron." Bajingan ini masih berusaha menyangkal apa yang dilakukannya dan memuntahkan kebohongan di depanku.
"Hentikan omong kosongmu bajingan! Mendengar suaramu saja membuatku muak! Harusnya kau mati saja! Bangsat! Tak usah meneleponku lagi!"
Langsung kumatikan panggilan itu. Jika tahu aku mengincarnya. Ohh aku tak perduli lagi sekarang.
"Kau pikir dia punya waktu mengurusku sekarang, mengurus dirinya sendiri dia kesusahan."
"Kau tak usah menantangnya seperti itu."
"Dan kau tak tahu rasanya menunggu lima belas tahun." Langsung kujawab dia.
Semua dari kami diam. Aku tahu dia benar, harusnya aku lebih baik tidak membalas seperti itu. Tapi bangsat Dench itu yang salah kenapa aku yang harus ketakutan. Dunia sungguh tidak adil.
"Aku tahu aku salah." Akhirnya sekarang aku menyesal menuruti lonjakan emosiku. "Maaf aku membentakmu."
"Kau memang benar, dia sedang kesusahan membela dirinya sekarang. Tapi dia bukan orang bodoh. Cohen itu detektif senior, dia masih punya banyak cara untuk membantu Dench. Begini saja, sekarang masukkan data keuangan Dench dan Cohen ke temanku. Kita akan pastikan mereka sibuk. Camilla akan segera mengurus ke DEA Senin ini."
"Iya kukirim padamu hari ini." Aku merasa bersalah membentaknya sekarang.
"Maafkan aku."
"Tak apa, kau benar aku tak tahu rasanya menunggu sampai lima belas tahun. Sudah terjadi, kita maju saja. Jangan terlalu tegang, yang harus tegang itu mereka sekarang."
Colin malah menenangkanku. Seakan yang tadi bukan apapun.
"Sebentar lagi kau liburan, kau ada yang mau kau beli lagi, kita bisa mampir ke pusat perbelanjaan, sudah mencari kado untuk keluargamu? Ayo kutemani."
"Iya baiklah." Aku melihat padanya. Entah kenapa Colin sabar sekali padaku. Kadang aku tak tahu apa yang harus kukatakan padanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=