COLD REVENGE

COLD REVENGE
Part 32. Temporary Escaping


"Aku turut berdukacita Nona. Aku akan bicara dengan rekanku dulu." Kali ini dia sudah berhasil mengeluarkan air matanya dan menangis tersedu-sedu di depanku sampai bahunya berguncang. Tapi seperti biasa aku sudah kebal dengan air mata sejak bekerja di sini.


"Nona Emma bagaimana menurutmu, apa ada keanehan?" Detektif menungguku di luar ruangan dengan kamera pengawas menyala ikut mengukuti jalannya wawancara


Mereka tidak bisa menemukan bukti apapun, tidak ada bukti pintu di buka paksa seperti perampokan biasanya, walaupùn banyak barang hilang dan diambil seperti perampokan. Tapi para tetangga terdekat tidak ada yang merasakan keanehan.


"Dia terlalu detail, dia merencananakan semua ini. Coba periksa apa ada motif uang asuransi di balik ini, periksa dengan siapa dia berhubungan, siapa yang dekat dengannya, lalu periksa catatan ponselnya terutama jika dia punya kekasih, mungkin sekali kekasihnya yang mengatur semua ini, untuk mendapatkan keuntungan, entah dia dibodohi atau dia yang merupakan otaknya kau harus mengoreknya. Yang jelas wanita itu sangat mencurigakan." Aku menjelaskan dengan lengkap apa dasar kecurigaanku, dua detektif itu mendengarkan sambil aku menunjukkan scene-scene yang kucurigai.


"Benarkah?" Sekarang dua detektif ini juga tak percaya bagaimana anak teladan itu bisa melakukan semua ini. Dari yang tidak dicurigai sekarang diawasi diam-diam adalah perubahan yang sangat jauh tentu saja.


"Lepaskan saja dia untuk sementara, biarkan dia lengah. Tapi tetap awasi dia sambil kalian dengan teliti memeriksa latar belakangnya. Aku tak tahu motovasinya tapi kalian kurasa harus bertanya pada teman, saudara, bagaimana hubungannya sebenarnya dengan keluarganya. Pasti ada yang salah dengan anak teladan ini. Mungkin ada pertengkaran besar atau tekanan bertahun-tahun yang mengakibatkan dia mengambil tindakan ini." Aku memberi rekomendasi.


"Kami mengerti Nona. Kami akan melakukan banyak wawancara dalam beberapa hari ke depan. Terima kasih atas bantuan Anda."


"Sama-sama Sir." Aku selesai dengan pekerjaan profillingku hari ini.


Aku mengarah ke kantor kembali, masih sore, aku harus menyiapkan laporan peķerjaan. Jam kantor masih lama berakhir.


Antonio menyapaku di lobby, nampaknya dia juga baru dari luar.


"Dari kantor polisi wilayah?"


"Iya."


"Kasus apa?"


"Pembunuhan, nampaknya oleh anak sendiri." Aku yakin anak perempuan itu terlibat, entah di pengaruhi, atau entah dia yang merupakan otak utamanya.


"Yah manusia, mereka bisa melakukan apapun, dari paling baik ke paling kejam. Ada kabar soal bisnis kita?" Aku mengubah pembicaraan.


"Hmm... dia menawar membayarku 4 juta dari jumlah yang kuinginkan 10 juta. Bagaimana menurutmu?"


"Tahan hargamu, buat dia tidak bisa tidur, menyerahlah di 8 juta."


"Lalu kau ingin apakan uangnya?"


"Aku ingin menerornya dan sugar babynya dengan uangnya sendiri."


"Hmm... jadi kau ingin membuatnya sakit kepala, hidup tak tenang."


"Benar sekali." Antonio meringis mendapatkan jawabanku. "Jangan menilaiku, aku memang bukan malaikat pemaaf."


"Aku tak menilaimu. Aku mengerti, terserah apa yang ingin kau lakukan." Dia berhenti sebelum dengan tak yakin bicara. "Mau makan malam kali ini aku yang traktir." Si tampan ini mau mengajak makan malam. Mungkin dia bisa dipakai untuk menyingkirkan Robert Castello nanti.


"Boleh. Aku tak keberatan."


"Jika begitu tunggu aku nanti jam 7 malam oke."


"Sampai jumpa jam 7." Aku mendapatkan penyelesaian sementara masalah untuk kabur. Lagipula Antonio jauh lebih tampan dari Robert.


Cukup untuk alasan menyingkirkan Robert.