
Ponselku berbunyi dari tasku, alarm jam 6.45. Aku membuka mata, ini kamarku. Aku ingat Colin semalam mengantarku pulang.
Ingatanku berkabut. Aku hanya ingat samar pembicaraan kami di mobil. Setengahnya kurasa aku pasti bicara terlalu jujur semalam. Aku pasti meracau dan bicara terlalu banyak padanya. Apa ada yang menyinggungnya? Tapi kurasa dia bukan orang yang mengambil hati.
Aku bangun, dengan kepala yang masih pusing, sekarang aku perlu kopi dan makanan untuk menormalkannya.
Saat aku keluar pintu kamar, aku tahu ada yang salah, wangi sarapan? Bagaimana mungkin sudah ada wangi sarapan di dapurku. Apa ada seseorang yang memasak? Colin? Dia tidur disini? Kenapa dia tidur di sini, berbagai pertanyaan berputar di kepalaku.
"Selamat pagi. Sebentar lagi sarapannya siap, kau punya banyak makanan di kulkas." Colin ada di dapur, dengan baju kaus dan celana pendek menyiapkan sarapan. Aku mematung melihatnya dia benar-benar disini?
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Ehm, membuatkanmu sarapan." Aku jelas tahu itu, dia sengaja tidak serius menjawabku, tersenyum-senyum dan bermain-main menjawabku.
"Apa kau tidur di sini? Kenapa kau tak pulang?" Aku melihat bajuku sudah berganti piyama. Ini aku yang menganti sendiri atau dia, jangan-jangan... Dia melihatku bertanya tapi belum menjawabku.
"Apa kita melakukan sesuatu? Kau tidur di mana?" Dengan pikiran terburuk aku bertanya. Dia melihatku dan tersenyum, senyumnya membuat perasaanku tak enak.
"Kau yang memulai duluan, jangan menyalahkanku." Aku tak percaya apa yang kudengar. Walaupun aku menginginkan kencan dengannya, tapi kencan yang tak kuingat tidak termasuk dalam rencanaku. Kupikir dia tidak akan ... melakukan semua ini.
"Tenanglah tidak terjadi apapun. Aku bukan pria ban*gsat yang memanfaatkan keadaan. Kau pikir aku gila, kau akan melaporkanku ke Thomas. Duduklah. Ini kopimu..." Dia menunjuk meja makan dan memberikan toast, telur, sosis dan bacon. Dia juga menghangatkan lasagna yang ada di kulkas. Rupanya dia sangat menyukai lasagna itu.
Aku duduk di depannya. Merasa dan bernapas lega bahwa aku masih bisa mempercayainya. Senior ini memang orang baik dan bisa dipercaya.
"Kenapa kau tidak pulang? Semalam aku hanya ingat percakapan di mobil, apa aku bicara terlalu banyak? Kenapa kau perlu tidur di sini. Pintu itu akan terkunci walaupun kau menutupnya dari luar." Tapi kenapa dia perlu menungguiku, pintuku akan terkunci otomatis tanpa dia perlu mengkhawatirkanku.
"Semalam tetanggamu mau mengecek keadaanmu sendiri sampai kesini, dia bertemu kita di lobby, aku putuskan mengawasinya. Mungkin dia punya keterampilan khusus membuka pintu tanpa pengaman dalam."
"Maksudmu Robert? Dia mengetuk pintuku semalam?" Aku juga takut dia melakukan hal seperti itu. Makanya aku memastikan kunci pengaman tambahan selalu terpasang.
"Hmm dan aku mengancamnya agar jangan kembali. Aku mengaku jadi kekasihmu, kau bilang kau mengakui kau sudah punya kekasih bukan."
"Iya. Terima kasih untuk itu." Robert mengecek sampai ke kamarku. "Kau tidak terlambat pergi bekerja?"
"Tidak, pertemuan hari ini ada di jam makan siang, tak apa."
Aku tersenyum, dan melihatnya sibuk di dapur membuatkan sarapan, kenapa dia sebaik ini, dia bahkan bersedia tidur disini karena khawatir Robert mengangguku. Andai dia belum punya wanita yang di cintainya, mungkin aku akan berkeras mengejarnya. Julie itu sangat beruntung punya pengagum seperti ini.