
POV Collin
Dia terlalu banyak minum, bicaranya sangat lancar. Dia menangis dan tertawa saat bersamaan. Gadis ini membawa beban balas dendamnya dari usia belasan tahun. Tindakannya yang kadang-kadang tidak memikirkan resiko sesuai dengan apa yang dia tanggung selama bertahun-tahun.
Aku tak bisa menyalahkannya kadang, seperti kataku aku hanya bisa mengawasinya menjaga tindakannya tidak membahayakan operasi yang penting baginya sendiri.
"Apa aku terlalu cengeng?" Dia menyelesaikan tangisnya. Menghapus air matanya, walaupun tetap menyender padaku.
"Kau terlalu keras dengan dirimu sendiri."
"Benarkah." Sekarang dia tertawa kecil. "Senior, kau memang manis. Yang bilang kau Coldlin itu tidak mengenalmu dengan baik. Kau sebenarnya baik hati. Semoga kau nanti bersama dengan Julie-mu." Aku tak menjawabnya hanya melihatnya bersandar di lenganku.
Dia bahkan menghindari hubungan serius dengan orang lain karena dia ingin menyelesaikan dendamnya dengan tangannya sendiri. Padahal gadis secantik ini pasti banyak yang mengejarnya, tapi dia memilih jalan sulit sejak awal. Ayahnya dibunuh dan Ibunya bunuh diri, kenyataan apa yang lebih pahit dari itu, bertahun-tahun mengingat dendam dan tak bisa lari.
Aku melihatnya memejamkan matanya. Tak lama dia tertidur begitu saja, bekas air matanya mengering di sudut matanya. Kurasa dia tidak akan ingat apa yang dia bicarakan denganku malam ini.
Kami sampai ke apartmentnya 20 menit kemudian. Aku mencari kunci dan kartu aksesnya dalam tasnya.
"Emma, bangunlah." Aku bergeser ke sisi lain mobil, menepuk pipinya agar dia terbangun dan akan menuntunnya untuk berjalan.
"Hmm... Kita sudah sampai." Sekarang dia membuka matanya.
"Iya. Ayo kuantar ke atas."
"Kurasa aku akan muntah, rasanya tak enak." Dia berjalan dengan berpegangan padaku.
"Sudah kubilang kau minum terlalu banyak."
"Apa aku menyusahkanmu Senior, maafkan aku. Kau tak akan bilang ini ke Thomas bukan." Aku mau tak mau tersenyum.
"Gaji itu untuk pensiunku." Dia sudah memikirkan pensiunnya, nampaknya dia sudah punya map apa yang dia akan lakukan di hidupnya sampai beberapa puluh tahun ke depan. Pria tak termasuk dalam agendanya.
"Carilah pria kaya, kau bisa melakukannya. Kau tak perlu khawatir dengan pensiun."
"Maksudmu seperti Gerald Herron, aku lebih baik hidup sendiri. Tapi aku bersedia jika dia semanis kau." Dia tertawa sendiri, gadis cantik ini jadi terlalu jujur sekarang. Aku sedikit tersanjung atas perkataannya.
"Semoga kau menemukannya kalau begitu. Ayo jalan pegangan padaku, perhatikan jalanmu."
"Iya, semoga aku menemukannya."
Kami melewati lobby untuk mengakses lift penghuni. Seseorang memperhatikan kami. Aku melihatnya, aku mengenal orang ini. Dia yang bernama Robert, di laporan kasus ada orang ini. Kami masih perlu kerjasamanya di kasus Herron.
"Emma, kau baik-baik saja." Dia tahu Emma tipsy.
"Ohh Robert, aku baik-baik saja, hanya minum terlalu banyak, aku naik ke atas dulu."
"Mau kuantar saja?" Robert bertanya sekarang.
"Tidak, biar aku saja yang mengantarnya. Dia bersamaku." Emma cerita tentang latar belakang pekerjaannya, aku tidak percaya padanya dengan latar belakang pekerjaannya. Bisa saja dia memanfaatkan situasi.
"Ayo Emma." Kulangkahkan kakiku dan Emma juga melangkah dia ingin muntah nampaknya.
Tak lama untuk mencapai unitnya dia melangkah cepat ke kamar mandi. Aku mengambilkannya minum.
"Kau baik?" Dia menerima air yang kuberikan padanya.